Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTP#39


__ADS_3

"Serius?" tak percaya Rena.


"Iya sayang, nanti kalau orang yang aku suruh sudah ngasih kabar kita pergi ke sana ya." balas Dito.


"Aaa... makasih, kamu baik banget sih sama aku." terharu Rena.


"Apaan sih kamu ini, kan aku sudah bilang kalau aku mau bantu kamu."


"Kamu gak mau tidur?" lanjut Dito.


"Enggak deh nanti aja." balas Rena.


"Kok nanti, ini udah waktunya kamu tidur siang. Sana tidur aku mau beresin kerjaan aku dulu. Awas kalau sampai nanti aku kembali ke sini kamu belum tidur juga aku bungkus kamu."


"Ngeriii...." balas Rena tak ada takutnya sama sekali.


"Oh gitu, aku beneran loh. Awas nanti."


"Iya iya aku tidur, tapi nanti kamu juga harus istirahat, masak kerja mulu."


"Iya sayang, udah gih sana nanti kalau bangun cari aku di ruang tamu ya." Dito mengelus kepala Rena.


"Iyah." balas Rena dan naik ke atas ranjang untuk tidur.


"Selamat siang sayangku."


Cup.


Dito memberikan kecupan di kening Rena sebelum dia keluar dari kamar.


...**...


Pesawat yang di naiki Richard sudah mendarat di bandara internasional Amerika serikat. Richard pulang ke kampung halamannya karena ada masalah di induk perusahaan yang ada di sana.


"Langsung ke perusahaan." perintah Richard saat memasuki mobil.


"Apakah tuan tidak ingin istirahat terlebih dahulu?" tanya Ethan.


"Perusahaan lebih penting, biar cepat selesai dan kembali ke Indonesia." balas Richard.

__ADS_1


"Huh dasar bucin." gumam Ethan dan di dengar Richard tapi dia tidak menghiraukannya.


Sampai di perusahaan Richard langsung menuju ruangannya di ikuti Ethan yang selalu mengekor di belakangnya.


"Siapkan ruang meeting sekarang, dan pangil semua orang yang kamu curigai." perintah Richard pada Ethan.


"Baik tuan." balas Ethan.


"Hufft...." hela nafas Richard sambil tangannya memijat pangkal hidungnya.


...**...


Diandra seharian ini merasa sangat senang. Hingga pagi hari dia baru sempat membuka ponselnya yang satunya lagi. Bahkan dia juga lupa memberikan kabar pada Richard.


"Hoamm... udah siang ternyata." ucap Diandra dengan suara serak khas bangun tidur.


Diandra pun bangun dan langsung membersihkan tubuhnya, baru setelah itu dia membuka handphonenya yang dari kemaren dia nonaktifkan.


"Hah, Richard pergi ke Amrik." kaget Diandra setelah menerima pesan dari Richard.


"Aduh mana dari kemaren lagi ini pesannya, gw harus kasih alasan apa ya nanti kalau dia tanya." bingung Diandra.


"Masak iya gw harus jujur kalau gw habis pergi jalan-jalan sama Radit, yang ada nanti dia bakalan marah. Terus black card nya di ambil lagi."


Diandra pun segera membalas pesan dari Richard, dan setelah pesan terkirim ternyata langsung mendapatkan centang dua warna biru yang artinya pesan itu langsung di buka oleh Richard.


Drrtt drrtt drrtt.


Handphone yang ada di tangan Diandra bergetar, dengan cepat Diandra menggangkat panggilan telefon dari Richard.


'Halo sayang.' sapa Richard.


'Hai, kamu beneran ke Amrik?' tanya Diandra agar dia tidak gugup.


'Iya, ada masalah di sini jadi aku harus datang langsung ke sini.' jawab Richard.


'Kamu dari kemaren kemana aja aku telfon kok gak aktif, aku kirim pesan juga gak di buka buka. Hampir aja aku tadi suruh orang buat melacak keberadaan kamu.' lanjut Richard.


