Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTP#70


__ADS_3

Sudah dua jam lamanya Rena dan Andrew berada di ruangan operasi. Tak lama setelah itu lampu ruangan operasi yang sedari tadi menyala mati. Hal itu menandakan kalau operasinya sudah selesai.


"Sayang nanti kalau Rena sama Andrew sudah di pindahkan ke ruang rawat mereka kamu temani Rena dulu ya sama Dito, aku mau menemui Andrew dulu, kasian dia gak ada yang jaga." ucap Richard pada Diandra yang berada di sampingnya dan di balas anggukan oleh Diandra.


Tak lama setelah itu Andrew dan Rena yang belum sadarkan diri di bawa keluar dari ruangan operasi dan di ikuti di belakangnya ada dokter yang terlihat dari wajahnya sangatlah kelelahan.


"Bagiamana operasinya dok?" tanya Richard.


"Alhamdulillah tuan operasinya berjalan dengan lancar, kita tinggal menunggu bagiamana nanti reaksi tubuh nona Rena." jawab dokter itu.


"Alhamdulillah ya Allah." lega Diandra.


"Kalau begitu kami permisi dulu tuan, dan untuk sementara pasien tidak boleh di kunjungi selama satu jam mendatang." ucap dokter itu sebelum pergi dan di angguki oleh mereka.


"Kak Rena sembuh kak, Rena bakal sembuh." ucap Dito kepada Diandra dengan raut wajah yang bahagia.


"Iya Dit, kakak sangat bersyukur akhirnya Rena mendapatkan donor ginjal juga." balas Diandra.


"Sayang kamu belum makan kan, kita cari makan dulu yuk." ajak Richard.


"Tapi aku...."


"Udah ayo, aku gak menerima bantahan. Ayo Dit kamu juga harus makan biar tubuh kamu tetap vit." potong Richard dan mengajak Dito juga.


"Iya bang." balas Dito.


Akhirnya Richard pun membawa Diandra untuk mencari makan, meskipun tadi harus ada unsur paksaan sedikit karena Diandra menolaknya.


...**...


"**1*. Ternyata selama ini orang yang kita buat hidupnya susah bukanlah anak kandung tapi hanya anak tiri." umpat seorang laki-laki kepada istrinya setelah menerima kabar dari orang yang dia jadikan mata mata.


"Benar, tapi ini bukan kesalahan kita, karena yang menculik Rena dulu adalah kakak kita, sedangkan kita hanya meneruskannya saja." timpal sang istri.


"Terus apa yang harus kita lakukan selanjutnya, apakah akan tetap melanjutkan rencana awal dengan membunuh anak itu, atau kita pindah haluan dengan membunuh anak kandung yaitu Richard?"


"Sepertinya kita tidak akan mungkin bisa membunuh dia, kita tetap saja pada rencana awal. Richard sangat menyayangi anak itu, jadi otomatis kalau anak itu meninggal Richard juga akan ikutan bersedih. Dan di saat itulah kita akan membunuh dan membalaskan semua dendam keluarga besar kita." balas si istri memberikan ide kepada suaminya.


"Baiklah terserah kamu saja, aku hanya akan mengikuti caramu dan melindungimu dari belakang jika terjadi sesuatu." setuju si suami.

__ADS_1


"Apakah kita akan tetap di sini, atau kita ikutan pindah ke kota itu juga?"


"Sepertinya kita harus pergi ke sana, karena semakin dekat kita dengan mereka, maka semakin dekat pula kesempatan kita untuk membalaskan dendam keluarga kita." ide si suami.


"Baiklah kamu siapkan semuanya kita berangkat sekarang kalau bisa." suruh si istri.


"Baik, aku pergi dulu, kamu siapkan barang barang kita." balas si suami dan pergi dari sana.


"Kita lihat saja siapa nanti yang bakalan menang dan tetap hidup di dunia ini."


"Hahahaha...." tawa menggelegar dari si istri.


...**...


Setelah menunggu satu jam, akhirnya sekarang Richard bisa masukin juga ke dalam ruangan Andrew. Di sana dia melihat Andrew sudah siuman dan tengah duduk sambil menatap tablet yang ada di tangannya.


