
Terlihat di sana Radit sedang terbaring lemas, dengan tangan dan kaki yang di ikat dengan rantai besi.
"Bangunkan dia." perintah Richard.
"Baik tuan." balas anak buah Richard.
Anak buah Richard mengambil ember yang berisi air es yang mengandung garam tinggi. Sehingga nanti orang yang terkena air itu akan merasakan perih di bagian tubuh yang terluka.
BYURRR.
"BANGUN." ucap keras anak buah Richard sambil menendang tubuh Radit.
"Aah perih perih perih." jerit Radit agak tidak jelas.
Bibirnya yang terluka membuat tubuhnya merasakan perih yang luar biasa.
Semalam saat Radit sadar dari pingsannya, mereka memberikan Radit makanan dan minuman yang di dalamnya mengandung air keras. Maka dari itu sekarang seluruh bagian mulut Radit terluka, terutama lidahnya.
"BERISIK." bentak Richard.
Radit pun diam dan menatap Richard.
"Siapa kamu?" tanya Radit dengan suara yang tidak jelas karena mulut dan lidahnya yang terluka.
"Oh ayolah masak anda tidak mengenali saya sih." balas Richard.
Radit berfikir, memang wajah Richard seperti tidak asing di ingatannya. Hingga perlahan dia mulai menggugatnya, pengusaha sukses asal Amerika yang baru saja membuka cabang di Indonesia.
"Apa maksudmu menyekapku seperti ini?" tanya Radit.
"Menurutmu?" balik tanya Richard.
Richard berjalan menghampiri Radit, dia memegang telinga Radit yang menurutnya sangatlah indah.
"Hahahaha... pasti karena perusahaan mu kalah saing dengan perusahaan ku kan. Dasar banci, beraninya main keroyokan." ledeh Radit.
"Hahahaha... apa anda bilang? Perusahaan anda yang kecil itu tidak ada apa apanya di bandingkan dengan perusahaan saya. Kurang kerjaan banget saya harus menyekap anda seperti ini kalau cuma perkara perusahaan. Kalau saya mau udah saya gulingkan tuh perusahaan dari dulu." balas Richard.
"Lalu?"
"Siapa pacar kamu sekarang?" tanya Richard.
"Pacar? Aku tidak punya pacar tuh, kalau mainan ada." jawab Radit.
Bug.
"S1al4n berani beraninya anda menjadi kekasih saya mainan." marah Richard memberikan tinjauan di wajah tampan Radit.
__ADS_1
"Hahahaha... jadi karena itu anda menyekap saya. Dasar bodoh, bisa bisanya pengusaha kaya tapi di selingkuhi oleh wanitanya." ejek Radit lagi.
"AAAHHH.... " jerit Radit karena Richard mengigit telinganya hingga terlepas.
"Aaaa... telingakuu...." erang Radit saat melihat telinganya sudah tergeletak di lantai depannya.
"Telinga yang cantik, boleh lah nanti di bikin aksesoris tas." ucap Richard dingin.
"Dasar psikopat, saya udah curiga dari awal kalau bisnis anda itu tidak benar." tuduh Radit.
"Lalu, apakah bisnis anda itu benar, dengan meniduri banyak wanita yang mau menjadi model guna memuaskan nafsu mu." balas Richard sambil tersenyum mengejek.
"Tuan ada telfon dari nona Diandra." ucap Ethan memberitahukan kalau Diandra tengah menelfon Richard.
"Mungkin tuhan menyayangi mu, hingga tak membiarkan saya menyiksa mu sebelum mati." ucap Richard dingin dan menatap tajam pada Radit.
Richard berdiri dan langsung mengambil parang.
"Mau apa kamu?" takut Radit.
"Membantumu menuju neraka." jawab Richard santai.
"KYAA...."
"Aaa...."
"Bersihkan ini jangan sampai ada yang lecet. Setelah itu simpan di ruangan saya." perintah Richard pada anak buahnya.
"Ba-baik tuan." balas anaknya buah Richard gugup.
