
Richard sudah berada dalam ruangannya yang berada di markas. Richard akan membuat sesuatu barang yang terbuat dari jantung atau hati Radit dan nanti akan dia hadiahkan pada Diandra.
"Enaknya ini di buat apa ya." bingung Richard.
Richard pun mulai mencari referensi dari berbagai sumber, hingga dia mendapatkan ide yang sangat bagus.
"Bener nih artikel, keknya ini hati harus di buatnya jadi dompet. Pasti nanti Diandra akan senangnya menerima dompet ini." ucap Richard.
Richard pun mulai memasukkan hati itu kedalam air keras agar hati itu tetap awet dan tahan lama. Richard memendamnya di sana dengan waktu yang lama agar hasilnya lebih maksimal.
Sambil menunggu hasil Radit siap di otak atik Richard terlebih dahulu membuat desain dompet nya dulu. Dengan lihai tangannya menari nari di atas kertas. Hingga menghasilkan sebuah gambar yang sangat memukau.
"Dah, jadi." senang Richard saat melihat hasil karyanya.
Richard langsung pergi membawa hasil desainnya dan hati Radit pergi menuju tempat di mana biasa dia akan membuat tas tas dari organ organ manusia.
...**...
Elina pergi menyelusuri kota Jakarta sendirian untuk mencari letak yang strategis untuk dia jadikan tempat judi.
"Keknya kalau di sini aman sih." gumam Elina setelah mengganti keadaan sekitar yang mayoritas orang orangnya pada cuek pada hal di sekitar mereka.
"Oke tempatnya sudah dapat, sekarang tinggal urusan sama pihak yang berwajib." lanjutnya dan segera pergi dari sana.
Dalam perjalanan Elina memutuskan untuk mencari makan terlebih dahulu. Dari arah dia berdiri dia melihat ada gerobak penjual mie ayam, Elina pun berencana ingin membelinya. Saat dia akan pergi ke sana tiba tiba tangannya di tarik oleh seseorang menjauh dari tempat itu.
"Ehh apa apaan sih, main tarik tarik aja." ucap Elina sambil berusaha melepaskan tangannya.
Dia akan menggunakan ilmu menggigitnya tapi sepertinya orang itu tahu apa yang akan di lakukan oleh Elina, karena orang itu juga memegangi kepalanya agar tidak bergerak.
"Woy lepasin." berontak Elina.
"Diam, kamu laparkan? Kalau mau beli mie ayam jangan di sana karena di sana rasanya gak enak." balas orang itu yang mengetahui keinginan Elina.
"Apa kamu lupa siapa saya?" tanya orang itu sambil membuka masker hitam yang dia kenakan.
"Ethan." kaget Elina, karena ternyata yang menarik tangannya tadi adalah Ethan.
Pantas saja dia tahu jurus jitu Elina, orang Ethan juga mempelajarinya.
"Sedang apa kamu di sini, apakah tuanmu itu mau buka bisnis di sini juga?" tanya Ethan.
"Bukan urusanmu, urus aja urusan bos psikopat mu itu." balas Elina.
__ADS_1
"Iya lah jelas bukan urusanku, tapi kalau bos mu mau obrak abrik kota ini sepertinya tuan saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi." balas Ethan.
"So apa urusannya sama saya." bodo amat Elina.
"Kamu sekarang kenapa jadi seperti ini sih?" tanya Ethan heran.
"Kamu tanya kenapa aku jadi begini, tanya saja sama diri kamu sendiri kenapa aku bisa berubah seperti ini." marah Elina.
"Aku punya salah apa sama kamu, kita dulu berteman dekat tapi sekarang kenapa kamu berubah?" balas Ethan.
"Itu semua gara gara kamu." tunjuk Elina pada dada Ethan sambil sedikit mendorongnya.
"Aku punya salah apa sama kamu?" tanya Ethan lagi.
"Sudahlah mau bicara seperti apapun kami juga gak bakal ngerti apa-apa yang aku rasakan." jawab Elina.
"Kamu mau kemana?" tanya Ethan menahan tangan Elina saat Elina hendak pergi dari sana.
"Lepaskan, dan jangan ganggu hidup saya lagi." tegas Elina dan pergi dari sana.
Ethan memandangi kepergian Elina dengan pandangan sedu. Dia rindu Elina yang dulu, Elina yang ceria, yang suka menghibur dirinya di saat dia bersedih.
