
'Tidak nak, Rena tidak apa apa. Itu hanya hal biasa saat Rena telat cuci darah sama kehabisan obat pasti Rena akan nangis karena pinggangnya terasa sakit.' bohong ibu Tika.
'Ya ampun Rena kasian banget kamu dek, ya udah bu cepat bawa Rena ke rumah sakit aja. Soal uang habis ini Diandra transfer.' balas Diandra.
'Ya udah nak ibu matiin dulu ya telfonnya. Ibu mau cepat cepat bawa Rena ke rumah sakit.'
'Iya bu, habis ini Diandra kirim uangnya.'
' Iya nak, ibu tunggu.'
Tut.
"Huh, akhirnya dapat uang juga. Itu si Rena harus di kasih pelajaran dulu sebelum aku pergi." ibu Tika pun langsung masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Rena.
"RENA DIMANA KAMU?" teriak ibu Tika mencari keberadaan Rena.
Sedangkan Rena yang berada di dalam kamarnya pun langsung mengunci pintu kamarnya agar ibu Tika tidak dapat masuk ke dalam.
"RENA buka pintunya."
Dor dor dor.
Ibu Tika menggedor pintu kamar Rena dengan keras.
"Maaf Bu, Rena minta maaf. Jangan hukum Rena." balas Rena dari dalam kamarnya.
"Buka pintunya Rena, atau mau saya dobrak." ancam ibu Tika.
"Jangan Bu, Rena mohon."
Dor dor dor.
"Buka pintunya Rena." ucap ibu Tika sambil menggedor-gedor pintu.
Drrtt drrtt drrtt.
Handphone ibu Tika berdering, ibu Tika pun segera mengangkat panggilan telepon.
"Kali ini kamu selamat ya, awas nanti kalau saya sudah pulang." ucap ibu Tika sebelum pergi dari sana.
Ibu Tika mendapatkan telepon dari teman temannya, katanya mereka sudah sampai di tempat di mana mereka akan melakukan judi.
"Aku harus melakukan sesuatu, kasian kak Dian kalau terus terusan di tipu sama ibu." monolog Rena.
Dan secara kebetulan sekali handphone Rena berdering ada yang menelfonnya. Rena pun segera menggangkat panggilan itu.
__ADS_1
'Halo.' ucap Rena.
'Aku ada di depan gang, keluar gih ayo kita pergi.' ajak Dito yang berada di sebrang sana.
'Iya aku siap siap dulu.' balas Rena.
Rena pun langsung ganti baju dan bersiap untuk pergi sama Dito.
Setelah selesai Rena langsung keluar dari rumah, tak lupa dia mengunci pintu rumahnya dan meletakkan kunci rumah di bawah pot bunga yang ada di sana.
"Maaf sudah buat kamu menunggu lama." ucap Rena saat memasuki mobil Dito.
"Enggak kok, aku juga baru sampai di sini." balas Dito berbohong, padahal Dito ada di sana sejak melihat ibu Tika tadi pergi.
"Kamu gak kenapa kenapa kan?" tanya Dito sambil menjalankan mobilnya.
"Enggak kok, emang aku kenapa?" balik tanya Rena.
"Gak papa sih, cuma itu mata kamu sebab kayak habis nangis."
"Iya tadi aku nangis karena senang bisa telfonan sama kak Dian."
"Kamu udah kasih tahu kakak kamu kalau kamu sering di siksa sama ibu kamu?" tanya Dito di balas gelengan oleh Rena.
"Ibu ngancam aku, kalau sampai aku kasih tahu kakak katanya aku bakal di usir dari rumah. Kamu kan tahu aku udah gak punya siapa siapa lagi, trus kalau aku di usir aku mau tinggal di mana." jelas Rena.
"Seharusnya kamu bilang sama aku biar aku bisa bantu kamu, dan kamu juga tidak perlu takut mau tinggal di mana. Kamu bisa tinggal sama aku di apartemen."
