Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTP#84


__ADS_3

"Memang benar tuan ada yang masuk ke dalam kamar rawat nona Rena." ucap Ethan menjelaskan.


Saat ini mereka semua berada di dalam ruangan rawat Rena. Rena sudah tidur jadi mereka bisa aman mau berbicara apa saja di sana.


"Apakah kalian melihat siapa orang itu?" tanya Andrew pada Ethan dan juga Elina yang membawa kabar berita.


"Tidak tuan karena orang itu memakai masker dan seluruh tubuhnya memakai pakaian hitam." jawab Elina.


"Siapa sebenarnya yang melakukan ini pada Rena, ada salah apa Rena sama mereka?" bingung Richard.


"Bukan Rena yang salah, tapi dia di jadikan tumbal atas peperangan antara dua keluarga." balas Andrew.


"Maksudmu?" tanya Richard.


"Ya, musuhmu lah yang melakukan ini semua pada Rena. Dia ingin memancing kemarahanmu lewat Rena. Karena mereka tahu kalau kau menyayangi Rena." jelas Andrew.


"Apakah kau tahu siapa mereka?" tanya Richard lagi.


"Ya aku tahu." balas Andrew.


"Lantas siapa mereka?"


"Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk mengawasi seseorang?" balik tanya Andrew.


"Siapa?" tanya Richard tidak tahu.


"Dito, Doni dan juga Fia." jawab Andrew jujur.


"Apa maksud anda tuan, Dito sama dokter Fia itu orang yang baik jadi mereka tidak mungkin melakukan hal itu pada Rena." tak terima Diandra dengan tuduhan Andrew.


"Terserah kau saja nona mau percaya sama saya atau tidak. Dan soal ibu Tika itu juga adalah salah satu orang suruhan mereka." balas Andrew.


"Apakah kau punya buktinya?" tanya Richard.


"Kalau untuk kejahatan mereka aku tidak ada bukti, tapi aku ada silsilah keluarga mereka." balas Andrew.


"Mana?" tanya Richard.


Tanpa di suruh Elina langsung meletakkan berkas ke atas meja dengan Richard.

__ADS_1


Richard menggambil nya dan segera membaca apa isi dari berkas itu.


"S1AL ternyata mereka anak Thomas." umpat Richard setelah membaca isi berkas itu.


"Bagiamana apakah kau percaya?" tanya Andrew dengan senyuman yang mengejek.


Richard diam saja dia tak membalas ucapan Andrew. Diam Richard di anggap kalau itu artinya Richard percaya pada apa yang ada di dalam berkas itu.


"Dasar psikopat bodoh, masalah gitu aja gak tahu." maki Andrew.


"Elina ayo kita pulang, untuk kalian jangan biarkan Rena sendirian lagi." ucap Andrew sebelum pergi dari sana.


"Baik tuan." balas Elina.


Mereka berdua pun pergi meninggalkan ruangan Rena, sekarang hanya tinggal Diandra, Richard dan juga Ethan di sana, yang pastinya ada Rena yang terbaring di atas bangkar.


"Ethan kau bisa pergi." usir Richard.


"Baik tuan." balas Ethan yang dengan senang hati pergi dari sana.


Sekarang hanya tinggal mereka berdua di sana, Diandra diam tak mau berbicara dengan Richard karena dia sudah sangat marah pada Richard.


"Jangan mendekat, atau aku akan pergi dari sini." ancam Diandra sebelum Richard sampai di tempatnya.


"Sayang aku minta maaf, aku gak bermaksud buat lakuin itu semua sama kamu. Aku terlalu takut kalau kamu pergi meninggalkan aku." Balas Richard memohon.


Diandra diam saja tak membalas ucapan Richard.


"Sayang plis aku minta maaf soal kesalahanku yang tadi, dan untuk siapa aku yang sebenarnya aku mohon kamu gak usah takut sama aku, kamu bisa pegang omonganku." lanjut Richard karena Diandra diam saja.


"Udah bicaranya? Kalau udah aku mau tidur." judes Diandra dan langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang ruangan Rena.


