
Pukul sembilan pagi waktu Indonesia barat, pesawat yang Richard tumpangi mendarat sempurna di bandara internasional Soekarno-Hatta. Kedatangan Richard sudah di sambut oleh beberapa anak buahnya.
Ada juga awak media yang memotret kedatangan Richard untuk di jadikan bahan gosip. Tapi bukan Richard namanya kalau dia membiarkan hal itu terjadi begitu saja.
Richard tidak akan membiarkan orang yang menjadikan dirinya sebagai sumber uang bagi mereka.
"Ethan kamu tahu apa yang harus kamu lakukan." ucap Richard pada Ethan yang berada di sampingnya.
"Iya tuan." balas Ethan.
Richard masuk ke dalam mobilnya sedangkan Ethan pergi untuk membereskan apa yang terjadi.
"Kontrakan nona Diandra." ucap Richard dingin pada sopirnya.
"Baik tuan." balas pak sopir dan langsung menjalankan mobilnya menuju alamat di mana Diandra tinggal.
Sampai di sana Richard langsung turun dari mobil. Beruntungnya kondisi sekitar kontrakan Diandra saat ini sedang sepi, jadi aman untuk Richard datang ke sana.
"Apakah dia ada di rumah?" tanya Richard.
"Ada tuan, saya sudah menghubungi mata mata yang anda perintahkan kemarin, dan mereka bilang nona Diandra belum ada keluar dari kontrakan." jelas pak sopir.
"Silahkan kamu pulang dulu, suruh Ethan kirim mobil ke sini. Saya mau istirahat di sini sebentar." perintah Richard.
"Baik tuan."
Richard melangkahkan kakinya mendekati pintu kontrakan Diandra. Saat dia akan membukanya ternyata pintu itu masih terkunci rapat.
Richard yang memang sudah mendapatkan kunci serepan dari pemilik kontrakan itu pun langsung masuk dan mengunci pintu itu dari dalam.
"Lihatlah, dia malah enak enakan tidur seperti tidak merasa bersalah sedikitpun." smirk Richard saat melihat tubuh Diandra yang masih bergelung di bawah selimut miliknya.
Richard pun melepaskan semua pakaiannya dan hanya menyisakan ****** ***** yang ketat dan masuk ke dalam selimut milik Diandra untuk ikutan tidur.
Richard merasa tubuhnya akhir akhir ini terasa sangat lelah, mungkin dia butuh istirahat yang nyaman. Seperti saat ini dia yang tiduran sambil memeluk Diandra dari belakang menghirup aroma wangi rambut Diandra yang sangat menyenangkan dan satu lagi, tangannya yang bertengker di kedua buah milik Diandra yang sangat Richard rindukan tiga hari ini.
Diandra yang semalam terbangun dan tidak bisa tidur sampai subuh pun tidak sadar kalau sekarang dirinya sudah berada dalam pelukan hangat seseorang yang mulai dia rindukan keberadaannya.
__ADS_1
Mereka berdua tertidur layaknya pasangan suami istri.
...**...
Sementara itu, saat ini Ertha sudah menangkap Radit selingkuhan Diandra atas perintah dari Richard. Richard tidak akan membiarkan orang yang sudah berani memegang tubuh Diandra seujung rambut pun untuk hidup berkeliaran dengan tenang. Sudah pasti Richard akan membuat salah satu dari anggota tubuh Radit menjadi koleksi barang barang mewahnya.
"Apakah dia masih hidup?" tanya Ethan pada anak buahnya yang sudah berhasil menangkap Radit.
"Masih tuan, kami hanya memberikannya obat bius saja. Nanti setelah lima jam reaksi obat itu akan hilang dan dia akan kembali sadar tuan." jelas salah satu dari anak buah Ethan.
"Kerja bagus, bawa dia ke markas. Dan ingat jangan lupa kasih makan sesuai yang saya perintahkan sebelumnya."
"Baik tuan." balas mereka.
Setelah memastikan semuanya beres, Ethan pun pergi menuju kontrakan Diandra untuk mengantarkan mobil buat tuannya yang tengah enak enakan di sana.
"Keknya saya harus cari cewek juga deh, biar bisa enak enakan seperti taun Richard." gumam Ethan dari dalam mobil.
"Ahh tapi kalau saya deket sama cewek saya bisa pusing mikirin kemauan mereka yang tidak ada otak."
"Buset dah sampai aja nih mobil, perasaan tadi masih di tengah kota."
Ethan pun turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir kontrakan Diandra. Ethan menitipkan kunci mobil pada tukang parkir yang ada di sana, setelah itu dia langsung pergi menuju apartemennya karena tubuhnya juga sudah lelah sama seperti Richard.
...**...
Matahari sudah tepat berada di atas kepala, itu menandakan sudah pukul dua belas siang. Sepasang kekasih itu masih enak bergelung di bawah selimut. Tidak ada tanda-tanda akan bangun di antara mereka berdua.
Lihatlah sekarang posisi mereka, Diandra menghadap kearah Richard dengan tangan Richard sebagai bantalnya. Dan kepala Diandra yang dia tenggelamkan pada dada bidang Richard yang polos tanpa ada kain yang menghalangi.
"Eemmhh...." lengkuh Diandra merubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Richard lagi.
"Uuh...." keluh Richard dan membuka matanya saat merasa adiknya di bawah di geser.
"**1*. Nih anak suka banget goda iman saya. Ini juga ngapain baperan sih." ngedumel Richard.
Diandra yang merasa terusik oleh suara Richard pun berbalik badan dan perlahan membuka matanya.
__ADS_1
"Indah banget sih mimpinya, ini nyata atau mimpi sih. Kalau ini mimpi aku gak mau bangun deh. Maunya di peluk terus." gumam Diandra dengan suara khas bangun tidur.
"Ganteng banget sih pacar aku, coba aja kalau orangnya ada di sini sudah aku kasih sisi dia." racau Diandra yang membuat Richard ingin tertawa.
"Mana susunya, coba aku mau lihat udah sebesar apa sih." balas Richard.
"Nih udah besar banget, nanti kalau kurang besar di remes remes lagi aja." balas Diandra sambil matanya masih setengah terpejam.
"Ehh emang dalam mimpi bisa ngobrol ya?" bingung Diandra.
"Nih."
"Aahh." des4h Diandra saat tangan Richard dengan nakal merem4s buahnya dengan keras.
"Gimana masih ngira kalau ini mimpi hmm?" tanya Richard.
"Ini beneran, ini beneran kamu?" tak percaya Diandra.
"Iya sayangku, ini aku Richard pacar kamu." balas Richard.
"Kok kamu bisa masuk, terus kamu juga kapan pulangnya?" tanya Diandra.
"Ya bisalah, apa yang aku gak bisa lakuin. Kenapa kalau aku pulang, takut gak bisa main di belakang aku lagi hmm?" tanya Richard.
"Ma-main ?" gagap Diandra.
"Iya main sama si Radit Kusuma, pengusaha muda Indonesia." jelas Richard.
"Kamu salah faham, aku lakuin itu karena aku...."
"Ssttt... sudah jangan bahas dia sekarang. Aku mau nagih ucapan kamu. Mana susunya katanya tadi kalau aku ada di sini mau di kasih." potong Richard.
"Hah, susu apa?" bingung Diandra.
"Kan kamu sendiri tadi yang bilang, kalau aku ada di sini bakal di kasih susu. Terus kalau susunya kurang besar tinggal di remes remes aja." jelas Richard membuat Diandra ingat dengan apa yang dia katakan tadi.
...***...
__ADS_1