
"Loh ternyata ada tamu to, kok kakak gak liat. Maaf ya, nama kamu siapa?" tanya Doni yang baru menyadari kalau ada Rena setelah istrinya berbicara tadi.
"Hehehe iya kak gak papa, nama aku Rena." jawab Rena.
"Tuh kan kakak aku tuh gak jahat, apalagi sampai makan orang." timpal Dito.
"Apaan sih kamu bikin aku malu aja." bisik Rena sambil tangannya mencubit paha Dito.
"Auw, sakit yang. Kalau mau cubit jangan di sana, agak ke atasan aja gak papa." mesum Dito.
"Tuh mas liat deh, bahaya kalau mereka gak cepat cepat di nikahin. Mana mereka sekarang sudah tinggal satu atap lagi." ucap dokter Fia.
"Bener yang, kalian berdua harus siap siap. Biasa jadi nanti atau kapan saya akan datang membawa kalian ke KUA." setuju Doni.
"Ayo kak, jangan lama lama. Udah gak tahanan nih." girang Dito.
"Astaga nih anak, otaknya isinya apaan sih?" Doni menonyor kepala Dito.
"Maaf kak, tapi kalau mau menikahkan aku sama Dito aku mau minta ada kakak aku." ucap Rena membuat ketiga orang itu menatap Rena.
"Itu tentu saja yang, kan aku sudah bilang sama kamu nanti kalau aku ada libur panjang kita pergi ke Jakarta cari kakak kamu." balas Dito.
"Emang kakak kamu kemana, kan kalau dia ada di Jakarta gampang kan tinggal hubungi lewat telepon suruh datang ke sini aja." heran Doni.
"Kakaknya Rena itu lagi kerja di Jakarta. Tapi Rena gak ada nomor telfon kakaknya buat hubungi dia." jelas dokter Fia.
"Ooh gitu, ya udah kalian langsung aja berangkat ke Jakarta kenapa susah. Kan sekarang ada pesawat jadi perjalanannya gak akan lama."
"Perusahaan ku siapa yang handle kak, emang kakak kamu." kesal Dito.
Kakaknya ini memang kalau memberikan ide itu asal ceplos aja tanpa berfikir masalah yang lainnya.
"Iya nanti kakak yang handle." balas Doni santai.
"Hah, seriusan kak, kakak gak becanda kan?" kaget Dito.
"Apakah raut wajah kakak terlihat seperti becanda?" balik tanya Doni.
"Terus nanti perusahaan kakak gimana?"
"Kamu lupa, sebelum kamu kembali ke Indonesia siapa yang urus perusahaan itu." balas Doni.
"Hehehe iya juga sih." cengir Dito.
__ADS_1
"Udah kamu ajak Rena siap siap aja biar kalian cepat pergi ke sana. Kakak gak mau ya sampai ada kabar hadirnya ponakan kakak." goda Doni.
"Apaan sih kak, kita gak sebar bar itu ya." balas Dito.
"Nah berarti sekarang masalahnya udah jelas ya, gimana kalau kita makan malam aja, kalian pasti belum makan kan?" ajak dokter Fia.
"Yuk sayang, biarkan mereka nanti kalau lapar juga makan sendiri." Doni mengajak istrinya pergi dari sana meninggalkan pasangan yang bertamu ke rumah mereka.
"Yuk, kamu pasti sudah lapar kan?" ajak Dito.
"Anggap saja ini rumah sendiri seperti kamu berada di apartemen ku." lanjut Dito.
"Makasih ya, kamu sama keluarga kamu baik banget sama aku." terharu Rena.
"Udah dong jangan bilang terimakasih mulu, emang kamu gak bosen apa. Sekarang tuh waktunya kita happy happy karena kita sudah mendapatkan restu dari kedua kakakku." balas Dito dan di balas senyuman oleh Rena.
Mereka berdua pun pergi menuju ruang makan, yang di sana sudah ada dokter Fia dan juga Doni.
...**...
