
"Lah nih orang stres kali ya, kan kemaren dia sendiri yang bilang kalau mau sering ngajakin aku jalan. Mana pakai hina profesi pengangguran lagi." gumam Diandra setelah kepergian Radit.
Diandra pun tak mau ambil pusing, dia langsung pergi dari sana.
...**...
"**1*." umpat Richard saat melihat adegan di depannya.
"Ternyata kamu mulai berani nakal ya baby." ucap Richard sambil tersenyum smirk.
Richard pun membereskan semuanya agar tidak ada yang mengetahui apa yang dia cari agar posisi Diandra tetap aman.
Setelah itu dia kembali ke ruangannya dan memanggil Ethan yang sudah kembali dari tugasnya.
"Iya tuan ada yang bisa saya bantu?" tanya Ethan.
"Cari tahu tentang semua kehidupan Diandra selama ini. Dan rentas juga nomor telfon juga handphonenya." perintah Richard.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi tuan? Sepertinya saya ketinggalan berita." tanya Ethan.
"Hmm, ternyata selama saya di sini Diandra ada main sama cowok." balas Richard setengah malu mengucapkan itu pada Ethan.
"BUAHAHAHAHA... ternyata seorang Richard Halmiton Ghilbert bisa di selingkuhi juga." tawa Ethan menertawakan bosnya yang sangat tampan itu.
"Diam kamu, dan kerjakan perintah saya." bentak Richard.
"Baik tuanku sayang, semoga hari anda menyenangkan." setelah mengucapkan itu Richard langsung berlari keluar dari ruangan Richard agar tidak mendapatkan serangan dari bos nya.
"S1alan tuh anak." umpat Richard.
"Jangan lupa perusahaannya bos, jangan cewek mulu yang di pikirin." teriak Ethan dari luar ruangan Richard.
"Mat1 saja kau Ethan." balas Richard marah.
"HAHAHAHA...." terdengar tawa menggelegar Ethan.
Untung saja di lantai itu cuma ada mereka berdua di sana, coba kalau ada karyawan Richard pasti nanti mereka berdua akan menjadi perbincangan gosip saat pagi hari maupun saat di kantin nanti.
...**...
__ADS_1
"Gimana?" tanya Dito pada Rena yang duduk di sebelahnya.
"Hal bisa." balas Rena sambil memegang handphone di telinganya.
Ya, Rena saat ini tengah mencoba untuk menghubungi Diandra tapi nomor telfonnya selalu tidak aktif.
"Mungkin kakak kamu lagi sibuk makannya dia nonaktifkan handphonenya. Nanti bisa kamu coba lagi kalau malam hari." ucap Dito agar Rena tenang.
"Semoga saja." balas Rena lesu.
"Udah dong jangan sedih gitu, yang penting kan sekarang kamu bisa terbebas dari jangkauan ibu tiri kamu itu." Dito mengelus kepala Rena.
"Tapi tetep aja aku kasian sama kak Dian kalau terus terusan di tipu sama ibu nanti."
"Kan nomor kakak kamu gak aktif, jadi mana mungkin ibu kamu bisanya hubungi kakak kamu." balas Dito.
"Iya juga ya."
"Nah makanya itu kamu sekarang jangan sedih lagi. Udah yuk kita pergi ke rumah kamu aja ambil barang barang kamu." ajak Dito dan di angguki Rena.
Mereka pun pergi menuju rumah Rena untuk mengambil barang barang Rena yang penting penting. Seperti ijazah dan kartu kartu yang lainnya.
...**...
Kali ini Richard akan mengeksekusi enam orang yang pernah mencari gara gara sama dia. Kalau untuk dalangnya bisa Richard pikirkan nanti, karena Andrew bukan lawan yang sembarang.
"Halo calon para penghuni neraka." sapa Richard saat memasuki ruangan yang di dalamnya terdapat enam orang yang di gantung lehernya dengan kakinya yang memijak kursi yang dapat bergoyang.
"Tolong lepaskan kami, ini bisa merenggut nyawa kami." pinta salah satu dari mereka.