Dengan tangan gemetar anak buah Richard mulai membawa hati dan jantung Radit pergi dari sana.
"Dan kalian, bereskan semuanya jangan sampai ada jejak. Kasih mayat ini ke Harimauku, sudah lama dia tidak makan enak seperti ini." perintah Richard pada anak buahnya yang lain.
"Baik tuan." balas mereka.
Richard pun pergi dari sana menuju kamarnya yang berada di markas untuk membersihkan dirinya yang sudah banyak terkena bercak darah. Ethan langsung menyiapkan segala keperluan Richard, mulai dari pakaian dan lain sebagainya.
...**...
"Iiihh Richard mana sih, aku kan bingung mau pulang gimana ini. Dari tadi gak ada taksi yang lewat." kesal Diandra.
Saat ini Diandra berada di pinggir jalan yang jauh dari apartemen maupun kontrakannya. Tadi dia pergi ke sana menaiki ojek online dan sekarang dia bingung harus bagaimana pulangnya.
"Mang ini beneran gak ada taksi yang lewat sini?" tanya Diandra pada penjual pinggir jalan yang baru saja Diandra beli.
"Gak ada mbak, karena di sini bukan jalur taksi. Palingan ada kalau taksi itu habis turunin penumpang." jawab penjual itu.
__ADS_1
"Kalau pangkalan ojek ada gak?" tanya Diandra lagi.
"Ada mbak, tapi itu jauh satu kilometer lagi dari sini."
Jawaban penjual itu semakin membuat Diandra pusing. Sedari tadi Diandra juga mencari ojek maupun taksi online di handphonenya. Tapi semuanya pada menolak Diandra karena posisi Diandra yang sangat jauh dari letak mereka.
"Terus ini saya gimana pulangnya?"
"Mbaknya tunggu aja, mungkin nanti ada taksi atau ojek yang turunin penumpang di sini." balas penjual itu.
"Aaa.... aku pengen pulang. Awas aja Richard kalau nanti malam butuh sesuatu gak bakal aku kasih." kesal Diandra.
Diandra pun mulai menghubungi Richard lagi, tapi tetap sama seperti tadi, tidak ada Jawa dari orang di sana. Hal itu semakin membuat Diandra kesal.
"Buat apa uang banyak kalau ujung ujungnya aku juga terlantar di sini. Awas aja besok bakal aku habisin uang Richard buat beli mobil."
"Permisi mang, saya mau beli kerak telornya dua ya." ucap seorang laki-laki yang berada di belakang Diandra.
"Iya mas, mbak silahkan di tunggu sebentar ya." balas penjual kerak telor itu.
"Iya mang." balas mereka berdua.
"Kok suaranya kayak gak asing ya yang cewek." gumam Diandra.
Diandra pun mulai membalikkan tubuhnya untuk memastikan apakah dia mengenal orang yang ada di belakangnya apa tidak.
"RENA." kaget Diandra saat melihat keberadaan adiknya di sana.
"KAKAK." balas Rena yang juga kaget.
Rena pun langsung memeluk Diandra begitu erat untuk menyalurkan rasa rindunya pada sang kakak.
"Kakak kemana saja, Rena hubungi kakak selalu gak bisa. Nomor telfon kakak selalu gak aktif." ucap Rena dalam pelukan Diandra.
"Kakak ganti nomor handphone, kan kakak sudah kasih tahu ibu kalau kakak ganti nomor. Emang ibu tidak kasih tahu kamu?" balas Diandra.
"Aku kabur dari rumah kak, ibu jahat sama aku." adu Rena sambil menangis.
"Maaf kak sebaiknya kalian duduk dulu. Kasian nanti Renanya kecapekan." suruh laki laki yang tidak Diandra kenal.
Diandra sama Rena pun duduk di tempat penjual kerak telor lagi sambil terus berpelukan.
"Rena kangen sama kakak, kakak jangan tinggalin Rena lagi ya. Rena takut sendirian." ucap Rena.
"Iya maafkan kakak ya yang udah meninggalkan kamu sendirian di sana." balas Diandra.
...***...
__ADS_1