"Terus sekarang nomor telfon kakak kamu mana, kamu telfon aja mumpung ibu kamu gak ada." lanjut Dito.
"Aku gak tahu nomor telfonnya, tadi aku telfon pakai handphone ibu. Terus ibu selalu menunggu di samping aku, jadi aku tidak bisa mengambil nomor kak Dian." balas Rena.
"Kamu yang sabar ya, aku janji akan bantuin kamu." Dito mengelus kepala Rena.
"Ehh tunggu deh, berarti kamu tahu dong pin handphone ibu kamu sama nama kontak kakak kamu di handphone ibu kamu?" tanya Dito saat di otaknya terlintas ada sebuah ide.
"Iya aku tahu, emang kenapa?"
"Aku ada ide buat ambil handphone ibu kamu dengan cara kriminal. Terus nanti kita ambil nomor kakak kamu dari handphonenya." ide Dito.
"Maksud kamu, kamu mau jambret handphone ibu?"
"Iya, kan kamu sudah tahu tempatnya jadi kita tinggal ambil handphonenya aja."
"Tapi itu bahaya, nanti kamu bakal di kira maling sama orang orang."
__ADS_1
"Ya bukan aku juga yang ambil Rena sayang. Nanti aku bakal suruh orang buat ambil handphone ibu kamu terus nanti di kasih ke aku gitu."
"Ooh gitu, ya udah deh terserah kamu aja." pasrah Rena.
"Ya udah nanti kamu tinggal kasih tahu aku nomor PIN sama nama kontaknya, kamu tunggu beresnya aja."
Setelah itu mereka sama sama terdiam. Hingga mobil Dito berhenti di depan sebuah mall.
"Kita mau ngapain ke sini?" heran Rena.
"Kamu tahu kan kalau ini mall, ya pasti kita mau belanja lah." jawab Dito seadanya dan keluar dari mobil.
"Yuk." ajak Dito membukakan pintu mobil untuk Rena.
"Udah gak usah banyak tanya, kita masuk aja." ucap Dito saat Rena akan bertanya lagi.
Rena pun mengatupkan bibirnya dan mengikuti langkah Dito memasuki mall.
...**...
Sedangkan di tempat Diandra, dia sekarang tengah berada di mall. Tadi sih niatnya mau belanja, tapi setelah mendapatkan telfon dari ibu Tika sepertinya Diandra harus mengurungkan niatnya.
"Mending uangnya aku transfer aja ke ibu, masak aku di sini hidup enak sedangkan adik aku di sana menahan sakit." gumam Diandra.
Diandra pun langsung mentransfer uang dari rekening yang Richard berikan ke rekening miliknya dan setelah itu dari rekeningnya dia transfer kembali ke rekening punya ibu Tika.
Tidak tanggung-tanggung, Diandra langsung mentransfer uang sepuluh juta ke rekening ibu Tika. Diandra pikir itu nanti bisa buat beberapa hari ke depan, karena sekarang ini Diandra tidak ada lagi menipu orang jadi Diandra tidak mendapatkan pemasukan sama sekali.
Setelah beres Diandra mencari tempat makan karena perutnya sudah kelaparan.
"Semoga uang yang tadi cukup buat dua Minggu ke depan." monolog Diandra sambil berjalan menuju cafe yang ada di dalam mall.
Bruk.
"Aduh." keluh Diandra saat ada yang menabraknya dari samping.
"Ehh... maaf maaf aku tidak sengaja." ucap orang yang menambak Diandra.
"Gilak dia tampan banget, pasti dia orang kaya." batin Diandra setelah melihat siapa yang menabraknya.
Ternyata yang menabrak Diandra adalah seorang laki-laki yang memiliki tubuh yang menurut Diandra sangat tinggi. Tapi jika bersanding dengan Richard masih tinggi Richard sedikit.
"Ahh, Iya mas gak papa, aku juga tadi kurang fokus jalannya." balas Diandra.
...***...
__ADS_1