Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTP#29


__ADS_3

Rena dan juga Dito sudah sampai di rumah sakit tempat Rena akan cuci darah. Mereka langsung masuk dan menemui dokter Fia.


"Selamat pagi menjelang siang dokter Fia." sapa Rena ceria.


"Selamat pagi juga Rena sayang." balas dokter Fia dengan ceria juga.


Sementara itu Dito yang melihat keakraban antara keduanya pun merasa tidak beres.


"Loh kamu ada di sini jugalah Dit. Mana temen kamu?" tanya dokter Fia yang baru menyadari keberadaan Dito.


Dito diam tapi isyarat matanya melirik pada Rena.


"Jangan bilang temen yang kamu maksud itu Rena?" tebak dokter Fia dan di angguki oleh Dito.


"Wah kebetulan sekali sih ini." lanjut dokter Fia.


"Kamu kenal sama dokter Fia?" tanya Rena heran saat melihat interaksi antara keduanya.


"Iya, dia kakak ipar aku." jawab Dito.


"Wah beneran Dok?" tak percaya Rena.


"Iya Rena, dia adik aku." balas dokter Fia.


"Ya udah ayo langsung kita mulai saja biar nanti kamu pulangnya gak sore." ajak dokter Fia.


"Aku ke sana dulu ya." pamit Rena pada Dito.


"Iya, semangat ya. Kamu harus yakin kalau kami pasti bisa sembuh." balas Dito memberikan semangat kepada Rena.


"Makasih." balas Rena.


"Yuk." ajak dokter Fia.


"Kakak butuh penjelasan kamu nanti di rumah." bisik dokter Fia pada Dito sebelum pergi dari sana.


Mereka pun pergi meninggalkan Dito sendirian di sana. Karena bingung mau ngapain, Dito pun memutuskan untuk tiduran di bangkar yang ada di ruangan dokter Fia.


...**...


Selesai melakukan cuci darah Rena pun langsung pulang di antar Dito lagi.


"Gimana apakah masih pusing atau mual?" tanya Dito karena sekarang dia sudah banyak tahu tentang penyakit ginjal.

__ADS_1


"Mualnya sih enggak, cuma masih agak pusing sedikit." jawab Rena sambil tersenyum.


"Nanti kamu jangan melakukan aktivitas apapun dulu, kamu harus banyak banyak istirahat."


"Iya lihat nanti aja." balas Rena.


Dito jadi kepikiran untuk membawa Rena ke apartemennya aja, karena nanti pasti kalau pulang ke rumah Rena bakal bersih bersih ataupun melakukan pekerjaan rumah yang lainnya. Dan Dito tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


"Loh kenapa berhenti?" tanya Rena saat Dito menepikan mobilnya di pinggir jalan.


"Bentar kamu tunggu di sini dulu ya, aku mau beli sesuatu." jawab Dito dan di angguki Rena.


Dito pun keluar dari mobil dan pergi menuju minimarket yang ada di dekatnya. Setelah sampai di sana Dito langsung mencari buah delima. Karena yang dia tahu, buah delima itu bagus untuk ginjal.


Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Dito pun langsung kembali menghampiri Rena yang berada dalam mobil.


"Kamu beli apa?" tanya Rena penasaran.


"Ada deh, nanti kamu juga akan tahu." balas Dito sambil tersenyum.


Rena pun tak membalasnya lagi, karena percuma toh sampai nanti Dito juga tidak bakal menjawabnya.


"Loh ini mau ke mana, jalan ke rumah aku kan di sana." bingung Rena saat melihat mobil Dito melaju lurus tidak belok ke arah rumahnya.


"Terus nanti di rumah siapa yang masakin ibu?"


"Kamu gak usah khawatir, aku sudah suruh orang buat mencucikan semua pakaian kotor dan juga memasak makanan untuk ibu kamu." balas Dito.


"Kamu seriusan?"


"Iya aku serius, aku gak mau kamu kecapekan lagi. Aku mau kamu fokus sama pengobatan kamu aja biar kamu cepat sembuh." tegas Dito.


