Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTP#55


__ADS_3

Setelah menunggu hampir dua jam, akhirnya foto rontgen milik Rena pun keluar. Diandra di temani Richard masuk ke ruangan dokter yang menangani Rena. Sedangkan Dito masuk ke dalam ruangan Rena untuk menemani Rena yang masih belum sadarkan diri.


"Gimana keadaan penyakit adik saya dok, apakah mulai membaik?" tanya Diandra pada dokter itu.


"Begini bu, sepertinya beberapa hari terakhir adik ibu suka makan makanan cepat saji, seperti mie instan dan bergai macam olahan cepat saji lainnya. Jadi yang saya lihat dari foto rontgen ini penyakitnya semakin parah." jelas dokter itu.


"Kita harus cepat cepat mendapatkan donor ginjal, atau kalau tidak adik ibu tidak bisa bertahan lama. Karena cuci darah itu tidak cukup untuk pengobatan gagal ginjal. Apalagi setelah saya lihat dari rangkuman pengobatan adik ibu beberapa bulan terakhir ini udah beberapa kali tidak melakukan cuci darah. Jadi itu sangat berpengaruh kepada kesehatan ginjal." lanjut dokter itu.


"Selain donor ginjal apakah tidak ada cara lain lagi dok? Karena kami sudah dari lama mencari donor yang cocok Tapi tidak ada yang cocok sama ginjal adik saya dok." tanya Rena.


"Tidak ada mbak, nanti saya akan berusaha membantu kalau sudah ada nanti bakal saya kabari." jawab dokter itu.


"Mungkin ada saudara dari adiknya, karena biasanya saudara kandung itu cocok dengan ginjal si penderita Bu?"


"Tidak ada dok, kami sudah tidak mempunyai saudara. Dan ginjal saya pun tidak cocok dengan adik saya, saya sudah pernah mengeceknya dulu." jawab Diandra.


"Ibu bantu doa saja semoga kita bisa mendapatkan donor ginjal yang cocok dengan adik ibu."


"Iya dok, kalau begitu saya permisi dulu dok." pamit Diandra.


"Iya Bu."


Diandra pun keluar dari ruangan dokter itu di temani Richard yang setia berada di sisinya.


"Kamu mau jalan jalan ke taman dulu gak?" tawar Richard dan mendapatkan anggukan dari Diandra.


Richard pun membawa Diandra pergi ke taman rumah sakit untuk menyegarkan pikirannya di sana.


"Aku boleh tanya sesuatu gak sama kamu?" tanya Richard setelah mereka berdua duduk di kursi rumah sakit, dan di balas anggukan saja oleh Diandra.


"Rena itu adik kamu?" tanya Richard.


"Iya dia adik aku, tapi lebih tepatnya dia adik tiri aku." jawab Diandra.


"Adik tiri, maksud kamu anak dari siapa?" tanya Richard lagi penasaran.


"Aku gak tahu siapa orang tua kandung Rena, karena kedua orang tuaku menemukan Rena di saat dia sudah anak anak." jawab Diandra.


"Bolehkah kamu ceritakan lebih jelasnya, siapa tahu aku bisa bantu cari orang tua Rena?" pinta Richard.

__ADS_1


Akhirnya Diandra pun menceritakan semuanya seperti dia menceritakan padanya Dito tadi. Richard yang mendengar penjelasan Diandra pun hatinya menjadi tidak tenang. Seperti ada rasanya khawatir yang lebih tinggi dari yang tadi.


"Maka dari itu aku kesusahan mencari donor ginjal yang cocok untuk Rena, karena aku tidak tahu siapa saudara ataupun kedua orang tua Rena." jelas Rena.


"Boleh aku lihat foto Rena waktu kecil?" tanya Richard.


"Boleh, tapi ada di kontrakan aku. Nanti kalau pulang aku kasih lihat sama kamu." jawab Diandra.


"Ya sudah sekarang kita lihat adik kamu dulu yuk, siapa tahu adik kamu sudah sadar." ajak Richard.


"Yuk." balas Diandra.


Mereka pun pernah menuju ruangan Rena berada. Sampai di sana ternyata memang benar tebakan Richard kalau Rena sudah sadar. Rena tengah bersandar di temani Dito yang tengah menyuapkan makanan untuk Rena.


