Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTO#32


__ADS_3

"Saya mohon sama kamu terus lakukan pencarian, jangan sampai berhenti." pinta Richard pada Ethan.


"Pasti taun, saya akan terus melakukan pencarian agar nona Rere cepat di temukan." balas Ethan.


"Kalau begitu saya permisi dulu tuan." pamit Ethan.


"Hmm, nanti kalau ada informasi apapun kasih tahu saya."


"Baik tuan." Ethan pun pergi dari sana meninggalkan Richard yang termenung di meja kerjanya.


"Kamu di mana dek, Abang kangen." gumam Richard.


Richard pun bangkit dari tempat duduknya dan pergi menuju kamarnya untuk melihat apakah Diandra sudah bangun atau belum. Dan ternyata sang pujaan hati masih senantiasa berada dalam alam mimpi. Mungkin di sana lebih indah dari pada di dunia nyata, sampai sampai Diandra tidak bangun juga.


Merasa dirinya juga lelah, Richard pun membaringkan tubuhnya di samping Diandra dan memeluknya dengan erat sambil kepalanya berada pada ceruk leher Diandra menghirup dalam aroma rambut Diandra hingga akhirnya Richard pun menyusul Diandra masuk ke dalam alam mimpi.


...**...


Pukul tujuh malam hari, Dito sudah rapi dengan pakaiannya. Sedangkan Rena masih berada dalam kamar mandi.


Hayoo mereka habis ngapain????


Ya enggak lah, mereka tidak melakukan apa-apa, mereka hanya membersihkan tubuh saja setelah tidur terlalu lama.


"Aku pakai apa?" tanya seseorang dari belakang Dito, Dito pun mengembalikan tubuhnya.


Glek.


Dito menelan ludahnya kasar saat melihat pemandangan di depannya. Rena hanya mengunakan handuk yang menutupi tubuhnya mulai dari dada sampai ke pertengahan paha.


Lihatlah tubuh mungilnya sangat menggoda iman sekali. Kalau saja Dito laki laki brengsek, mungkin Rena sudah dia terkam sekarang.


"Haloo." ucap Rena menyadarkan Dito dari keterkejutannya.


"Hah, oh iya pakaian kamu sudah aku siapkan. Itu aku letakkan di atas ranjang." balas Dito.


Rena pun melihat kearah ranjang, dan benar saja di sana ada pakaian baru untuk wanita. Rena pun segera mengambilnya dan pergi untuk berganti baju.


"Hufft... tahan Dito tahan, nanti akan ada saatnya kok." gumam Dito menenangkan dirinya sendiri yang hampir tegang.


Dito pun beranjak menuju dapur untuk membuatkan makanan buat mereka berdua, sekalian nanti Dito akan membukakan buah delima untuk Rena agar nanti Rena tinggal makan saja.


"Kamu masak apa?" tanya Rena setelah selesai berganti baju dan menghampiri Dito yang tengah berkutat di dapur.

__ADS_1


"Aku cuma buat sop buntut, gak papa kan?" balas dito.


"Sini aku bantu."


"Ehh gak usah biar aku sendiri saja. Mending kamu duduk sambil makan buah delima, tadi sudah aku siapkan untuk kamu di meja." suruh Dito.


"Aku mau bantu kamu, masak Iya yang punya rumah malah yang masak sih, kan aku gak enak."


"Loh kamu itu gimana sih, kan emang tamu itu adalah raja. Jadi ya aku yang sebaiknya melayani kamu." balas Dito tak mau kalah.


"Udah sana kamu duduk yang manis, nanti kalau sudah matang aku minta kamu buat bantu cicipi." lanjut Dito.


"Ya udah deh." Rena pun memutuskan untuk duduk manis di meja makan sambil memakan buah delima yang sudah tersedia di sana.


"Ini yang tadi kamu beli di minimarket?" tanya Rena pada Dito yang tengah fokus memasak.