Richard membiarkan saja Diandra yang seperti itu, nanti kalau Diandra sudah tenang Richard bisa menggajak Diandra bicara baik baik.


Richard bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri bangkar Rena, Richard menggambil tempat duduk di samping bangkar Rena dan tangannya pun menggenggam tangan Rena.


"Maafkan Abang ya, karena keluarga Abang kamu jadi seperti ini. Abang janji nanti akan membalaskan semuanya pada mereka yang sudah membuat kamu seperti ini." ucap Richard pada Rena yang sedang tidur.


Tangan Richard yang satunya lagi dia gunakan untuk mengelus rambut Rena dan terkadang dia juga mengelus pipi Rena yang semakin tirus sekarang karena sakit yang dia derita selama ini.

__ADS_1


Hingga lama kelamaan Richard tertidur di samping Rena, mungkin karena saking ngantuknya Richard sampai sampai dia tidak tahan untuk tidak tidur di sana.


Richard tidur dengan berbantalkan bangkar Rena dan tangan Richard yang setia menggenggam tangan Rena.


Diandra yang merasa sudah tidak ada pergerakan pun membuka matanya, dia melihat ke arah Richard yang sudah ketiduran di sana.


"Maaf aku sudah membuat kamu banyak fikiran sampai sampai kamu tertidur seperti ini." ucap Diandra memandang Richard.


Tak ada niatan dalam hati Diandra untuk nyamperin Richard atau memberikannya selimut hangat, Diandra sudah terlanjur kecewa oleh perlakuan Richard tadi yang main kasar kepadanya.


"Apakah aku bisa bertahan hidup dengan seorang pembunuh seperti kamu?" ucap Diandra lagi.


"Meskipun kamu sudah berjanji untuk tidak menyakiti aku, tapi apakah bisa kamu memegang janji itu. Lalu, bagiamana nanti kalau kita mempunyai anak, apakah kamu tidak akan menyakiti anak kita di saat dia nanti berbuat kesalahan." lanjut Diandra.


Diandra tidak yakin dengan apa yang Richard janjikan, dia tidak percaya dengan itu semua. Meskipun Richard bersungguh-sungguh, tapi yang namanya manusia bisa saja khilaf dan bertindak di luar kesadarannya.


Apalagi Richard katanya kalau sudah kumat dia tidak akan bisa menahan dirinya sendiri.


"Lalu aku harus gimana sekarang, di satu sisi aku ingin pergi jauh darimu, tapi di sisi lain aku masih mencintaimu." bimbang Diandra.


Kebanyakan memikirkan banyak hal membuat Diandra merasakan kantuk, Diandra pun merebahkan tubuhnya kembali dan tidur di sana.


...**...


Sementara itu di tempat lain, tiga orang tengah melakukan pesta private di sebuah bar. Mereka minum layaknya orang yang habis memenangkan lotre.


"Hahaha... pasti tadi mereka sangat panik saat melihat si penyakitan itulah kejang kejang." tawa wanita yang tengah mabuk.


"Hahahaha benar kata kamu sayang, pasti mereka tadi nangis nangis. Rena hiks tolong selamatkan Rena hiks hiks hiks." timpal si pria menirukan orang yang menangis.


"Hahahaha benar banget, pokoknya kita harus merayakannya sekarang." balas si wanita.


Sedangkan pria yang satunya hanya diam saja, tapi mulutnya tidak bisa berhenti minum. Dia selalu menuangkan minuman beralkohol ke dalam gelas yang dia pegang.


Mereka bertiga adalah Fia, Doni dan juga Dito. Mereka merayakan kemenangan yang sementara karena sudah berhasil membuat musuh musuh mereka panik.


Tadi setelah kepergian Dito dokter Fia yang memakai pakaian serba hitam masuk ke dalam ruangan Rena dan menyuntikan sebuah cairan yang dapat membuat tubuh Rena kejang kejang, tapi cairan itu aman dan tidak akan menimbulkan efek apa apa.


Bahkan cairan itu juga tidak akan terdeteksi oleh dokter.

__ADS_1


...***...


__ADS_2