"Rena kamu sudah sadar dek." senang Diandra.


"Iya kak, kakak dari mana aja kata Dito tadi kakak pergi menemui dokter?" balas Rena.


"Iya tadi kakak urus berkas berkas kamu dulu." balas Diandra.


Richard sedari masuk ke dalam ruangan Rena pun tak mengalihkan pandangannya dari wajah Rena sedikitpun. Apalagi mata Rena yang sangat tidak asing bagi Richard. Kalau memang Rena itu benar adiknya, maka Richard akan sangat merasa bersalah sekali karena dia tidak cepat cepat mencari Rena sampai Rena bisa menderita seperti ini.


"Oh iya kakak lupa, kenalin ini pacar kakak." balas Diandra memperkenalkan Richard pada Rena.


"Ooh jadi dia yang udah nonjok muka Dito." sinis Rena.


"Ssttt... kamu gak boleh ngomong gitu yang." tegur Dito.


"Apaan sih orang memang iya kak, dasar prosesi." cibir Rena.


Richard yang mendengar itu hanya tersenyum saja, karena yang di kata oleh Rena memang benar adanya.


"Sebelumnya kenalin dulu nama kakak Richard, dan kakak minta maaf ya karena sudah menonjok muka pacar kamu. Kan kakak gak tahu kalau dia itu pacar kamu, kakak kira dia itu selingkuhan kakak kamu lagi." ucap Richard memperkenalkan dirinya sambil membela diri.


"Halah bilang aja kalau posesif." judes Rena.


"Rena kamu kenapa gitu sih, gak sopan tahu." tegur Diandra.


"Emang bener kok kalau pacar kakak itu posesif. Iya kan yang?" balas Rena bertanya pada Dito.

__ADS_1


"Aku juga akan melakukan hal yang sama kalau aku lihat kamu lagi berduaan sama cowok." balas Dito.


"Tuh dengerin, jadi kamu hal boleh ngomong gitu lagi sama kak Richard." timpal Diandra.


"Iya kak, maaf." balas Rena.


"Udah yang, emang bener kok aku posesif. Karena kalau gak gitu nanti kamu bakal di ambil orang." ucap Richard membela Rena.


"Tuh kak dengerin, orang dia aja mengakui." sahut Rena.


"Udah sini kamu lanjutkan makannya, nanti kalau udah selesai makannya bisa kamu lanjutkan lagi kalau mau ngobrol." tegur Dito dan langsung memasukkan satu sendok nasi ke mulut Rena agar tidak ngoceh lagi.


Hari sudah malam hari, Richard bersiap untuk pulang ke apartemennya. Dia akan bertanya pada Diandra mau ikutan pulang atau tetap tinggal di sini, kalau mau Richard sih Diandra ikut pulang karena dia pengen main enak enak.


"Yang aku pamit pulang dulu ya, kamu mau ikut aku atau mau di sini aja?" tanya Richard pada Diandra.


"Aku di sinilah aja jagain Rena." jawab Diandra.


"Gak usah kak, biar Dito aja yang jaga Rena di sini. Kakak sebaiknya istirahat aja di rumah. Besok pagi kakak bisa ke sini lagi bergantian sama Dito." sahut Dito.


"Kamu beneran gak papa kakak tinggal di sini sendiri?" tanya Diandra memastikan, kalau boleh jujur sih Diandra maunya pulang dan istirahat dengan tenang di rumah karena tubuhnya juga sudah sangat lelah hari ini.


"Iya kak gak papa, kakak pulang aja sama kak Richard." balas Dito yakin.


"Ya udah kakak titip Rena ya, besok kakak alam ke sini lagi."


"Iya kak, kakak gak perlu khawatir."


"Nanti kalau ada apa apa kamu telfon kakak, titip salam nanti kalau Rena bangun ya." pesan Diandra.


"Iya kak, kakak hati hati di jalan." balas Dito.


"Saya pulang dulu ya, nanti kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi kita aja." ucap Richard sebelum pergi dari sana.


"Iya kak, hati hati di jalan." balas Dito.


Mereka berdua pun pergi meninggalkan Dito sendirian menemani Rena yang sudah tertidur dengan damai di atas bangkar nya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2