
"SIAPA WANITA YANG KAMU MAKSUD ITU HAH." Suara keras seorang laki-laki yang membuat orang orang yang berada di lobby menatap ke arahnya.
"Tuan." resepsionis itu langsung menundukkan kepalanya takut kepada Richard.
"Saya tanya sekali lagi, siapa wanita yang kamu maksud itu Hah?" ulang Richard membuat resepsionis itu gemetaran.
"Mumpung kalian semuanya ada di sini," Richard menjeda ucapannya dan menghampiri Diandra yang tadi berada di hadapannya.
"Kalian semuanya harus tahu, wanita yang ada di samping saya ini adalah calon istri saya. Jadi otomatis dia adalah calon nyonya di sini." ucap Richard memperkenalkan Diandra.
Diandra yang mendengar itu pun tidak menyangka, kalau dirinya akan di perkenalkan di hadapan semua karyawan Richard yang ada di sana.
Sedangkan resepsionis yang tadi mengusir Diandra pun semakin gemetaran di tempatnya. Ini memang kecerobohannya karena tidak bertanya terlebih dahulu dan langsung menilai orang dari penampilannya.
"Dan untuk kamu, silahkan kemasi semua barang barang kamu dan pergi dari sini." lanjut Richard memecat resepsionis itu.
"Saya minta maaf tuan, tolong jangan pecat saya. Nona saya minta maaf, saya tidak mengenal anda, tolong maafkan saya." resepsionis itu bersujud di kaki Diandra dan Richard.
"Cepat kemasi semua barang barang kamu dan pergi dari sini." bentak Richard.
"Saya mohon tuan jangan pecat saya, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini. Saya minta maaf atas kesalahan saya. Nona saya mohon jangan pecat saya." Mohon resepsionis itu pada Richard dan Diandra sambil menangis.
Diandra yang melihat itu pun hatinya merasa tidak tega, dia memang jahat suka menipu orang. Tapi Diandra juga tahu pasti resepsionis itu juga sangat membutuhkan pekerjaan ini.
Sedangkan Richard hanya bodo amat saja, toh bukan urusan dia. Salah sendiri sudah berbuat yang tidak baik pada wanitanya.
"Ayo kita ke atas." ajak Richard menarik tangan Diandra.
Diandra melepaskannya tangan Richard dari tangannya, dan dia pun berjongkok untuk membantu resepsionis itu berdiri.
"Kamu tidak perlu melakukan hal itu, ayo bangun." ucap Diandra membantu resepsionis itu agar bangun dari kakinya.
Resepsionis itu pun berdiri, dia merasa sangat malu sekarang berhadapan dengan Diandra.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu khawatir, kamu akan tetap kerja di sini kok. Tuan Richard gak bakal pecat kamu, saya jamin itu." ucap Diandra pada resepsionis itu.
"Sayang...." perkataan Richard tertahan oleh tangan Diandra yang mengisyaratkan dirinya agar diam.
"Sudah kamu kembali kerja saja, dan ini jadi pelajaran buat kamu. Lain kali kalau ada tamu sampaikan pada sekertaris tuan kamu, jangan main hakim sendiri." ucap Diandra tegas.
"Iya nona, terimakasih sudah mau memaafkan saya. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi." balas resepsionis itu yang merasa sangat berterimakasih pada Diandra.
"Iya sama sama." balas Diandra ramah.
"Ke atas yuk." ajak Diandra menyeret tangan Richard yang sedari tadi diam saja dengan wajah datarnya.
Diandra yakin kalau Richard saat ini tengah marah kepadanya, tapi biarlah itu urusan nanti. Yang penting sekarang Diandra harus membawa Richard ke ruangannya agar tidak ada yang tahu kalau seandainya nanti mereka berantem.
Ethan yang sedari tadi menonton dari kejauhan pun ikutan pergi ke lantai atas, di mana ada ruangannya dan Richard berada.
