
"Om gak bisa jawab sekarang, nanti kalau kami sudah besar kamu akan tahu artinya itu apa. Dan om tegasin sama kamu kalau mommy kamu bukan wanita murahan seperti apa yang mereka bilang." balas Richard.
Richard bingung harus menjelaskannya seperti apa, jadi jalan pintasnya hanya itu.
"Huh, padahalkan Jeni udah besar." balas Jenifer cemberut.
"Iya kamu udah besar, tapi kamu belum saatnya tahu ya." balas Richard dengan sabar.
"Om om om, kita kok bisa terbang sih?" tanya Jenifer mengalihkan pembicaraannya sendiri.
"Hufft...." Richard menghela nafasnya, dia sepertinya harus ekstra sabar menghadapi Jenifer.
"Karena kita naik pesawat." jawab Richard seadanya.
Setelah itu Jenifer diam tak bertanya lagi, dia lebih fokus menatap keluar jendela, di sana dia bisa melihat ada awan awan, serta dia juga bisa melihat ada rumah kecil kecil di bawah sana.
Lama terdiam, Richard merasakan hembusan nafas yang teratur di dadanya, Richard pun melonggarkan pelukannya dan dan melihat ternyata mata Jenifer sudah tertutup rapat.
"Pantas aja diem, ternyata udah tidur." gumam Richard sambil tersenyum menatap anaknya.
Richard membelai rambut Jenifer yang menutupi wajahnya, dia menatap wajah Jenifer lama.
"Bagiamana kamu dulu saat melahirkannya sayang?" gumam Richard membayangkan bagaimana dulu Diandra yang berjuang sendirian tanpa ada yang menemani untuk melahirkan Jenifer.
Richard janji nanti saat sudah bertemu dengan Diandra dia akan meminta maaf dan menebus semua kesalahannya yang dulu.
Lama mengudara di atas awan, akhirnya jet pribadi milik Richard mendarat sempurna di bandara yang ada di Jakarta.
Mereka semua turun dari pesawat, Richard mengendong Jenifer yang masih tertidur dengan nyenyak.
Richard terlihat seperti hot Daddy yankee tengah menggendong anaknya, banyak wartawan yang meliput Richard, Richard membuatnya saja, biarkan dunia tahu kalau dia sudah mempunyai anak.
"Apakah dari sini rumahnya masih jauh?" tanya Richard pada ibu Sari.
"Lumayan tuan, kalau jalanan lancar 45 menit kita bisa sampai, tapi kalau macetnya bisa sampai satu jam baru sampai di sana." jawab ibu Sari.
Richard diam tak membalas, dia sibuk membenarkan letak rambut Jenifer yang menghalangi wajah cantik Jenifer.
"Emhh...." lengkuh Jenifer merasa tidurnya terganggu.
"Sayang kamu sudah bangun?" tanya Richard membenarkan duduk Jenifer di pangkuannya.
"Kota udah sampai ya Om?" tanya Jenifer menatap ke luar jendela.
"Iya, sebentar lagi kota udah sampai, kenapa Jenifer sudah kangen sama mommy ya?" balas Richard.
__ADS_1
"Iya Om, Jeni kangen sama mommy." balas Jenifer.
Cup.
"Kamu gemesin banget sih." gemas Richard mencium pipi tembam Jenifer.
"Geli Om." ucap Jenifer karena bulu halus Richard terasa sangat mengelikan saat bersentuhan dengan kulitnya.
"Masa sih?" balas Richard dan semakin mendusel duselkan kepalanya di pipi dan leher Jenifer sehingga membuat Jenifer tertawa kegelian.
"Hahaha... udah om geli." tawa Jenifer.
Ibu Sari yang memperhatikan kedekatan mereka berdua pun semakin heran, tidak mungkin Tian Richard akan sedekat itu kepada orang lain, pikir ibu Sari.
Mereka pun sampai di depan rumah Diandra, Richard menatap nanas rumah kecil yang ada di depannya.
Wanita yang dulu melakukan apapun dan bahkan sampai menjadi penipu agar bisa mendapatkan uang hidup dia tempat seperti ini bersama anaknya, rasanya itu sungguh tidak percaya.
"Mommy Jeni pulang." teriak Jenifer saat keluar dari mobil.
Karena berada di gendongan Richard maka Jenifer tidak bisa berlari masuk untuk menemui mommy nya.
