Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTP#64


__ADS_3

Diandra menyuapkan satu sendok kue ke mulutnya. Rasanya sangat lembut dan manisnya terasa pas di lidah Diandra.


Saat Diandra mengunyah kue itu, terasa ada yang keras di dalam mulutnya. Diandra pun mengambil benda keras itu dan melihatnya.


"Ini...."


Richard berdiri dan berjongkok di depan Diandra. Richard menggambil benda yang ada di tangan Diandra dan....


"Will you marry me?" ucap Richard membuat air mata Diandra jatuh.


"Maaf aku belum bisa seperti cowok cowok di luaran sana yang berucap romantis. Aku gak bisa memberikan kata kata yang romantis buat melamar kamu. Jadi aku langsung ke intinya saja, kamu mau gak menikah denganku menjadi istri aku dan menjadi ibu dari anak anak aku." ucap Richard sambil memegang cincin yang Diandra makan tadi.


Ya, Richard meletakkan cincin yang dia buat melamar Diandra di dalam kue.


"Kamu ngomong apa sih, ini sudah romantis banget. Bahkan aku gak pernah kepikiran akan di lamar seperti ini sama kamu. Ini sangat romantis menurut aku." balas Diandra yang benar adanya.


Menurut Diandra ini sudah sangat romantis, memang kata kata Richard tidak ada unsur keromantisan. Tapi bagi Diandra to the poin seperti Richard itu lebih bagus dari padanya harus mengucapkan beribu-ribu kata yang intinya akan sama saja.


"Terus kamu mau gak?" tanya Richard menunggu jawaban dari Diandra.


"Eemmm... gimana ya... kalau aku gak mau bagiamana?" goda Diandra, Diandra penasaran respon apa yang nanti akan Richard berikan.


"Ya aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan kamu." balas Richard santai.


"Seperti?" penasaran Diandra.


"Menghamili kamu." jawab Richard kelewat santai.


"Gila kamu." balas Diandra tak habis pikir dengan jalan pikir Richard.


"Apakah ada yang salah, toh kita juga udah sering main. Jadi bukan hal sulit untuk aku membuat kamu hamil. Bahkan bisa jadi sekarang benih aku udah ada yang bersarang di rahim kamu, kan aku gak pernah pakai pengaman." balas Richard.


"Astaga kenapa kamu kalau ngomong gak di filter dulu sih, bagiamana nanti kalau ada yang dengar." tak habis pikir Diandra.


"Ya biarin, emang kenapa kalau ada yang denger toh memang benar adanya."


"Astaga, kenapa pacar aku gini banget sih."


"Udah gimana ini, kamu mau gak nikah sama aku. Ya walaupun aku tidak menerima penolakan tapi aku akan tetap menunggu jawaban kamu." tanya Richard.

__ADS_1


"Huh, ya percuma juga aku nolak kamu toh gak akan bisa aku kabur dari kamu. Jadi ngapain kamu masih banyak tanya, sini pasangin cincinnya." balas Diandra menyodorkan jari tangan kirinya agar Richard memasangkan cincin yang Richard berikan untuknya.


"Nah tuh tahu." Richard pun langsung memakaikan cincin itu di jari manis Diandra dan setelah itu dia memberikan kecupan di punggung tangan Diandra.


Cup.


"Makasih sayang." ucap Richard.


"Gilak ya, kita lamaran kayak gak ada romantis romantisnya gitu."


"Ya kan aku tadi udah bilang sama kamu, kalau aku tuh orangnya gak romantis seperti cowok cowok di luaran sana. Lagian bagiku romantis itu gak perlu yang perlu itu adalah bukti yang jelas." balas Richard dan itu memang benar adanya, Diandra mengakui itu.


"Pacarku ini kalau ngomong suka bener deh, apa lagi kalau ada kertas yang bergambar pak Soekarno dan pak Hatta yang dia buat buket, pasti bakalan romantis banget." tambah Diandra.


