
Dito membawa Rena ke dalam pelukannya. Dia terus berusaha menenangkan Rena hingga akhirnya Rena bisa tenang kembali.
"Aku boleh minta sesuatu gak sama kamu?" tanya Dito.
Rena pun melepaskan pelukan Dito dan menatap Dito, "Minta apa?" tanya Rena.
"Bisa gak kamu jangan pakai kata saya kalau lagi ngomong sama aku, aku kamu aja ya." pinta Dito.
Rena terdiam sebentar baru setelah itu dia menggangukkan kepalanya pertanda menyetujui permintaan Dito.
"Emang kamu punya nomor kakak kamu?" tanya Dito.
"Itu dia yang buat aku bingung, aku belum punya nomor kak Dian. Rencananya sih aku mau ambil dari handphone ibu, tapi itu susah karena ibu tidak akan membiarkan hal itu terjadi." jawab Rena.
"Kamu tenang saja, serahkan semuanya sama aku. Aku janji akan mendapatkan nomor telepon kakak kamu secepatnya."
"Oh iya kapan jadwal kamu cuci darah lagi, aku mau temenin kamu." lanjut Dito.
"Eemm... sepertinya tiga hari lagi kalau gak ada halangan." balas Rena.
"Aku gak mau tahu, pokoknya nanti kamu harus tetap cuci darah. Apapun halangannya harus kamu lalui biar kamu cepat sembuh."
"Iya, aku usahain buat tetap cuci darah nanti." balas Rena sambil tersenyum.
"Nah gitu dong, nanti aku jemput di depan gang rumah kamu ya." Balas Dito di angguki oleh Rena.
"Makasih ya kamu sudah baik sama aku." ucap Rena.
"Aku akan melakukan apapun untuk kamu, asal kamu bahagia." balas Dito.
"Ya udah yuk kita pulang, nanti ibu kamu nyariin kamu lagi." ajak Dito dan di angguki Rena.
Akhirnya mereka pun pulang dari sungai dengan hati Dito yang berbunga bunga karena sudah berhasil berduaan dengan Rena tadi.
...**...
Sementara itu Richard tidak membawa Diandra pulang ke kontrakan Diandra, melainkan membawanya pulang ke apartemennya.
"Ini di mana?" tanya Diandra saat melihat sekeliling hanya ada bangunan yang tinggi tinggi.
"Yuk masuk." ajak Richard.
Richard menggandeng tangan Diandra memasuki gedung apartemennya dan langsung masuk ke dalam lift khusus untuk dirinya saja.
Sampai di lantai paling atas sendiri, Richard langsung membawa Rena masuk ke dalam apartemennya. Kebetulan di lantai paling atas hanya ada satu apartemen dan itu milik Richard.
__ADS_1
Saat masuk ke dalam apartemen Richard, Diandra terpesona melihat bagaimana dalam apartemen mewah milik Richard yang sangat luas.
"Ini apartemen kamu?" tanya Diandra dan di angguki Richard.
"Kenapa, kamu mau juga? Kalau mau nanti bisa aku belikan di lantai bawah." ucap Richard.
"Ehh enggak enggak, aku cuma tanya aja."
"Beneran loh kalo kamu mau nanti bisa aku beliin."
"Tidak usah sayang ku, aku udah nyaman kok tinggal di kontrakan."
"Ya sudah terserah kamu aja, tapi nanti kalau suatu saat kamu mau bilang sama aku biar aku beliin."
"Iya nanti aku bakal kasih tahu kamu kalau aku mau."
"Kita ke kamar aku yuk." ajak Richard menarik tangan Diandra menuju kamarnya.
Saat memasuki kamar Richard bau harum khas lelaki masuk di indra penciuman Diandra yang membuat Diandra hampir mabuk kepayang.
Diandra mengamati kamar Richard, kamar khas lelaki yang di dominasi warna abu abu dan putih. Serta ada foto besar Richard di atas ranjang miliknya, foto bertelanjang dada yang dapat membuat orang yang melihatnya terkesima, tak terkecuali Diandra. Pipi Diandra sampai merah sendiri melihat foto telanjang dada Richard.