Sedangkan mobil yang mengantarkan Richard tadinya pun langsung pergi untuk menggantarkan ibu Sari pulang ke rumahnya.
Ceklek.
"Jeni... fer." rasanya Diandra ingin sekali memeluk orang yang ada didalam hadapannya saat ini.
Apakah dia salah lihat, apakah matanya sudah rabun. Bagiamana bisa anaknya sekarang berada di gendongan Daddy-nya, pikir Diandra.
Richard yang tahu Diandra terkejut pun hanya bisa tersenyum saja, dia mengamati penampilan Diandra dari atas hingga bawah.
Jauh, semuanya beda jauh dari yang dulu, sekarang pakaian yang dikenakan Diandra jauh beda seperti dulu.
Jika dulu pakaian Diandra modis dan dari brand brand ternama, maka tidak untuk sekarang yang hanya mengenakan daster selutut saja.
"Mom, Jeni bawa pizza sama Berger buat mommy, om Richard yang beliin." ucapan Jenifer berhasil menyadarkan keduanya.
"Jeni sayang." Diandra langsung mengambil Jenifer dari gendongan Richard.
Dia mengabaikan Richard dan akan langsung masuk ke dalam rumah, tapi tangannya langsung di tahan oleh Richard.
"Apakah kamu tidak merindukanku?" ucap Richard menatap dalam mata Diandra yang tengah menatapnya.
"Tuan ini makanannya." ucap Ethan memberikan pizza dan Berger pada Richard.
__ADS_1
"Pergilah." balas Richard, karena Richard hanya ingin waktu sendiri bersama Diandra.
"Baik tuan." balas Ethan dan pergi dari sana.
Diandra memanfaatkan itu untuk masuk ke dalam rumah, tapi saat akan menutup pintu ada kaki Richard yang menahan pintu agar tidak tertutup.
"Mom, kaki Om Richard terjepit." ucap Jenifer membuat Diandra kesal dan tetap membiarkan Richard masuk kedalam rumahnya.
Sedangkan Richard pun tersenyum senang karena anaknya telah membela dirinya.
Richard ikut masuk dan menutup pintu kembali agar tidak ada orang lain yang melihat dirinya dan Diandra di dalam.
"Untuk apa kau di sini?" tanya Diandra membawa Jenifer untuk duduk di ruang tamu.
"Mengikuti anakku." balas Richard yakin.
"Anak, mana anakmu?" balas Diandra cuek, padahal dalam hatinya sudah ketir ketir kalau Richard tahu tentang Jenifer adalah anaknya.
"Tuh di pangkuanmu." balas Richard menunjuk Jenifer.
Jenifer yang tidak mengerti dengan apa yang mommy nya dan Om Richard bicarakan kan pun memilih turun dari pangkuan Diandra dan pergi menuju dapur.
"Sayang aku kangen, apa kau tidak merindukanku?" Richard mendekati Diandra dan langsung memeluk Diandra dengan erat.
"Aku minta maaf sama kamu, aku janji tidak akan mengulanginya lagi, tapi plis kamu kembali ya." pinta Richard memohon.
"Tolong lepaskan aku, gak enak sama Jenifer." balas Diandra meminta untuk Richard melepaskannya.
"Tidak sebelum kamu memaafkanku." tolak Richard.
"Aku hancur tanpa kamu, aku minta maaf kalau aku selama ini sudah banyak salah sama kamu, aku minta maaf." ucap Richard lagi memohon maaf dari Diandra.
"Sudahlah Richard, semuanya juga sudah berlalu Aku juga sudah melupakannya." balas Diandra.
"Tidak, kamu tidak boleh melupakan aku, aku sayang sama kamu aku cinta sama kamu, aku ingin kita hidup seperti dulu lagi."
"Dengan kamu yang suka membunuh orang?" balas Diandra sambil tersenyum smirk.
"Tidak sayang, aku sudah tidak seperti itu lagi, aku sudah tobat." balas Richard meyangkal ucapan Diandra.
"Maaf tapi aku tidak percaya dengan kamu lagi." balas Diandra.
"Kamu harus percaya sayang, kamu bisa tanya Ethan gimana aku selama ini setelah kamu hilang, kamu bisa tanya dia bagaimana menderitanya aku setelah kamu pergi meninggalkanku." balas Richard.
...***...
__ADS_1