Tuh kan, apa yang di takutkan Diandra terjadi beneran. Sekarang kalau sudah seperti ini Diandra harus menjawab apa coba. Untung saja Richard belum menyuruh orang untuk melacak keberadaannya. Kalau sampai itu terjadi dan Richard tahu kalau dia punya pacar baru, bisa abis dia di tangan Richard.

__ADS_1


'Halo sayang, kamu masih di sana kan?' pangil Richard karena Diandra diam saja.


'Iya aku masih kok, kemaren tuh handphone aku jatuh trus mati total jadi gak bisa deh buka handphone dari kemaren. Terus aku bawa ke tukang servis dan baru aku ambil barusan.' bohong Diandra.


'Kenapa kamu gak ganti aja handphonenya dengan yang baru, kan aku udah kasih black card sama kamu. Masak aku lihat barusan pengeluarannya cuma sepuluh juta, itu pun kamu transfer entah ke rekening siapa itu.'


"Aduh mampus nih gw." batin Diandra.


'Hehehe itu kemaren aku transfer ke rekening aku sendiri, soalnya aku agak gimana gitu kalau beli di supermarket terdekat masak harus pakai black card. Jadi kemaren aku ambil uang dan aku transfer ke rekening aku, kamu gak marah kan uangnya aku pakai?'


'Hahaha... kami ini ada ada aja, ngapain aku marah kan emang semua uang yang ada di dalam situ punya kamu semua. Jadi ya terserah kamu mau pakai buat apa. Oh iya nanti kalau kamu mau ganti handphone jangan lupa hubungi aku ya kalau pakai nomor baru, biar aku gak bingung cariin kamu.'


'Iya nanti kalau aku ganti handphone pasti langsung kabarin kamu kok, makasih ya buat semuanya. Dan ingat kamu harus tetap jaga kesehatan di sana, jangan capek capek kerjanya.'


'Iya sayang, nanti kamu mau aku bawain apa kalau aku pulang ke indo?'


'Aku gak minta apa apa kok, asal kamu pulang dalam keadaan baik baik saja itu sudah membuat aku senang.' mulut manis Diandra.


'Pacarku ini memang yang terbaik, aku tutup dulu ya soalnya mau meeting. Aku minta doanya sama kamu biar masalah di sini cepat selesai terus bisa cepat cepat pulang dan ketemu kamu.'


'Iya, aku doa in semoga masalah kamu cepat selesai dan pulang dengan selamat sampai sini.' balas Diandra.


'Ya sudah aku tutup dulu ya bye sayang. Emuah.' pamit Richard.


'Bye juga sayang, emuah.' balas Diandra dan sambungan telepon pun terputus.


"Hah, ternyata tidak semenyeramkan itu." lega Diandra.


"Kan tadi Richard sendiri yang suruh aku ganti handphone, dan kebetulan kemaren aku lihat ada handphone yang baru launching dan harganya itu sangat mahal. Jadi hari ini aku mau pergi ke sana buat beli tuh handphone." monolog Diandra.


Diandra pun segera bersiap untuk pergi ke mall lagi sekalian nanti sambil mencari sarapan.


Sepertinya kali ini Diandra akan memborong seluruh isi mall, karena uang Diandra sekarang sudah banyak. Terlebih lagi kata Radit kemaren Radit yang akan menanggung semua biaya Diandra sama adiknya, jadi otomatis sekarang Diandra sudah menjadi orang kaya dengan mudahnya.


"Aduh panas banget sih." keluh Diandra.


Saat ini dia tengah berada di depan rumahnya menunggu ojek online yang sudah dia pesan.


"Tunggu deh, sepertinya punya mobil asik juga, toh gw juga sudah bisa nyetir mobil." ide Diandra.

__ADS_1


Tak berapa lama ojek online yang Diandra pesan pun datang, Diandra pun langsung naik dan motor pun berjalan menuju mall.


...***...


__ADS_2