
Diandra mengamati setiap ruangan yang dia lewati. Banyak orang berbaju hitam yang berjaga di sana, keadaan dalam ruangan itu sangat megah. Bahkan lebih megah dari pada apartemen Richard yang harganya fantastis itu.
"Ini kita ada di mana sih?" tanya Diandra.
Richard diam saja dan tetap melanjutkan langkahnya menuju sebuah ruangan yang pintu masuknya hanya bisa di akses menggunakan sidik jari Richard.
"Ini di mana sih?" tanya Diandra lagi saat Richard membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Hufft...." Richard menarik nafasnya dalam sebelum menjelaskan semuanya pada Diandra.
"Ini markas aku." ucap Richard membuat Diandra menatap Richard dengan serius dan memasang kupingnya selebar mungkin agar dapat mendengarkan apa yang akan Richard jelaskan.
"Tempat di mana aku mengeksekusi orang orang yang akan menjadi mangsaku." lanjut Richard.
"Mangsa? Mangsa apa maksud kamu?" tanya Diandra tidak mengerti.
"Setelah aku mengatakan ini aku minta sama kamu tolong jangan takut sama aku, karena aku tidak mungkin akan menyakiti kamu." balas Richard yang membuat Diandra semakin bingung.
"Maksud kamu apa sih?"
"Aku adalah psikopat."
Deg.
Jantung Diandra rasanya sudah mau copot mendengar siapa sebenarnya Richard selama ini.
"Bukan hanya satu orang atau dua orang yang sudah aku bunuh. Tapi sudah hampir puluhan orang baik di sini maupun di Amerika." jelas Richard.
"Tidak, itu tidak mungkin. Kamu pasti bohong kan?" tak percaya Diandra dengan apa yang Richard ucapkan.
"Aku tidak berbohong, itu memang kenyataannya. Aku adalah psikopat yang berkedok sebagai pengusaha dan pembuat tas." jelas Richard meyakinkan.
"Lalu apakah benar dompet itu terbuat dari hati Radit?" tanya Diandra memastikan.
"Iya itu benar, aku sendiri yang membunuhnya karena aku tidak suka apa yang sudah menjadi milikku dia ambil orang lain." balas Richard.
"Berarti orang yang menyebabkan radit menghilang itu kamu?"
"Iya itu aku," balas Richard.
__ADS_1
"Kenapa kamu melakukan itu, Radit gak salah tapi aku yang salah karena sudah memanfaatkannya."
"Aku tidak peduli, mau siapapun yang salah kamu akan tetap menjadi milikku." kekeh Richard.
Setelah mengatakan itu Richard membawa Diandra masuk ke dalam sebuah ruangan lagi. Di sana terdapat banyak macam tas, dompet, sepatu dan kerajinan tangan lainnya. Dan kalau di lihat lihat itu pasti harganya sangatlah fantastis.
"Kamu lihat itu semua." suruh Richard menunjuk lemari kaca tempat penyimpanan barang barang miliknya.
Diandra melihat itu, dia berjalan mendekati lemari itu dan mengamati satu persatu barang yang ada di dalamnya.
"Itu semua terbuat dari organ manusia."
Mendengar itu Diandra menjauhkan tubuhnya dari lemari itu. Diandra menatap nanar lemari itu, barang bagus bagus seperti itu ternyata terbuat dari bagian tubuh manusia.
"Apakah kamu tidak berfikir kedepannya?" tanya Diandra.
"Tidak, karena aku membutuhkan itu semua demi keselamatan orang orang di sekitarku." balas Richard.
"Maksud kamu?" bingung Diandra.
"Aku membutuhkan itu semua untuk menyalurkan jiwa psikopat ku yang akan muncul kalau aku tidak membunuh orang dalam satu bulan." jelas Richard membuat Diandra menatap Richard takut.
"Tidak, itu tidak akan mungkin terjadi. Karena kalau sampai aku membunuhmu itu sama saja dengan aku membunuh diriku sendiri." balas Richard.
"Aku tidak akan melukai kamu dan orang orang terdekatku." lanjut Richard.