Tapi semua itu hanya kenangan semata, nyatanya sekarang Elina sudah banyak berubah tidak seperti dulu lagi. Bahkan cara Elina menatap dirinya juga sudah berubah. Ethan dapat melihat tadi ada guratan kesedihan dan kebencian yang menjadi satu di sana.
"Seandainya kamu masih tetap sama seperti dulu, mungkin kita sudah hidup bahagia seperti yang lain." gumam Ethan dan setelah itu dia beranjak pergi dari sana.
...**...
Tok tok tok.
"Permisi tuan." ucap Ethan setelah mengetuk pintu ruangan Richard.
"Masuk." balas Richard.
Ethan pun masuk ke dalam ruangan Richard sambil di tangannya membawa beberapa berkas.
"Ada apa?" tanya Richard.
"Saya sudah mendapatkan apa yang tuan cari selama ini." jawab Ethan meletakkan beberapa berkas itu di atas meja kerja Richard.
Richard mengambilnya dan mulai membaca satu persatu berkasnya berkas itu dengan teliti agarwal tidak ada yang tertinggal satu kata pun.
"Benarkah semua ini?" tak percaya Richard.
__ADS_1
"Benarkah tuan, saya sudah memastikannya sendiri." jelas Ethan.
"Carikan pendonor ginjal yang cocok untuk Becca, kalau perlu kamu cari di seluruh dunia sampai dapat." perintah Richard.
Haduh kasian sekali Ethan, tugasnya buaknya berkurang ini malah semakin bertambah rumit saja. Pantesan dia jomblo.
"Baik tuan akan segera saya lakukan." balas Ethan.
"Kalau ada yang cocok kasih dia uang lima milyar, agar orang itu bisa bertahan hidup sampai nanti."lanjut Richard.
"Baik tuan."
"Ayo kita pergi ke rumah sakit, saya sudah tidak sabar ingin memeluk Becca." ajak Richard.
Richard segera pergi dari sana, dia bahkan melupakan dompet yang sudah dia kerjakan tadi di atas meja kerjanya. Mungkin karena saking senangnya dapat menemukan kebenaran adiknya yang sudah lama dia cari.
Tapi dia juga sedih karena sekarang kondisi adiknya sedang tidak baik baik saja. Richard janji akan mencarikan donor ginjal yang cocok untuk adiknya, kalau perlu dia sendiri yang akan mendonorkan ginjalnya pada adiknya.
Sampai di rumah sakit Richard langsung berlari menuju kamar rawat Rena. Dia langsung membuka pintu kamar rawat Rena dengan kasar dan langsung memeluk Rena.
"Becca sayang, maafkan Abang yang tidak cepat menemukan kamu hingga kamu harus hidup seperti ini." ucap Richard sambil menangis memeluk Rena.
Mereka semua yang ada di sana pun terheran heran melihat tingkah Richard. Jangankan mereka, Rena aja heran. Apalagi setelah Richard memanggilnya dengan sebutan Becca, semakin bingung saja rasanya dia.
"Maaf tuan nona, tuan saya emang sedang tidak waras." ucap Ethan pada mereka semua yang ada di sana.
"Sembarang kamu kalau ngomong. Semua bonus yang saya berikan sama kamu saya tarik kembali." balas Richard melepaskan pelukannya pada Rena dan menatap Ethan tajam.
"Loh saya cuma becanda tuan, tolong jangan ambil jam tangan saya. Itu udah cocok loh di tangan saya." mohon Ethan.
"Terserah saya, salah sendiri berani menyumpahi saya tidak waras." bodo amat Richard.
"Lah kan saya jujur, tuan kan emang beberapa hari ini seperti orang gila. Mulai waktu itulah yang mengaku gara gara nona Diandra...."
"Ethan tutup mulut kamu, atau saya jahit mulut kamu." ancam Richard.
Mendengar itu Ethan pun langsung menutup mulutnya. Bisa berabe nanti kalau sampai Richard menjahit mulutnya dengan jahitan tas Richard, bisa bisa nanti dia gak bisa makan.
"Kamu kenapa sih, kok aneh banget. Terus itu tadi kami kenapa main peluk Rena begitu saja, kamu gak takut sama aku?" tanya Diandra menatap Richard dengan tajam.
"Ehh sayangku, nanti aku bisa jelaskan semuanya sana kamu oke. Sekarang aku mau bilang sama semuanya kalau sebenarnya Becca itu, ehh salah maksud aku kalau Rena itu adalah...." ucap Richard menggantung ucapannya yang membuat orang orang pada penasaran.
...*** ...
__ADS_1