
"Ahh...." des4h Diandra karena Richard langsung menyerangnya dengan menyed0t put1ngnya dengan keras.
"Pel-an pelan." ucap Diandra.
"Appuah." entah Richard ngomong apa karena suaranya tidak jelas.
Lama bermain dengan buah Diandra Richard pun pindah ke bagian tubuh yang lainnya.
"Boleh ya?" tanya Richard saat hendak memasuki milik Diandra.
Jika kalian mengira Diandra sudah tidak gadis lagi kalian salah. Selama ini Diandra dan Richard hanya bermain main saja tidak sampai bobol punya Diandra.
"Kenapa?" tanya Diandra pasalnya Richard pernah bilang kalau Richard tidak akan memasuki Diandra sebelum mereka menikah nanti.
"Aku gak suka kamu selingkuh dari aku, dengan ini aku bisa mengikat kamu hanya menjadi milikku." jawab Richard.
"Sayang boleh ya, aku sudah tidak tahan." pinta Richard karena miliknya sudah meronta ronta untuk di puaskan.
Dengan lemah akhirnya Diandra pun menganggukkan kepalanya pertanda mengijinkan Richard. Melihat itu Richard merasa senang bukan main.
Richard langsung menghadiahi Diandra dengan beribu-ribu kecupan di seluruh wajahnya. Dan yang bagian bawah perlahan Richard mulai menuntunnya untuk masuk.
"Pelan pelan." pinta Diandra.
"Nanti kalau sakit kamu busa cakar punggung aku atau kamu bisa gigit leher aku." balas Richard.
Adik Richard perlahan masuk ke dalam goa milik Diandra. Saat sampai di pertengahan Diandra langsung menggigit leher Richard dengan kerasnya.
"Aahh...." erangan Richard karena gigitan Diandra di lehernya.
"Sakit." air mata Diandra merembes ke luar dari matanya.
"Iya sayang aku tahu, tahan sebentar ya ini masih separuh." ucap Richard agar Diandra sedikit lebih tenang.
"Aku masukin lagi ya." pinta Richard dan Diandra pun mengangguk.
Bles.
Darah perawan milik Diandra pun merembes keluar mengenai adik Richard.
"Ahh sakit, hiks." Diandra menangis merasakan bagian bawahnya seperti di robek.
"Makasih sayang, terimakasih kamu sudah memberikannya kepadaku."
Cup cup cup...
Beribu-ribu kecupan Richard berikan lagi kepada Diandra sebagai tanda terimakasihnya.
Sekarang Diandra tidak tahu lagi apa yang harus dia bangga banggakan. Kesucian yang selama ini dia jaga sudah di ambil oleh Richard, orang yang mulai dia sukai.
Diandra tidak tahu lagi kalau seandainya nanti Richard akan meninggalkan, apakah dia nanti akan kuat ataukah tidak.
"Aku gerakin ya." ucap Richard dan lagi lagi mendapatkan anggukan dari Diandra.
Perlahan Richard mulai memompa tubuh Diandra yang berada di bawahnya setelah tadi mendiamkannya selama beberapa saat.
__ADS_1
Des4h4n, erangan memenuhi kamar kontrakan milik Diandra. Mungkin jika kontrakan di sebelah Diandra orangnya ada di rumah pasti mereka sekarang sudah di grebek masa oleh warga.
Beruntungnya keadaan sekarang siang hari, jadi kondisi kontrakan lagi sepi karena mereka penghuni kontrakan lagi pada kerja.
Cup.
"Terimakasih sayang." ucap Richard setelah bermain sampai jam lima sore.
Gilak lama banget ya😂
"Itu kamu lepas dulu." pinta Diandra karena milik Richard masih tertanam di dalam miliknya.
"Bentar yang, biar benihku masuk semua." balas Richard santai.
Diandra yang mendengar itu pun pipinya memerah bak tomat.
"Uuh." desah keduanya saat Richard menarik miliknya keluar.
"Gilak, rasanya enak banget yang. Boleh dong setiap hari." ucap Richard.
"Matamu itu, nih lihat punya ku lecet semua." kesal Diandra.
"Hehehe habisnya punya kamu enak banget yang, rasanya tuh jepit banget bikin punya aku ketagihan."