"Kamu jangan takut sama aku, aku tidak akan membunuh kamu atau menjadikan kamu korban aku." Richard berjalan menghampiri Diandra dan akan memegang tangannya tapi langsung di tepis oleh Diandra.
"Jangan sentuh aku, kamu orang yang sangat berbahaya. Mungkin sekarang kamu bilang tidak akan menyentuh aku, tapi nanti jika jiwa psikopat kamu tiba tiba muncul saat hanya ada kita berdua. Mungkin akulah orang yang akan kamu bunuh saat itu juga." ucap Diandra menatap Richard tajam.
"Tidak sayang, jangan bicara seperti itu. Aku sayang sama kamu aku tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu. Kalaupun nanti hal itu terjadi mungkin akan lebih baik jika aku akan membunuh diriku sendiri bukan kamu." balas Richard meyakinkan.
"Oke aku percaya itu, tapi bisakah aku meminta kamu untuk meninggalkan dunia kamu itu?" pinta Diandra.
"Itu tidak mungkin sayang, ini sudah menjadi dunia ku dan aku tidak mungkin bisa meninggalkan ini semua." tolak Richard.
"Maka jangan halangi aku untuk pergi dari hidupmu." Diandra berbalik badan dan berjalan menuju pintu keluar dari ruangan Richard.
"Tidak sayang, kamu tidak akan bisa keluar dari sini." ucap Richard mencegah Diandra.
__ADS_1
"Buka pintunya Richard." pinta Diandra.
"Tidak sayang, aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari hidup aku karena kamu adalah milikku." Richard menarik tangan Diandra menuju sebuah kamar yang ada di ruangannya.
"Kamu mau ngapain, lepasin aku." berontak Diandra.
"Tidak, aku tidak akan melepaskan kamu. Kita akan main di sini sampai di perut kamu ada calon penerusku." tegas Richard.
Richard menghempaskan Diandra ke atas ranjang king size miliknya dan dia langsung melepaskan jas yang dia pakai.
"Lepasin aku Richard, aku mau pergi dari sini." berontak Diandra.
Richard melepaskan dasi yang mengikat di lehernya dan mengikatkannya di tangan Diandra.
"Lepasin aku Richard, kamu gila. Dasarnya psikopat gila emmhh...."
Richard langsung membungkam mulut Diandra dengan ciumannya. Richard mencium Diandra dengan ganas, dan satu tangannya memegang tangan Diandra ke atas kepala Diandra.
Sedangkan tangan yang satunya lagi berusaha melepaskan pakaian Diandra.
Richard melepaskan ciumannya saat merasa nafas Diandra mulai menipis. Diandra menghirup nafas dalam sebelum nanti dia akan memaki maki Richard.
"Lepaskan aku Richard, dasar Richard sialan. Richard psikopat gila." maki Diandra terus memberontak dalam kunjungan Richard.
Richard membiarkan saja dia fokus membuat banyak jejak di leher dan turun menuju dada Diandra.
Richard pun melakukan itu pada Diandra berkali-kali hingga Diandra sampai terkapar tidur tak berdaya dan Richard masih saja terus menggempur Diandra.
Cup.
"Maafkan aku sayang, aku melakukan ini agar kamu tetap bertahan di sisiku."
"Cepat tumbuh di perut mommy sayang, Daddy menunggumu." lanjut Richard mencium perut rata Diandra.
Richard sangat berharap di kegiatan mereka kali ini dapat membuahkan hasil. Agar nanti Richard ada alasan untuk menahan Diandra untuk tidak pergi dari sisinya.
Setelah itu Richard pun bangun dan membersihkan dirinya, dan setelah selesai dia ikut bergabung bersama Diandra tidur di atas ranjang miliknya.
Tanpa Richard ketahui ternyata Diandra sudah bangun. Setelah memastikan kalau Richard beneran tertidur Diandra pun langsung pergi dari sana. Diandra bisa keluar dari dalam ruangan Richard karena dia tahu kalau untuk keluar dari dalam itu sangat mudah dan tidak perlu menggunakan sidik jari Richard.
__ADS_1
...*** ...