"Tapi nanti gimana aku kembaliin uang kamunya, kamu sudah keluarkan banyak uang buat pengobatan aku. Masak iya kamu mau memperkerjakan orang di rumah ku."


"Uang bagi aku tidak masalah. Aku akan memberikan apapun yang kamu mau dan kamu butuhkan. Toh gak ada jugalah yang bantu aku habisin duit." balas Dito santai setengah sombong.


"Makasih ya kamu sudah baik banget sama aku."


"Ada satu syarat untuk kamu." ucap Dito yang membuat Rena langsung menatap Dito yang tengah menyetir mobil.


"Syarat, syarat apa? Kalau kamu mau minta ganti uangnya aku masih belum ada sekarang. Nanti setelah sembuh aku akan mencari pekerjaan buat ganti uang kamu."


"No, aku bukan minta ganti uang ku."

__ADS_1


"Terus?"


"Nanti saja kita bicarakan ini di apartemen biar lebih enak." balas Dito dan hanya di angguki saja oleh Rena.


Toh memang berbahaya juga kalau mereka ngobrol serius dalam perjalanan.


...**...


Sementara itu, Diandra sekarang tengah berada di lobby kantor Richard. Tadi Richard sempat menelfon Diandra dan menyuruh Diandra untuk datang ke kantornya. Katanya sih Richard kangen.


"Ada yang bisa saya bantu mbak?" tanya resepsionis perempuan yang berada di mejanya.


"Eemm... saya mau tanya ruangan pak Richard di Mana ya?" balas Diandra bertanya.


"Maaf mbaknya ada perlu apa ya, apakah mbaknya sudah membuat janji?" tanya resepsionis itu sambil menelisik penampilan Diandra dari atas rambut hingga ujung kakinya.


"Sudah mbak." jawab Diandra.


"Sebentar ya mbak tunggu di sana dulu biar saya bilang kepada sekertaris tuan Richard. Kalau boleh tahu atas nama mbak siapa ya?"


"Saya Diandra mbak."


"Ya udah mbak Diandra Tolo di tunggu sebentar ya, nanti saya bakal kasih tahu mbak Diandra kalau sudah di persilahkan ke ruangan tuan Richard." suruh resepsionis itu.


"Iya mbak." Diandra pun nurut nurut saja, dari pada nanti masalahnya makin panjang. Sebenarnya sih dia sangat males kalau harus di suruh menunggu menunggu seperti ini, tapi mau bagaimana lagi.


Setengah jam berlalu, Diandra masih duduk di sofa yang ada di lobby. Lima belas menit yang lalu Diandra sudah bertanya pada resepsionis. Tapi dia menjawab katanya Richard lagi ada meeting dan di suruh menunggu sebentar. Dan ini sudah setengah jam belum ada kabar juga.


Diandra juga kesal karena handphone Richard tak bisa di hubungi. Dalam situasi seperti ini malah dia gak ada, giliran gak di butuhin malah nongol. Awas aja nanti bakal Diandra kasih hukuman buat Richard.


"Permisi mbak, maaf apakah masih lama?" tanya Diandra menghampiri resepsionis itu lagi.


"Sebentar ya mbak, mungkin meetingnya belum selesai. Mungkin mbaknya bisa pulang terlebih dahulu dan kembali lagi besok." balas resepsionis itu.


"Kenapa gak bilang dari tadi aja sih kalau lama, saya sudah menunggu lebih dari setengah jam di sini." marah Diandra.


Diandra itu paling malas kalau di suruh menunggu, dan ini setelah menunggu lama ehh malah di suruh pulang. Siapa coba yang tidak kesal.


"Loh mbaknya kok marah, tuan Richard emang sedang sibuk. Dan tidak ada waktu untuk menemui wanita seperti anda."


"SIAPA WANITA YANG KAMU MAKSUD ITU HAH."


...***...

__ADS_1


__ADS_2