"Ooh kamu ngode, tapi aku gak perlu itu sih kalau mau ngasih kamu. Nanti aku tambahin satu black card buat kamu." balas Richard si paling kaya.


"Ehh, enggak enggak. Yang kamu kasih aja gak abis abis, apalagi ini mau kamu tambahin. Bisa bisa nanti sampai cicit cicit aku nanti gak abis abis juga." tolak Diandra.


"Ya emang itu kan mauku, aku akan bekerja dengan keras agar nanti anak cucu kita gak perlu capek capek kerja lagi." balas Richard.


"Iya dah iya si paling kaya."


"Iya dah iya." kesal Diandra.


Diandra tahu Richard ngomong seperti itu gak serius, tapi lama lama kesal juga kalau menghadapi kesombongan Richard.


"Oh iya ada satu lagi buat kamu." ucap Richard bangkit dan menggambil sesuatu yang dia ambil dari mobil tadi.


"Apa?" penasaran Diandra.


"Ini kamu buka aja sendiri." Richard menyodorkan paper bag kepada Diandra.


Diandra pun menerimanya dan langsung membukanya.


"Wah, ini beneran buat au?" tak percaya Diandra saat melihat sebuh dompet yang bentuknya sangat unik dan desainnya yang sangat elegan.


"Iyalah, mau buat siapa lagi." jawab Richard.


"Haduh bisa gak sih kamu itu kalau lagi seperti ini biasa saja ngomongnya, jangan buat aku kesal deh aku lagi seneng ini." pinta Diandra.

__ADS_1


"Hehehe iya sayang maaf, kebiasaan kalau ketemu orang orang." cengir Richard.


Diandra tak lagi menghiraukan Richard. Dia sibuk mengamati dompet yang ada di tangannya.


"Ini produk RH bag?" tanya Diandra.


"Kan itu sudah ada logonya sayang." gemas Richard, bisa bisanya ada logo sejelas kutu rambut masih bertanya juga.


"Ya siapa tahukan kalau ini KW."


"Sembarangan kamu kalau ngomong, orang sekaya Richard Hamilton Gilbert ngasih kekasihnya barang KW itu sangat tidak mungkin sekali sayang."


"Tapi kok aku yang tas kamu kasih dulu itu aku cari di internet gak ada?" tanya Diandra, bisa jadi juga dompet ini kasusnya sama seperti tas yang Richard berikan kepadanya beberapa waktu yang lalu.


"Ya karena aku tidak ada mempublishnya." jawab Richard.


"Tapikan itu perusahaan besar, mana mungkin tas sebagus itu tidak mereka upload. Pasti kan juga banyak peminatnya kalau sampai itu di upload." heran Diandra.


"Ya itu aku buat khusus buat kamu sayang, jadi gak aku upload." jelas Richard.


"Maksud kamu gimana sih, kok kamu yang atur seharusnya kan terserah yang punya band. Oh pasti kamu membayar mereka mahal ya." tebak Diandra yang tidak mengetahui kalau pemilik RH bag itu adalah Richard.


"Astaga sayang, kamu gak tahu siapa pemilik brand tas itu?" tanya Richard tidak percaya, Richard kira kekasihnya ini sudah mengetahuinya.


"Enggak." jawab Diandra polos.


"Aku gak habis pikir sama kamu yang, trus selama ini yang kamu tahu dari aku itu aku kerja apa?" tanya Richard.


"Kerja jadi CEO di perusahaan kamu." jawab Diandra.


"Terus nama perusahaan aku apa?" tanya Richard lagi.


"RH'G company." jawab Diandra lagi yang belum konek otaknya.


"Terus?" tanya Richard lagi.


"Ya terus apa, kamu pemilik perusahaan itu lah." jawab Diandra yang membuat Richard menepuk jidatnya.


"Kamu kenapa sih dari tadi tanya mulu, orang tadi awalnya aku tanya pemilik brand RH bag kok malah sampai di perusahaan kamu itu gimana?" bingung Diandra.

__ADS_1


...***...


__ADS_2