"Kenapa, mau lihat langsung?" tanya Richard sambil menaik turunkan alisnya menggoda Diandra.
"Bikin gemes aja kamu ini, tar ya aku ganti baju dulu." mencubit pipi Diandra dan pergi meninggalkan Diandra menuju ruang ganti.
Setelah kepergian Richard Diandra mengelilingi kamar Richard untuk melihat lebih detail lagi. Jika kebanyakan cowok kamarnya tak terawat dan berantakan, maka tidak dengan kamar Richard, kamar Richard sangat bersih dan rapi. Diandra saja yang cewek merasa kalah.
Ceklek.
Richard keluar dari ruang ganti hanya menggunakan kaos singlet dan celana boxer dan tak lupa rambutnya yang sudah berantakan, membuat Richard semakin kelihatan tampan di mata Diandra. Diandra sampai melongo melihat Richard.
"Awas nanti lalatnya masuk." tegur Richard membuat Diandra buru buru menutup mulutnya.
"Aduh bego banget sih." gerutu Diandra memakai dirinya sendiri.
"Kenapa hmm, aku tahu kalau aku tampan." pede Richard.
"Apaan sih." malu Diandra.
Richard hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya saja. Richard pun beranjak mengambil sesuatu yang hampir dia lupakan tadi.
Richard berjalan menghampiri Diandra dan menyerahkan paper bag untuk Diandra.
"Ini apa?" tanya Diandra.
__ADS_1
"Ada deh, nanti kamu bukanya di rumah saja ya, jangan di sini." jawab Richard yang semakin membuat Diandra penasaran.
Diandra pun mengintip sebentar isi paper bag itu karena penasaran, tapi tetap saja tidak kelihatan isinya.
"Kamu gerah gak?" tanya Richard.
"Emang kenapa?" balik tanya Diandra, dia sudah was was takut kalau Richard berbuat sesuatu yang emmm....
"Ya gak papa sih, cuma kalau kamu gerah kamu bisa mandi dan ganti baju." jawab Richard.
"Kan aku gak bawa baju ganti."
"Kamu bisa pakai kaos aku atau baju aku yang lain."
Diandra berpikir sebentar sebelum mengambil keputusan. Memang benar sih tubuhnya rasanya sudah lengket karena habis makan banyak tadi jadi membuat tubuhnya berkeringat, apalagi tadi di mobil mereka sempat berbuat sesuatu yang dapat membuat dia berkeringat.
"Ya udah deh aku pinjam kamar mandinya dulu ya." putus Diandra dan di angguki Richard.
Diandra pun pergi untuk membersihkan tubuhnya, tapi dia tak lupa mengambil baju yang akan dia kenakan terlebih dahulu agar tidak ada kejadian seperti yang ada di novel novel.
Sedangkan Richard setelah kepergian Diandra dia memutuskan untuk keluar kamar, Richard berencana akan menghubungi Ethan.
'Halo tuan.' sapa Ethan dari sebrang sana.
'Saya minta sama kamu hari ini jangan pulang ke apartemen. Kalau bisa kamu cari apartemen sendiri nanti saya yang bayar.' suruh Richard.
'Emang kenapa tuan, apakah saya berbuat salah?' heran Ethan.
'Tidak, kamu tidak ada salah. Saya cuma mau tinggal sendirian saja di sini.' balasan Richard.
'Saya tutup dulu, ingat jangan pulang ke apartemen sekarang. Kalau kamu mau ambil barang barang kamu besok saja.' peringat Richard dan langsung mematikan sambungan telepon.
Dan setelah itu dia kembali masuk ke dalam kamarnya.
...**...
"Tunggu deh, tuan larang aku buat kembali ke apartemen sekarang. Trus tuan juga suruh aku buat cari apartemen sendiri. Kok kayak ada yang aneh ya, mana aku gak boleh ambil barang barang sekarang lagi." monolog Ethan setelah sambungan telepon terputus.
Ting.
Sebuah pemikiran muncul di otak Ethan.
"Aku tahu, tadi tuan pergi mau ketemu sama nona Diandra. Jangan jangan sekarang mereka lagi...."
...***...
__ADS_1