Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTP#114


__ADS_3

Richard membuka matanya dan mendapati di atasnya ada Jenifer yang tidur sambil memeluk tubuhnya.


Senyum Richard tersungging, dia mengelus pipi tembem Jenifer agar Jenifer bangun.


"Bentar mom, Jeni masih ngantuk." gumam Jenifer dengan mata yang terpejam.


Richard terkekeh mendengar itu, mungkin Jenifer sudah terbiasa dengan mommy nya yang setiap hari membangunkan tidurnya.


"Jeni yuk bangun, kamu kan harus ikut olimpiade habis ini." ucap Richard membangunkan Jenifer.


Perlahan mata Jenifer terbuka, Jenifer memandang wajah tampan Richard.


"Loh," cengoh Jenifer dan langsung duduk di atas perut Richard yang keras.


"Kenapa hmm, lupa?" tanya Richard.


"Oh iya, Jeni kan ada di Jakarta." ucap Jenifer yang baru sadar kalau ternyata dia tidak ada di rumahnya.


"Yuk bangun habis ini kamu harus ikut olimpiade." ucap Richard agar Jenifer bangun.


"Iya om." balas Jenifer dan turun dari tubuh Richard.


"Mau Om bantu mandi gak?" tanya Richard.


"Tidak, Jeni udah besar, udah bisa mandi sendiri." tolak Jenifer.


"Ya sudah, Om siapkan air hangat buat kamu dulu, habis itu kamu mandi." ucap Richard dan du angguki Jenifer.


Richard pergi ke kamar mandi menyiapkan air hangat buat Jenifer, dan setelah selesai dia kembali keluar lagi.


"Ayo Jeni airnya sudah siap."


"Oke om." balas Jeni dan langsung pergi masuk ke dalam kamar mandi.


Richard tersenyum melihat Jenifer yang sudah hilang di telan pintu kamar mandi, dia merasa seperti tengah mengasuh anaknya di saat di tinggal istri lagi memasak.


Richard keluar dari kamar dan mendapati adanya Ethan di luar kamarnya.


"Loh, kau sudah di sini?" tanya Richard.


"Iya tuan, sejak anda masih tidur tadi." balas Ethan.


"Coba tuan lihat." suruh Ethan menyodorkan handphonenya pada Richard.


Richard pun mengambil handphone itu dan melihat apa yang ada di sana.


Senyum Richard terbit melihat foto dirinya dan Jenifer yang lagi tidur.


"Kamu kirim ke saya." perintah Richard.


"Baik tuan." balas Ethan.


Richard pun kembali masuk ke dalam kamar karena dia rasa Jenifer sudah selesai dari kamar mandi.


"Sudah mandinya?" tanya Richard.

__ADS_1


"Sudah Om." balas Jenifer.


Om mandi dulu ya, habis itu nanti Om akan bantu kamu pakai baju." ucap Richard pamit ke kamar mandi.


"Oke Om." balas Jenifer.


Richard pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, dan setelah selesai mandi, dia langsung memakai pakaiannya dan berganti dia akan membantu Jenifer memakai pakaiannya.


"Mana seragam kamu biar Om bantu pakaiin?" tanya Richard setelah dia sudah rapi.


Jenifer pun langsung menghampiri tas punggung miliknya dan langsung mengambil seragam yang akan dia gunakan untuk olimpiade habis ini.


Dengan telaten Richard membantu Jenifer memakai seragamnya, dan setelah itu Richard juga yang menguncir rambut Jenifer.


"Dah Jeni udah cantik." ucap Richard setelah selesai mendadani Jenifer.


"Wah iya, Jeni cantik." balas Jenifer menatap dirinya di dalam cermin.


"Oh iya kan emang mama Jeni cantik, jadi Jeni juga cantik dong." lanjut Jenifer memuji dirinya sendiri.


"Kamu gemesin banget sih, kamu jangan pulang ya di sini aja sama om Richard." gemas Richard, saking gemasnya dia sampai tidak rela kalau besok harus berpisah dengan Jenifer.


"Nanti kalau Jeni gak pulang mommy nangis di rumah." balas Jenifer polos.


"Hahaha Om hanya becanda sayang." Richard mencubit hidung Jenifer.


"Om, nama Om siapa sih, kok Jeni belum tahu?" tanya Jenifer, pasalnya sedari kemaren hanya dirinya yang memperkenalkan diri pada Richard.


"Oh iya Om belum ngasih tahu kamu ya, nama Om Richard, dan kepanjangan nama Om sama seperti kamu. Richard Halmiton Ghilbert." jawab Richard menyebutkan namanya.


Deg.