"Kamu itu bisa gak sih kalau ngomong tuh di saring dikit. Mesum mulu."
"Biarin lah, orang cuma sama kamu doang." balas Richard santai.
"Udah ahh sana aku mau mandi."
"Kenapa sayang?" panik Richard.
"Pakai tanya lagi, ini semua gara gara kamu." kesal Diandra.
"Lah kok cuma aku yang di salahin, kan tadi kamu juga menikmati."
"Ahh Richard terus, ahh." Richard menirukan suara des4h4n Diandra saat mereka bercinta tadi.
"RICHARD DIAM." bentak Diandra karena dia malu.
"Dih kenapa tuh malu ya...." goda Richard.
"Tau ahh." kesal Diandra.
"Ututututu... pacar aku marah nih, sini aku bantu ke kamar mandi." perlahan Richard mulai membawa Diandra ke kamar mandi dengan menggendongmya ala bridal style.
Diandra pun tidak berontak, karena memang intinya terasa sangat sakit saat dia berjalan.
...**...
"Halo orang ganteng datang bawa cewek nih." teriak Dito saat memasuki rumah kakaknya.
"Apaan sih kamu." malu Rena yang berada dalam genggaman tangan Dito.
Ya, Dito membawa Rena berkunjung ke rumah kakaknya. Karena waktu ke rumah sakit terakhir kali dokter Fia menyuruh Dito agar segera memperkenalkannya pada suaminya yang tak lain adalah kakak Dito.
__ADS_1
"Kalian jadi datang juga ternyata, ayo silahkan masuk." sambut dokter Fia.
Hari ini dokter Fia tidak ada jam piket, jadi dia stay di rumah tidak di rumah sakit.
"Ayo Dito ajak Renanya duduk." suruh dokter Fia pada Dito.
"Tanpa kakak suruh juga Dito sudah tahu." balas Dito.
"Iya dah terserah kamu." balas dokter Fia malas.
"Bentar ya aku panggil kan kakak kamu dulu."
"Hmm."
Dokter Fia pun pergi menuju kamarnya untuk memanggil suaminya yang sedang berada di dalam kamar.
"Jadi beneran dokter Fia itu kakak ipar kamu?" tanya Rena setelah kepergian dokter Fia.
"Ya iyalah, kamu kira aku bohong gitu?"
"Kenapa sih hmm?" lanjut Dito saat melihat raut wajah tidak nyaman di mukanya.
"Aku takut kalau nanti seandainya kakak kamu gak suka sama aku." takut Rena.
"Iisss, kok kamu ngomong gitu sih, kakak aku tuh baik sama seperti aku. Jadi kamu gak perlu khawatir ya, aku yakin kakak aku bakal restuin hubungan kita berdua."
"Bagaimana nanti kalau kakak kamu gak suka sama aku?"
"Ya gampang, kita tinggal kawin lari aja." balas Dito santai.
"Emang bisa kawin sambil lari?" sahut orang dari belakang mereka berdua yang membuat mereka menatap ke arah asal suara tersebut.
"Hai bro." sapa orang itu.
"Apaan sih bra bro bra bro aja, kek anak pank tau gak?" balas Dito sewot.
"Ini nih yang bikin kakak selalu kesal sama kamu. Kakak tuh pengen gitu akrab sama kamu kayak orang lain yang akrab sama saudara saudaranya, tapi kamunya malah gini."
Ya, orang itu adalah Doni yang baru datang sendirian tidak dengan dokter Fia.
"Ya udah Dito minta maaf, ulangi ulangi."
"Dah gak seru." sewot Doni.
"Oh ya udah." balas Dito cuek.
"Sayang... kenapa adik kamu seperti ini sih." adu Doni pada dokter Fia yang entah berada di mana sekarang.
"Dih mainnya ngadu." ledek Dito.
"Biarin."
"Kamu jangan kaget ya Ren, mereka berdua emang suka gitu kalau ketemu. Tapi kalau gak ketemu sehari aja pasti pada rindu." ucap dokter Fia yang datang dari arah dapur sambil membawa minuman serta beberapa camilan di tangannya.
...***...
__ADS_1