Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTP#44


__ADS_3

"Ditoooo...." teriak Rena dari dalam kamar.


"Astaga kenapa sayang?" panik Dito yang baru datang dari dapur.


"Ini kenapa nomor kak Dian nya gak bisa di hubungi juga?" tanya Rena kesal.


"Astaga aku kira kenapa yang."


"Ya mungkin handphone kakak kamu rusak kali, atau bisa jadi kakak kamu ganti nomor telfon." tebak Dito.


"Terus ini gimana caranya aku biasa hubungi kakak."


"Udah gak usah di pikirin. Nanti kalau aku ada waktu libur panjang aku bakal ajak kamu pergi ke Jakarta buat cari kakak kamu. Yang penting sekarang kamu harus siap siap, hari ini ada jadwal kamu cuci darah."


"Tapi...."


"Udah gak ada tapi tapian, sana siap siap aku tunggu kamu di dapur buat sarapan habis itu kita langsung pergi." suruh Dito.


"Baiklah."


"Nah gitu dong."


Dito pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan buat mereka berdua. Tadi Dito sudah memasak makanan buat sarapan kali ini. Karena Rena sedang banyak pikiran maka Rena tadi tidak membantu Dito memasak.


Setelah sarapan mereka pun langsung berangkat menuju rumah sakit untuk melakukan jadwal rutin Rena cuci darah.


...**...


"Apakah semuanya sudah selesai?" tanya Richard pada Ethan saat dalam perjalanan menuju mansion Richard yang ada di Amerika.


"Saya rasa sih sudah. Cuma kalau tuan mau liburan di sini juga boleh." jawab Ethan.


"Gak, kita langsung pergi ke Indonesia saja. Oh iya kamu sudah mencari tahu tentang kehidupan Diandra kan?" tanya Richard.


"Jangan di tanya lagi tuan, anak buah anda yang satu ini sudah pasti melaksanakan perintah anda dengan baik. Akan saya kirimkan melalui email nanti semua hal yang berhubungan dengan nona Diandra." jawab Ethan.


"Kerja bagus, gak sia sia aku pertahankan kamu sampai sekarang."


"Cih." decih Ethan tapi tak Richard hiraukan.


Akhirnya mobil mereka pun sampai di pelataran mansion Richard. Para pelayan langsung berjejer menyambut kedatangan tuan mereka. Ada yang bertugas membukakan pintu mobil ada juga yang bertugas membawakan tas kerja milik mereka berdua.


"Selamat datang tuan." sapa kepala pelayan di mansion Richard.

__ADS_1


"Hmm." balas Richard.


Dengan gagahnya Richard berjalan memasuki mansion miliknya di ikuti Ethan yang mengekor di belakangnya.


Richard langsung berlalu masuk ke dalam kamarnya dan begitu juga dengan Ethan yang masuk kedalam kamarnya jugalah yang berada di samping kamar Richard.


Senyum Richard tertarik saat membaca semua identitas Diandra selama ini yang tidak dia ketahui.


"Kenapa gak dari dulu aja saya tahu ini semua." gumam Richard.


Richard jadi tidak sabar ingin bertemu dengan Diandra. Richard yang tadinya ingin memberikan surprise pada Diandra malah sekarang kebalikannya. Dia lah yang mendapatkan suprise dari Diandra.


"Enaknya nanti di apain ya?" monolog Richard sambil berfikir apa yang akan dia lakukan pada Diandra.


"Akan aku berikan suprise yang bakal membuat dia bahagia." lanjut Richard setelah mendapatkan ide.


Richard pergi membersihkan tubuhnya dan setelah itu dia mengistirahatkan tubuhnya agar nanti saat pulang ke Indonesia tubuhnya tidak terlalu lelah.


...**...


Malam hari Diandra tengah melamun di teras depan rumahnya. Dia melihat banyaknya bintang bertaburan di langit malam yang begitu cerah.