"Sepertinya tuan sudah bucin pada nona Diandra, baguslah kalau gitu meskipun nona Diandra bukan gadis yang baik tapi setidaknya membawa pengaruh baik buat tuan." gumam Ethan mengikuti langkah Richard dan Diandra yang sudah masuk ke dalam lift.
...**...
Sedangkan Diandra otaknya berfikir keras agar dia bisa membuat Richard tidak marah lagi kepadanya. Sebenarnya Diandra sendiri juga ngeri saat lihat muka datar Richard yang sangat menyeramkan.
"Ehh...." kaget Diandra saat Richard malah memeluknya dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Diandra.
"Diam, aku marah sama kamu." ucap Richard dengan berbisik di telinga Diandra.
Ingin rasanya Diandra tertawa, tapi dia takut nanti kalau Richard malah semakin marah kepadanya. Mana ada coba orang marah yang bilang bilang, seperti anak kecil saja Richard ini.
"Kenapa diam saja?" tanya Richard dengan berbisik juga.
Lah, nih orang pikun atau gimana, kan tadi dia yang nyuruh diam. Ehh sekarang malah di tanya kenapa diam. Kayaknya gelar wanita selalu benar itu tidak berlaku di sini, yang ada wanita selalu salah.
"Kan tadi kamu yang suruh aku diam." balas Diandra.
__ADS_1
Tangan Diandra pun terulur mengelus punggung Richard yang tengah memeluknya agar suasana hati Richard agak tenang.
"Iisss... kamu gak peka banget sih, aku tuh lagi marah seharusnya kamu bujuk dong." omel Richard masih tetap memeluk Diandra.
"Ulululu... ternyata ada bayi gede sekarang, sini mana liat mukanya." balas Diandra menggoda Richard.
"Aaa... kamu mah gitu, gak mau pokoknya aku makin ngambek sama kamu." Richard semakin menenggelamkan kepalanya di leher Diandra sambil menghirup dalam aroma wangi rambut Diandra.
Ingin rasanya Diandra tertawa, tapi dia takut, takut nanti kalau Richard malah gak mau lepas dari tubuhnya maksudnya. Atau bisa jadi takut di mangsa.
"Aku tuh marah, tapi aku gak bisa marah sama kamu." ucap Richard sambil tangannya sekarang malah memainkan rambut Diandra.
"Aku takut nanti kalau aku marah aku gak bisa kontrol diri aku." lanjutnya.
Diandra hanya diam saja membiarkan Richard mengeluarkan unek-uneknya sambil tersenyum.
"Kamu kok diam aja sih, kamu dengarkan aku ngomong." melepaskan pelukannya dan menatap wajah Diandra.
"Hahahaha...." tawa Diandra yang sedari tadi dia tahan akhirnya keluar juga, Diandra sudah tidak bisa lagi menahannya.
"Iisss kamu kok ketawa sih, aku ngambek nih." ancam Richard.
"Ya ampun sayang aku ini gemes banget sih kalau lagi marah. Pingin aku makan aja deh." ucap Diandra mencubit pipi Richard gemas.
"Auw sakit tau yang." lebay Richard, orang biasanya kena pisau juga tidak sakit.
"Ulu ulu ulu, maaf ya sayang, sini aku cium."
Saat Diandra akan mendekatkan bibirnya di pipi Richard, Richard malah menoleh sehingga bukan pipi yang Diandra dapatkan melainkan bibir hangat Richard yang akhir akhir ini sering bersilaturahmi di bibirnya.
Mata Diandra melotot karena kaget, sedangkan mata Richard malah terpejam menikmati ciuman yang tengah berlangsung. Merasa tak ada pergerakan dari Diandra, Richard pun mengigit bibir bawah Diandra sehingga membuat mulut Diandra otomatis terbuka dan hal itu di manfaatkan oleh Richard untuk mengabsen setiap jengkal yang ada di dalam mulut Diandra.
Saat tengah asik asiknya berciuman tiba tiba pintu ruangan Richard terbuka dan....
__ADS_1
"Permisi tu...an, maaf saya tidak melihat apa apa "
...***...