"Ehem." dehem Richard.


Andrew yang memang menyadari kedatangan Richard hanya menoleh sekilas saja dan kembali menatap tabletnya.


"Apakah keadaanmu baik baik saja?" tanya Richard menghampiri Andrew.


"Bisakah kita lebih dekat lagi, ku rasa kita tidak perlu saling berselisih lagi. Karena sekarang kita memiliki adik yang sama." ucap Richard membuat Andrew akhirnya mengalihkan pandangannya menatap Richard.


"Apakah saya tidak salah dengar tuan, seorang Richard Halmiton Ghilbert pengusaha sukses yang cabangnya berada di mana mana berbicara seperti itu kepada saya yang banyak pemilik organisasi judi?" balas Andrew dengan senyuman mengejeknya.


"Ya kenapa tidak, bagiamana pun juga karena kamu adik aku selamat." balas Richard yang sudah tidak mengherankan anda dan saya kepada Andrew.


"Itu adik saya bukan adik anda." tak terima Andrew.


"Tapi saya yakin bersamanya saat kecil." balas Richard tidak mau kalah.


"Tapi dia tidak hidup dengan anda setelah itu." balas Andrew yang tak mau kalah juga.


"Terserah lah, yang pasti aku gak mau musuhan sama kakak adikku." nyerah Richard yang malas untuk berdebat dengan Andrew.


"Hahaha... anda sangat lucu tuan." tawa Andrew.


"What? adakah yang lucu?" tanya Richard.

__ADS_1


"Ya, bukankah anda sendiri yang dulu menjadikan saya musuh. Anda membunuh semua orang suruhan saya." jawab Andrew.


"Itu semua terjadi karena kau juga, kau menyuruh anak buahmu untuk menggelapkan dana perusahaanku." balas Richard yang tak lagi memanggil Andrew dengan kamu.


"Cih, katanya orang kaya, tapi uang di ambil secuil aja udah marah." ledek Andrew.


"Itu beda, kalau uangku yang di ambil aku tidak masalah. Tapi kalau uang perusahaan yang di ambil itu akan sangat mempengaruhi nama baik perusahaanku." jelas Andrew.


"Baiklah baiklah, kalau seperti itu kasih saya salah satu asetmu yang berharga biar bisa aku gunakan untuk mencari uang." tantang Andrew yang sekarang bisa menyebut dirinya dengan aku tidak lagi dengan saya.


"Bukankah kau sudah punya bisnis judi, lantas untuk apa kau meminta asetku untuk mencari uang?" heran Richard.


"Aku ingin melepaskan bisnis ilegal itu, aku tidak memungkin memberikan uang hasil judi kepada adikku nanti." jawab Andrew.


"Kalau niatnya memang seperti itu aku akan kasih satu perusahaanku kepadamu. Tapi ingat jangan salah gunakan kepercayaanku. Kalau sampai aku tahu kau ada niat jahat, jangan harap satu ginjalmu itu akan tetap utuh di tempatnya." ucap Richard mengancam Andrew.


"Anda bisa memegang ucapan saya tuan." balas Andrew.


"Lantas, bisnis mu itu mau kau apain?" tanya Richard.


"Hancurkan, emang mau di apain lagi?" jawab Andrew santai.


"Jangan dulu." tahan Richard.


"Lah emang kenapa, bukannya kau dari dulu sangat menginginkan bisnis itu hancur?" heran Andrew.


"Di dalam sana ada orang yang aku incar." jawab Richard.


"Siapa?"


"Ibu Tika." jawab Richard.


Sebenarnya Richard sudah lama ingin membalaskan dendam adiknya kepada ibu Tika. Tapi karena kondisi Rena yang masih memburuk membuat Richard harus menunda keinginannya.


"Kau mengenal dia?" tanya Andrew, pasalnya seingat Andrew ibu Tika itu berasal dari kampung, lantas bagaimana bisa Richard mengenal ibu itu?


"Ya, dia orang yang membuat hidup Rena sengsara." jawab Richard membuat rahang Andrew mengeras.


...***...

__ADS_1


__ADS_2