Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTP#27


__ADS_3

Richard masuk ke dalam kamarnya lagi, di sana dia melihat Diandra sedang berada di depan cermin, Diandra tengah menyisir rambutnya.


Tanpa mengucapkan apa-apa Richard langsung memeluk Diandra dari belakang. Hal itu membuat Diandra kaget dan langsung menoleh ke belakang.


"Wangi banget sih." bisik Richard di telinga Diandra yang membuat bulu kuduk Diandra meremang.


"Kamu ngapain sih, geli aku." ucap Diandra berusaha melepaskan tangan Richard yang membuat berada di pinggang Diandra.


"Kalau aku gak mau," balas Richard.


"Kamu pakai parfum apa sih, kok wangi banget." lanjut Richard semakin mengendus aroma wangi Diandra.


Diandra diam saja tak menjawab pertanyaan Richard karena dia berusaha mengontrol detak jantungnya agar tidak terdengar oleh Richard.


"Kenapa diam aja hmm?" tanya Richard lagi.


"Aku malu." jawab Diandra sambil menundukkan kepalanya tak mau menatap mereka berdua yang ada di dalam cermin.


Dengan gerakan cepat Richard memutar tubuh Diandra hingga sekarang mereka berhadapan.


Cup.


Richard mencium bibir Diandra dan salah satu tangannya memegang tengkuk Diandra agar memperdalam ciuman mereka.


Setelah ciuman beberapa saat Richard pun melepaskannya dan menyatukan kening mereka. Keduanya saling tatap dan mengatur nafas mereka yang hampir habis.


"Manis." ucap Richard setelah itu.


"Aaaa... aku malu...." Diandra menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa malu sih hmm?"


"Sini coba mana lihat pipinya yang merah, biar aku makan." lanjut Richard memaksa tangan Diandra agar terlepas dari wajahnya.


"Tuh kan merah, bikin gemes aja nih pipi." ucap Richard setelah melepaskan tangan Diandra, Richard pun memberikan cubitan gemas di pipi Diandra.


"Tau ahh sana minggir dulu, aku mau tidur." malu Diandra.


Diandra pun terbebas dari jangkauan Richard dan dia langsung berlari menuju ranjang dan menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut yang tebal.


"Ooh mau tidur, oke." senyum licik Richard dan segera menyusul Diandra.


Richard masuk ke dalam selimut yang Diandra gunakan untuk menutupi tubuhnya, hingga selimut itu bergerak tidak karuan sambil suara mereka berdua yang begitu heboh di bawah selimut itu. Entah apa yang mereka berdua lakukan, hanya mereka yang tahu.


...**...

__ADS_1


Keesokan paginya, Diandra sudah sampai di kontrakan miliknya. Tadi pagi pagi sekali Richard mengantarnya pulang. Ya, semalam Diandra menginap di apartemen Richard.


Setelah kejadian kemarin, Diandra sangat merasa bersyukur karena Richard tak sampai merenggut mahkota miliknya. Dan sekarang dia di buat penasaran dengan apa yang ada di dalam paper bag pemberian Richard ini.


"Ini apa ya kira kira isinya." gumam Diandra.


Diandra pun mulai mengeluarkan isi dalam paper bag itu yang ternyata berisi kotak kado. Diandra pun segera membuka kotak kado itu dengan sangat hati-hati.


"Wow." kaget Diandra saat melihat isinya.


"Gilak ini sih cantik banget, pasti ini harganya sangat mahal. Apalagi ini merek nya RH bag, sudah jelas sih ini bukan tas sembarang." kagum Diandra membolak-balik Sling bag pemberian Richard itu untuk mengamati lebih detail lagi tentang tas itu.


"Aduh hiasannya bagus banget, pasti ini bukan tas sembarang." lanjutnya.


Diandra pun langsung mengeluarkan handphonenya dari dalam tas dan memotret tas itu untuk dia cari harganya di internet. Tapi saat dia mencarinya, dia tidak dapat menemukan tas itu. Yang ada malah tas tas lain.


"Kok gak ada ya?" bingung Diandra.


Diandra pun memutuskan untuk mengirimkan pesan untuk Richard sebagai bentuk terimakasih kepadanya.


