
Ethan kembali menemui Elina setelah mendapatkan apa yang dia cari. Ethan berjalan menghampiri Elina tadi dia datangnya dari arah belakang Elina jadi Elina tidak akan tahu kelau Ethan tengah membawa satu iket bunga matahari.
"Astaga." kaget Elina saat tiba tiba ada bunga matahari di depannya.
Elina langsung melihat ke arah belakang dan di sana dia melihat wajah tampan Ethan yang tengah tersenyum.
"Kamu bikin aku kaget saja." ucap Elina pada Ethan yang sekarang sudah duduk di samping Elina.
"Ini buat kamu." ucap Ethan memberikan bunga matahari itu pada Elina.
"Kamu masih menyukainya kan?" tanya Ethan saat melihat Elina diam saja tidak menerima bunga matahari pemberiannya.
Padahal seingatnya dulu Elina sangat menyukai bunga matahari, karena bagi Elina itu melambangkan dirinya yang selalu hidup bahagia.
"Itu dulu, sekarang tidak lagi." jawab Elina mengalihkan pandangannya dari bunga matahari itu.
"Kenapa?" tanya Ethan penasaran.
"Kamu masih tanya kenapa, bunga matahari itu melambangkan kebahagiaan. Lantas untuk apa aku menyukainya kalau hidupku sudah tidak sebahagia dulu." jawab Elina tanpa menatap Ethan.
Ethan menarik tangannya yang menyodorkan bunga matahari itu. Ethan bangun dan membuang bunga matahari itu ke tempat sampah yang tak jauh darinya.
"Tunggu." tahan Elina saat tangan Ethan akan melepaskan bunga matahari itu ke dalam tong sampah.
"Jangan di buang." ucap Elina menggambil bunga matahari itu dari tangan Ethan.
"Kenapa?" tanya Ethan bingung dengan jalan pikiran Elina.
"Ya mungkin aku selama ini memang tidak bahagia. Tapi siapa tahu setelah aku menerima bunga ini hidup aku akan bahagia kan." jawab Elina menghirup aroma bunga matahari yang tengah dia pegang.
Ethan tersenyum menatap Elina.
"Maaf sudah membuat kamu kehilangan kebahagiaan kamu, tapi aku akan berusaha menghadirkan kebahagiaan itu lagi." ucap Ethan menatap Elina.
"Tidak perlu, karena aku akan mencari kebahagiaan aku sendiri." balas Elina.
"Apakah kamu sudah tidak bisa memaafkan aku?" tanya Ethan.
"Aku sudah memaafkanmu kok." jawab Elina.
"Lantas kenapa kamu berkata begitu?" tanya Ethan lagi.
__ADS_1
"Ya karena aku tidak mau menggantungkan kebahagiaanku pada orang lagi. Karena nanti saat orang itu pergi maka kebahagiaan itu juga akankah ikut pergi bersamanya." balas Elina.
"Maaf." ucap Ethan merasa bersalah.
"Tidak perlu mengucapkan kata maaf, aku tahu kok kalau kamu pergi untuk mengejar karier mu." balas Elina.
"Apakah aku bisa berharap kembali lagi bersamamu?" tanya Ethan lagi penuh harap.
"Tidak, karena aku tidak akan membiarkan orang yang sudah membuat aku tersakiti kembali lagi, dan bisa jadi nanti akan ada tersakiti season dua lagi." balas Elina yang tak memberikan ruang Ethan untuk masuk kembali ke dalam hatinya.
"Sepertinya ini sudah terlalu lama kita meninggalkan tuan tuan kita. Mari kita kembali, pasti mereka sudah menyelesaikan masalah mereka." ucap Elina dan berlalu pergi meninggalkan Ethan sambil membawa bunga matahari.
"Hufft... kesalahpahaman yang entah kapan akan berakhir." ucap Ethan dan setelah itu dia menyusul Elina yang sudah pergi duluan meninggalkannya.
...**...
Rena sudah sadarkan diri, kepadanya juga sudah membaik. Tapi semua orang yang berada di dalam sana hanya diam saja tak ada yang berbicara.
Itu semua terjadi karena kedatangan Richard dan Andrew. Mereka semua bingung harus menjawab apa saat Rena bertanya siapakah Andrew.