Kebetulan memang posisi dapur dan tempat makan satu tempat, jadi mereka juga dengan mudah saling berbicara.


"Iya, nanti sisanya kamu bawa pulang ya buat kamu makan di rumah. Nanti kalau habis kasih tahu aku biar aku beliin lagi." jawab Dito.


"Kamu gak perlu repot-repot sampai begini. Mendingan uangnya buat kamu simpan aja. Kalau untuk beli makanan atau buah buahan aku masih bisa kok ambil uang belanja harian yang ibu kasih."


Dito menghampiri Rena setelah mengecilkan api kompor.


"Tapi aku gak mau merepotkan kamu."


"Aku gak merasa di repotin kok, aku malah senang kalau kamu minta sesuatu sama aku. Karena itu tandanya aku berguna buat kamu."


"Oh iya, tadi kan aku mau kasih syarat ya sama kamu." lanjut Dito saat mengingat percakapan mereka di mobil tadi saat menuju apartemennya.


"Apa syaratnya?" tanya Rena.


"Nanti selesai makan aku kasih tahu, sekarang kamu coba cicipi masakan aku." Dito menarik tangan Rena.


Dito mengambil sendok dan mengambil sedikit kuah sop buntut. Dito meniupnya agar dingin baru setelah itu dia menyuapkannya pada Rena.


"Aaa...."


"Aku bisa mencobanya sendiri." Rena menolak suapan dari Dito.


"Udah nurut aja apa susahnya sih." paksa Dito.


Akhirnya Rena pun menerima suapan dari Dito meskipun agak canggung dan merasakan rasa masakan Dito.

__ADS_1


"Gimana, enak gak, atau ada yang kurang?" tanya Dito karena Rena hanya diam saja tak memberikan tanggapan.


"Gak enak ya." tebak Dito.


"No, ini enak banget." balas Rena sambil tersenyum.


"Beneran?"


Rena mengganguk, "Kalau kamu gak percaya coba aja sendiri." suruh Rena.


Dito pun langsung mencobanya mengunakan sendok yang sama bekas Rena tadi.


"Wah iya ternyata rasanya pas." setuju Dito.


"Kenapa?" tanya Dito karena Rena memandang dengan pandangan yang sulit untuk di artikan.


"Kamu gak jijik?" tanya Rena yang membuat Dito bingung.


"Maksud kamu?"


"Itu sendoknya kan bekas aku." jelas Rena melihat sendok yang ada di tangan Dito.


"Ngapain harus jijik sih, lagian nanti juga bakalan sering bahkan bisa dari sumbernya langsung." balas Dito ambigu.


"Maksud kamu?" tak mengerti Rena dengan maksud Dito.


"Ehh enggak kok, ya udah ayo kita makan sekarang nanti keburu sopnya dingin jadi gak enak." ajak Dito mengalihkan pembicaraan mereka.


Dito mematikan kompor dan langsung membawanya ke meja makan. Sedangkan Rena juga mengikutinya, Rena tak mau ambil pusing tentang apa yang Dito ucapkan. Masalahnya aja sudah banyak, jadi takut nanti gak muat kalau di tambah memikirkan perkataan Dito tadi.


Mereka makan sambil di iringi candaan yang Dito buat. Entah itu lucu atau tidak yang pasti Rena tertawa saja.


Selesai makan dan membereskan barang barang kotor di dapur, Dito mengajak Rena ke ruang tamu untuk membicarakan syarat yang akan Dito berikan.


"Kamu tunggu di sini dulu." suruh Dito mendudukkan Rena di sofa dan setelah itu Dito pergi ke kamarnya.


Tak berapa lama Dito kembali dengan sesuatu yang ada di tangannya.


"Syaratnya adalah kamu harus mau menerima ini." ucap Dito menyodorkan sesuatu pada Rena.


Rena menatap benda itu dan mengalihkan tatapannya pada Dito.


...***...

__ADS_1


__ADS_2