/send picture.


Makasih tasnya, ini bagus banget. 🥰🥰🥰


Pasti harganya mahal, apalagi ini merk RH bag.


Pesan yang Diandra kirimkan pada Richard.


Setelah memastikan pesannya terkirim, Diandra pun pergi membersihkan tubuhnya, karena hari ini dia berencana untuk pergi ke bank untuk menarik uang buat bayar kontrakan.


...**...


Hari pun berlalu, kini tepat hari di mana Rena harus melakukan cuci darah. Dito sudah bersiap untuk pergi keluar rumah Rena.


"Pagi kak." sapa Dito pada Doni dan juga dokter Fia.


"Pagi juga Dit." balas mereka berdua.


Ya, semalam Dito menginap lagi di rumah kakaknya, karena kemarin ada yang perlu di bahas dengan Doni mengenali pekerjaan. Jadi Dito terpaksa harus menginap di rumah kakaknya.


"Mau kemana kamu pagi pagi gini kok udah rapi, biasanya kamu kalau ke kantor agak siangan?" tanya Doni heran.


"Ada deh, kakak kepo." balas Dito.


"Dih, emang kamu gak ke kantor hari ini?"

__ADS_1


"Enggak, aku ada urusan jadi bolos dulu."


"Bolos mulu."


"Biarin."


Sedangkan dokter Fia yang berada di sana pun hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah kedua saudara kandung itu. Dia sudah biasa melihat tingkah mereka, malah kalau mereka gak ribut itu pasti ada yang gak beres di antara keduanya.


"Kakak ipar nanti ada jadwal gak?" tanya Dito pada dokter Fia.


"Ada nanti jam sepuluh aku ada pasien cuci darah." balas dokter Fia sambil menyantap makanannya.


"Ooh, nanti kayaknya aku juga bakal ke sana anterin temen aku cuci darah."


"Temen kamu yang waktu itu?" tanya dokter Fia penasaran.


"Iya, hari ini dia ada jadwal cuci darah, jadi aku mau antar dia." jawab Dito.


"Kok aku jadi penasaran ya yang sama temennya Dito. Soalnya jarang aja gitu dia sampai bela belain gak ke kantor demi nganterin cuci darah." sahut Doni menatap curiga pada adiknya.


"Apaan sih kak, orang aku biasanya juga sering bantu orang." balas Dito salting.


"Masak sih, kok kakak gak percaya ya. Temen kamu itu cowok atau cewek?" tanya Doni penasaran.


"Udah mas, nanti kalau aku ketemu sama mereka aku kasih tahu kamu." sela dokter Fia pada suaminya.


"Bener ya, awas aja kalau kamu sampai bersekongkol sama dia."


"Iya mas."


"Oh iya Dit, nanti kamu jangan lupa transfer uangnya ya, soalnya hari ini jadwal dia cuci darahnya. Nanti kakak kirim lewat pesan berapa nominalnya." lanjut dokter Fia pada Dito.


"Oke kak, siap." balas Dito.


Dan setelah itu mereka pun melanjutkan kegiatan makan dengan tenang tak ada lagi yang saling bertanya ataupun berdebat seperti tadi.


Dito langsung pergi ke rumah Rena tidak pulang terlebih dahulu. Sebelum sampai di rumah Rena Dito menyempatkan diri untuk membeli bubur untuk Rena, dan setelah mendapatkannya Dito pun langsung ke sana.


"Pagi pak." sapa Dito pada pak RT yang tengah bersiap pergi.


"Pagi mas Dito." balas pak RT.


"Saya mau nitip mobil lagi ya pak sebentar." ucap Dito sambil memakirkan mobilnya di halaman rumah pak RT.


"Iya mas silahkan, tapi nanti mobilnya jangan lupa di kunci ya mas, soalnya di rumah saya lagi sepi gak ada orang." balas pak RT.

__ADS_1


"Iya pak. Kalau begitu saya pamit ke sana dulu ya pak." Dito pun langsung pergi ke rumah Rena setelah mendapatkan anggukan dari pak RT.


...***...


__ADS_2