"Pelan pelan bisa gak sih jalannya, ituku masih sakit nih." ucap Diandra karena Richard berjalan terlalu cepat.
"Ututututu... maaf ya sayang aku lupa, sini aku gendong aja biar cepat sampai." tanpa menunggu persetujuan Diandra, Richard langsung membawa Diandra ke dalam gendongannya.
"Diam sayang nanti kamu jatuh kalau kamu gerak gerak terus." peringat Richard yang langsung membuat Diandra terdiam.
Setelah kejadian tadi sore, Richard mengajak Diandra pergi ke apotek untuk mencari salep buat mengobati inti Diandra yang sobek akibat perbuatan Richard.
Dan saat dalam perjalanan pulang Richard berfikir untuk mengajak Diandra tinggal di apartemennya saja dari pada di kontrakan Diandra. Karena Richard takut nanti kalau tetangga tetangga Diandra tahu mereka tinggal seatap bisa bisa mereka nanti di gerebek masa.
Dan di sinilah mereka sekarang, apartemen mewah milik Richard.
"Sini aku lihat." pinta Richard setelah mendudukkan Diandra di sofa ruang tamu apartemennya.
"Gak usah mulai deh, itu aku masih sakit." tolak Diandra.
"Dih sekarang pikirannya udah jorok ya, aku tuh cuma mau lihat aja mana yang lecet biar bisa aku kasih salep." balas Richard.
"Bener?" tak percaya Diandra.
"Iya sayangku, mana mungkin sih aku tega nyakitin orang yang aku sayang hmm."
"Ya udah tapi pelan pelan."
__ADS_1
"Iya, udah sini." Richard mulai menyibakkan dress selutut yang Diandra kenakan.
Saat ini Diandra tidak memakai ****** ***** karena tadi Richard melarangnya. Katanya sih biar tidak terlalu sakit, Diandra yang tidak mengerti masalah begituan pun merunut saja. Padahal mah itu hanya akal bulusnya Richard biar kalau mau pegang pegang mudah gak harus ribet lepas ****** *****.
"Aduh parah banget ya ini." ucap Richard melihat luka sobek intinya Diandra dengan jelas.
"Iya itu semua gara gara adik kamu yang kegedean." sewot Diandra.
"Dih orang kamu malah menikmati kok." balas Richard.
"Nyeyeye...."
"Lagian itu ukurannya berapa sih, kok gede banget." lanjut Diandra penasaran.
"Kamu yakin mau tahu, sebaiknya jangan deh nanti kamu syok."
"Dih apaan orang cuma segitu doang, palingan juga cuma beberapa senti."
"Ooh kamu mau lebih besar lagi, oke nanti kami lihat saja."
"Ehh jangan jangan." cegah Diandra.
Segitu aja rasanya udah sakit banget, apalagi kalau di tambahin bisa jadi apa nanti dia. Itu memang menurut Diandra sudah berukuran besar, cuma tadi karena saking penasarannya makanya Diandra bilang seperti itu.
"Lah kenapa, tadi katanya itu cuma segitu. Emang kamu pernah lihat yang lebih besar?" tanya Richard di balas gelanggang kepala oleh Diandra.
"Terus yang biasa kamu lihat besarnya seperti apa?" tanya Richard lagi.
"Gak tahu, aku gak pernah lihat." balas Diandra.
"Masak sih kok aku gak percaya ya?"
"Richard udah dong jangan goda aku terus, aku malu." Diandra menutup wajahnya yang sekarang mulai memerah.
"Hahaha... kamu lucu banget sih yang, aku jadi makin cinta deh." tawa Richard.
"Aku juga cinta sama kamu." balas Diandra membuka tangannya dari wajahnya.
"Hah, kamu ngomong apa aku gak denger?" tanya Richard memastikan kalau telinganya tidak salah mendengar apa yang Diandra katakan barusan.
"Gak jadi." kesal Diandra.
"Sayangku...." pangil Richard.
__ADS_1
...***...