Rena yang melihat semuanya terdiam pun ikutan diam. Tapikan tidak dengan pikirannya yang berkeliaran memikirkan banyak hal. Ada apakah sebenarnya? Dan siapakah orang yang berada di kursi roda itu? Dan siapakah orang yang sudah mendonorkan ginjal untuknya?
Entah siapa nanti yang akan menjawab pertanyaan pertanyaan itu. Apakah Richard ataukah Diandra.
"Aku izin keluar dulu kak." izin Dito kepada Diandra.
"Iya, sana kamu cari makan, pasti kamu belum makan kan?" balas Diandra.
"Iya kak."
"Sayang aku keluar dulu ya, nanti aku balik lagi ke sini." lanjut Dito berbicara kepada Rena dan di balas anggukan lemah oleh Rena.
Setelah kepergian Dito, satu ruangan itu kembali hening. Hingga Rena membuka suara barulah mereka gelagapan lagi.
"Kak, ini kenapa sih, kenapa semuanya pada diam?" tanya Rena.
"Dan kakak ini siapa?" tanya Rena lagi melihat ke arah Andrew yang berada di atas kursi roda.
"Rena sayang dengerin Abang ya, jadi sebenarnya itu Abang ini bukan kakak kandung kamu." jelas Richard pelan pelan, toh percuma saja kalau mereka saling diam nanti ujung ujungnya juga pasti Rena akan tahu juga.
"Maksud kakak, terus kalau Rena bukan adik kandung kakak Rena ini saudara siapa?" tanya Rena bingung.
__ADS_1
"Kamu adik kakak." jawab Andrew yang akhirnya membuka suaranya.
"Benarkah itu kak?" tanya Rena pada Diandra dan di balas anggukan oleh Diandra.
"Iya dek, dia kakak kandung kamu." ucap Diandra memperjelas semuanya.
"Bagiamana bisa terjadi, Abang bilang kalau aku ini adik Abang?" bingung Rena.
"Memang benar kamu adik Abang, tapi kamu bukan adik kandung Abang. Abang juga baru tahu kemaren setelah Abang mencari bukti bukti di Amerika. Waktu itu...." Richard pun menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir tak ada yang terlewat sama sekali.
"Jadi aku ini adik kakak?" tanya Rena menatap Andrew.
"Iya kamu adik kakak." balas Andrew.
"bolehkah kakak memeluk kamu?" tanya Andrew dan mendapatkan anggukan dari Rena.
Richard pun membantu Andrew untuk mendekati Rena, dan membantunya berdiri juga. Andrew memeluk Rena sebentar saja sebagai tanda kasih sayang.
Andrew tidak bisa memeluk Rena dengan lama karena bekas operasi yang belum kering menyulitkan pergerakan dirinya dan juga Rena.
"Apakah kakak yang tadi mendonorkan ginjalnya untuk aku?" tanya Rena.
"Iya, karena hanya itu yang bisa kakak lakukan sebagai tanda permintaan maaf dari kakak untuk kamu dan jugalah untuk ibu." jawab Andrew.
"Maaf, nama kakak siapa?" tanya Rena yang memang belum mengetahui nama kakak kandungnya.
"Nama kakak Andrew Aldebaran, kamu bisa manggil kakak Andrew." jawab Andrew.
"Kita mau keluar dulu ya biar kalian berdua bisa berbicara lebih dekat lagi." ucap Richard pada Andrew dan juga Rena.
"Iya kak." balas Rena sedangkan Andrew hanya menganggukkan kepalanya saja.
Richard pun membawa Diandra keluar dari ruangan Rena untuk memberikan ruang buat adik kakak yang baru bertemu itu untuk saling berkenalan lebih jauh lagi.
"Kalian dari mana saja?" tanya Richard saat keluar dari ruangan Rena dan berpapasan dengan Ethan dan juga Elina yang baru kembali entah dari mana.
"Maaf tuan, kami habis jalan jalan sebentar." jawab Ethan.
"Sebentar katamu, kamu gak lihat ini sudah jam berapa?" balas Richard.
"Hehehe, kebablasan tuan." cengir Ethan.
__ADS_1
"Dasar."
...***...