Jantung Richard berdetak mendengar apa yang Jenifer ucapkan, anak kecil tidak mungkin berbohong, dan Richard juga merasa tidak pernah main sama wanita lain selain Diandra, dan sekarang Diandra juga sudah tidak ada, jadi mana mungkin Jenifer anaknya.


"Emang nama mommy kamu siapa hmm?" tanya Richard penasaran.


"Nama mommy aku Diandra, Diandra Safaluna."


Deg.


Lagi dan lagi Richard harus di kagetkan dengan jawaban jawaban yang anak itu berikan.


Kenapa semuanya harus sama seperti ini, apakah memang Jenifer ini anaknya, tapi rasanya itu tidak mungkin.


Richard menggambil handphonenya dari atas meja di depannya, dia membuka handphonenya dan menampilkan foto Diandra yang dia jadikan wallpaper layar utama miliknya.


"Jeni apakah Om boleh bertanya lagi?" tanya Richard.


"Iya Om boleh." balas Jenifer.


"Jeni kenal orang ini gak?" tanya Richard menunjukkan handphone miliknya.


Jenifer pun melihat ke arah handphone itu, dan seketika matanya berbinar saat melihat ada foto mommy nya di sana.


"Wah itu mommy, mommy cantik banget gak kayak sekarang wajahnya kucel gara gara sering main di sawah." takjub Jenifer saat melihat foto cantik Diandra.

__ADS_1


"Dia mommy mu?" tanya Richard memastikan.


"Iya om, dia mommy Diandra, mommy nya Jenifer." balas Jenifer yakin.


Mendengar itu seketika Richard langsung memeluk Jenifer dan air matanya tak dapat di bendung lagi.


Richard tidak menyangka kalau selama ini dirinya sudah mempunyai anak bersama Diandra, dan yang lebih membuatnya tidak percaya adalah ternyata selama ini Diandra masih hidup, Diandra belum pergi meninggalkan dirinya.


"Om kenapa, kok Om nangis?" tanya Jenifer saat mendengar Richard menangis.


"Tidak kok, Om tidak kenapa kenapa." balas Richard menatap Jenifer dalam.


Dia tidak akan memberi tahu Jenifer sebelum dia memastikannya sendiri, mungkin nanti setelah olimpiade Richard akan membawa Jenifer pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA, guna nanti kalau saat dia menghampiri Diandra dan Diandra mengelak atas semua yang ada.


"Om kalau nangis jelek tau, gak ganteng lagi." balas Jenifer.


"Iya Om gak nangis lagi kok, Om boleh peluk Jeni lagi gak?" pinta Richard.


"Iya Om boleh." balas Jenifer dengan senang hati.


Richard pun memeluk Jenifer kembali, dia kenapa tidak menyadari kalau mata Jenifer sangat mirip dengan mata Diandra, sedangkan Jenifer lebih mirip dengan wajahnya.


Setelah puas memeluk Jenifer, Richard pun melepaskan pelukannya dan menatap wajah Jenifer dan di balas tatapan pula oleh Jenifer.


"Bibir itu, mata itu sangat mirip dengan punya kamu sayang." batin Richard menatap Jenifer.


"Tuan." ucap Ethan yang langsung masuk ke dalam kamarnya dengan ekspresi yang tak bisa di jelaskan.


"Saya sudah tahu Ethan." balas Richard saat mengerti kalau Ethan akan memberitahu dirinya tentang siapa Jenifer.


"Saya tidak percaya dengan semua ini tuan, ternyata selama ini nona masih hidup." tak percaya Ethan.


"Saya pun begitu, wanitaku emang terlalu pintar." balas Richard sambil tersenyum smirk mengingat bagiamana cara Diandra kabur dan menghilangkan jejaknya.


"Benar tuan, sama seperti anda, sama sama licik." setuju Ethan.


"Om lagi ngomongin apa?" tanya Jenifer yang tidak mengerti dengan apa yang di bahas orang orang dewasa di hadapannya ini.


"Tidak kok, yuk kita pergi nanti kamu bisa telat." balas Richard menggendong Jenifer.


"Ethan bawakan tas Jeni." perintah Richard.


"Baik tuan." balas Richard dan langsung mengambil tasnya Jenifer.


"Nanti kalau Jeni jadi juara, Om ada hadiah khusus buat kamu." ucap Richard agar Jenifer semakin semangat dalam mengikuti olimpiade.


"Beneran Om?"


"Iya dong, jadi nanti kamu harus semangat ya biar kamu memang, terus jangan dengarkan apa kata kata teman teman yang lain." pesan Richard.


"Baik Om."


Mereka bertiga pun langsung pergi menuju tempat yang semalam, dengan Richard yang mengendong Jenifer dan ada Ethan yang setia membawakan tas Jenifer di belakang Richard.


...***...

__ADS_1


__ADS_2