"Ibu, ayah maafkan Diandra. Diandra tahu apa yang Diandra lakukan ini salah, tapi Diandra tidak ada cara lain lagi biar Rena bisa berobat. Diandra capek cari kerja ke sana ke sini tapi tidak ada satupun dari mereka yang mau menerima Diandra. Diandra kasian sama Rena yang harus menahan rasa sakit." ucap Diandra dalam hati.


Diandra membayangkan kalau ibu dan ayahnya ada di antara bintang bintang itu. Diandra berharap mereka bisa memaafkan perlakuan Diandra selama ini. Biarlah Diandra yang menanggung dosanya, yang penting adiknya bisa berobat.


Tretek tek Tek.


"Bakso." teriak penjual bakso yang lewat di depan kontras Diandra berhasil membuyarkan lamunan Diandra.


"Mang bakso nya satu." teriak Diandra.


Diandra pun bangkit dan menghampiri penjual bakso itu.


"Iya neng Dian, mau isi apa?" balas penjual bakso.


"Seperti biasa aja mang." balas Diandra.


Karena Diandra sudah sering membeli baksonya, maka penjual bakso itu sudah hafal betul apa yang Diandra sukai dan tidak Diandra sukai.


"Tumben neng malam malam gini ada di depan, biasanya juga neng ada di dalam rumah gak pernah keluar?" tanya penjual bakso itu.


Pasalnya Diandra memang tidak pernah berada di luar kontrakan. Karena tetangga tetangga kontrakan Diandra yang suka ngomongin orang maka Diandra lebih memilih berada di dalam rumah saja dari pada ikut bergosip.

__ADS_1


Cukup dosa menipu orang saja yang Diandra lakukan tidak harus dengan membicarakan kehidupan orang lain. pikir Diandra.


"Iya tadi Dian udah lapar banget jadi nungguin Mangnya di depan deh biar cepat." bohong Diandra.


"Ooh gitu, mang kira tadi neng Dian kenapa kenapa."


"Enggak kok mang."


"Ini neng." penjual bakso itu memberikan satu bungkus bakso pada Diandra.


"Berapa semuanya mang?" tanya Diandra.


"Seperti biasa neng." balas penjual bakso.


Diandra mengulurkan uang lima puluh ribu pada penjual bakso itu.


"Kembaliannya ambil aja mang." ucap Diandra.


"Wah seriusan ini neng, ini banyak banget loh."


"Iya mang, mumpung Diandra baru dapat rezeki dobel."


"Terimakasih ya neng, saya doakan semoga rezeki neng Diandra lancar. Dan semoga jodoh neng Diandra orang yang baik, kaya dan yang pasti menyayangi neng Diandra."


"Aamiin mang, terimakasih ya. Diandra masuk dulu." pamit Diandra.


"Iya neng."


Diandra pun masuk ke dalam kontrakannya dan mulai menata bakso itu ke dalam mangkuk sebelum dia memakannya. Dan setelah selesai Diandra langsung menyantapnya dengan lahap karena dirinya memang benar benar kelaparan.


Selesai makan Diandra langsung bersiap untuk tidur karena memang sekarang kondisinya sudah malam hari.


"Semoga bangun besok ada kabar dari Richard." doa Diandra sebelum tidur.


"Gak ada kabar sehari udah bikin kangen aja, masak iya aku udah ada rasa sama dia."


"Kalau iya aku sudah mulai menyukai Richard, apakah nanti dia akan tetap menerima aku saat tahu kalau aku ini seorang penipu."


"Kalau nanti Richard tahu mungkin aku juga selain menyiapkan alasan aku menipu orang aku juga harus menyiapkan mental sama hati aku kalau seandainya Richard akan memilih pergi dari hidupku."


Diandra terus meracau tidak jelas hingga lama kelamaan matanya mulai tertutup.


Mungkin kan benar kata pepatah, kalau cinta bisa datang karena terbiasa. Seperti yang Diandra rasakan sekarang. Dia sudah terbiasa dengan apa yang Richard lakukan hingga perlahan Diandra mulai membuka hatinya.

__ADS_1


Tapi mungkinkah besok Diandra akan merasakan pertama kalinya sakit hati?


...***...


__ADS_2