"Hahahaha... apa kamu bilang, lepaskan?"
"Hei tua bangka, liat noh hasil perbuatan kalian di perusahaan saya membuat saya harus jauh jauh datang ke sini. Gara gara kalian perusahaan yang saya besarkan dengan susah payah hampir kehilangan uang triliunan." lanjut Richard marah.
"Maaf kan kami tuan, tolong lepaskan kami. Kami janji tidak akan mengulanginya lagi." balas salah satu dari mereka lagi.
"Cih kenapa minta tolong pada saya, kemana tuan kalian yang kalian bangga banggakan kemaren Hah?" tanya Richard dengan senyuman mengejek.
"Dasar bodoh, udah benar benar bekerja di perusahaan yang besar dengan gaji yang besar juga, masih aja cari kerjaan yang gak jelas adanya."
__ADS_1
"Asal kalian tahu, perusahaan yang kalian bangga banggakan kemaren itu belum ada izin dari pemerintah di sini. Perusahaan itu perusahaan ilegal, dan kalian malah mau bekerja di sana? Mau jadi apa kalian, apakah mau jadi penjudi juga hmm?"
Richard terus berbicara dengan kata katanya yang keras dan mengejek kebodohan mereka habis habisan sampai sampai bikin mereka semakin takut.
Bergerak sedikit saja maka kursi yang mereka pijaki akan bergoyang dan itu bisa saja nanti kursinya roboh dan tak ada lagi bijakan bagi mereka. Sehingga nanti bikin mereka mati tergantung di tali yang mengikat leher mereka.
"Kami mohon tuan lepaskan kami, kasian anak anaknya kami di rumah." mohon mereka.
"Hah, kalau bicara soal keluarga itu adalah kelemahan saya. Baiklah, Ethan lepaskan mereka." perintah Richard yang hatinya tiba tiba tersentuh saat mendengar permohonan mereka.
Mungkin efek dia yang hidup sendiri tidak ada keluarga jadi dia mudah tersentuh jika itu menyangkut pada keluarga.
"Terimakasih tuan, kami janji setelah ini tidak akan menggangu kehidupan tuan lagi." ucap mereka karena Richard mau melepaskan mereka.
"Hmm." balas Richard sambil memandangi beberapa anak buahnya yang mulai membuka pengikat tali yang ada di leher enam orang itu.
Akhirnya mereka berenam pun merasa lega karena tidak jadi di bunuh oleh Richard. Mereka berfikir itu mungkin adalah kelemahannya Richard, dan nanti setelah mereka terbebas mereka akan memberitahukan ini semua pada bos mereka Andrew.
"Tuan apakah saya boleh mencium kaki tuan sebagai tanda terimakasih saya?" tanya Frank.
"Tidak perlu, saya tidak pantas untuk kalian perlakuan seperti itu karena saya bukan orang yang baik." tolak Richard.
"Tidak tuan, tuan adalah orang yang baik. Kami sangat berterimakasih karena tuan tidak jadi membunuh kami. Izinkan kami untuk mencium kaki tuan." balas Frank.
"Baiklah kalau itu mau kalian, tapi saya minta kalian bergantian dua dua yang mencium kaki saya." final Richard.
"Baik tuan, terimakasih tuan." balas mereka senang.
"Ethan." pangil Richard pada Ethan yang berdiri di sampingnya.
"Iya tuan." balas Ethan.
Richard membisikkan sesuatu pada Ethan. Sepertinya ini hal yang serius sampai sampai membuat Ethan memasang telinganya dengan tajam.
Setelah selesai kepala Ethan mengganguk angguk pertanda mengerti. Tapi ada yang aneh dengan raut wajah Ethan. Wajah yang tadinya datar sekarang malah terlihat seperti jijik plus takut.
Entah apa yang Richard bisikkan sampai sampai membuat raut wajah Ethan seperti itu.
"Ayo Siapa yang mau lebih dulu?" tanya Richard.
__ADS_1
"Saya sama Frank tuan." balas salah satu dari mereka.
...***...