Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTP#109


__ADS_3

"Mana yang sakit sini Om liat." balas Richard menggendong Ezra dan membawanya pergi ke kursi kebesarannya.


"Ini sakit hiks hiks." tunjuk Ezra pada lututnya yang memerah.


"Udah ya jangan nangis, kan jagoan gak boleh nangis." udah Richard menenangkan Ezra agar tidak menangis.


"Astaga Ezra, mama cariin kamu kemana mana ternyata kamu malah ada di sini, sini sama mama jangan ganggu Om kerja." ucap seorang wanita yang baru saja datang.


"Gak papa El, lagian Aku juga lagi free." balas Richard pada Elina.


Ya, Ezra adalah anak Elina dan Ethan, usianya tak jauh beda dengan Jenifer hanya beda beberapa bulan saja.


"Mama jahat, Ezra gak mau sama mama, nanti Ezra bakal aduin mama ke papa biar sama papa Mama di hukum." balas Ezra.


"Ezra gak boleh ngomong gitu sama mama." tegur Richard.


"Tapi mamanya jahat sama Ezra, mama maksa Ezra buat sekolah padahal Ezra kan gak mau, Ezra mau di sini belajar bisnis sama Om." jelas Ezra.


"Sayang dengerin Om ya, sekarang Ezra harus sekolah biar pintar, nanti kalau sudah besar Ezra bakal Om ajarin bisnis seperti Om." ucap Richard memberikan pengertian buat Ezra.


"Gitu ya Om?"


"Iya sayang, kamu harus belajar biar jadi anak yang pintar." balas Richard dengan lembut.


"Ya udah ma, Ezra mau sekolah sekarang." ucap Ezra turun dari pangkuan Richard dan pergi menghampiri Elina.


"Nah gitu dong, itu baru anak mama." balas Elina senang.


"Terimakasih ya sudah mau membuat Ezra mau pergi ek sekolah." ucap Elina pada Richard.


"Iya, lagian juga Ezra kan keponakan aku sendiri." balas Richard.


"Ya udah kita pergi dulu ya, nanti kalau mas Ethan mau pulang bilangin langsung pulang ke rumah tuan Andrew aja soalnya tuan Andrew mau ngapain makan malam bersama, sekaligus tuan juga nanti di suruh ke sana."


"Oke." balas Richard.

__ADS_1


Elina pun pergi membawa Ezra anaknya untuk pergi ke sekolah.


"Seandainya kamu masih ada, mungkin kita akan bahagia seperti mereka." gumam Richard menatap kepergian Elina dan Ezra.


Richard pun beranjak pergi dari sana untuk mencari makan siang karena tadi pagi dia tidak sarapan sebelum berangkat kerja, jadi sekarang perutnya sudah keroncongan.


...**...


"Jeni gak punya papa, Jeni gak punya papa."


"ENGGAK, JENI PUNYA DADDY." bantah Jenifer marah.


Teman teman Jenifer selalu saja mengejek kalau Jenifer gak punya papa, padahalkan Jenifer punya-nya Daddy, tapi Jenifer tidak tahu di mana daddy-nya.


"Anak anak sudah ya jangan seperti itu, nanti Jenifer nangis." lerai ibu guru agar anak anak yang lain tidak mengejek Jenifer lagi.


"Ibu guru Jenifer punya Daddy tapi Jenifer gak punya papa." ucap Jenifer menjelaskan pada ibu guru itu.


"Iya Jenifer punya Daddy kok." balas ibu guru itu sambil tersenyum lembut.


"wleek, Jenifer punya Daddy." ledek Jenifer pada teman temannya.


"Baik bu." balas mereka dan melakukan doa untuk pulang.


Pulang sekolah banyak anak anak yang di jemput kedua orang tuanya mengendarai sepeda motor ataupun mobil, hanya Jenifer dan beberapa anak saja yang pulang pergi harus jalan kaki.


"Enak ya mereka tidak kepanasan." ucap Jenifer menatap teman sekelasnya yang di jemput oleh papanya menggunakan mobil.


"Sudah Jeni kau tidak usah halu, ayo cepat pulang nanti mommy mu marah karena kau lama pulangnya." balas teman Jenifer yang bernama Salsabila.


"Iya Bila Jeni tahu kok, Jeni hanya ingin merasakannya saja, siapa tahukan mereka mau memberikan tumpangan pulang buat Jeni." balas Jenifer.


"Kau ini menghayal saja kerjaannya, mereka tidak akan mau ngasih tumpangan buat orang miskin seperti kita, udah ayo pulang nanti kita main di kali." balas Salsabila menyeret tangan Jenifer untuk segera pulang ke rumah mereka.


Lihatlah percakapan anak kecil sekarang sudah seperti orang dewasa, halulah, ngayallah, sudah seperti para pembaca yang sekarang lagi ngayal.

__ADS_1


Kedua anak kecil itu pun pulang menuju rumah mereka, sampai di rumah Jenifer langsung mengambil kunci yang ada di bawah pot tanaman.


Diandra belum pulang dari sawah jadi Jenifer harus membuka pintu rumahnya yang terkunci sendiri.


Jenifer sudah terbiasa melakukan itu mulai dari kecil, karena Diandra sering meninggalkannya di rumah sendirian.


"Huh, perutku lapar." ucap Jenifer saat sudah masuk kedalam rumahnya.


Jenifer mencari makanan di dapur dan hanya mendapatkan sayur bening saja tanpa ada nasi di sana.


"Sayur bening lagi, kapan ya Jeni bisa makan pizza sama Berger." ucap Jenifer dan langsung melahap sayur bening yang ada di atas meja dengan lahap karena dia memang sudah kelaparan.


Setiap pergi ke sekolah Jenifer tidak pernah bawa uang saku, kalaupun Diandra punya uang dan memberi Jenifer uang saku Jenifer selalu menyimpannya di dalam celengan ayam miliknya.


Tanpa Jenifer ketahui ternyata ada Diandra du balik pintu rumahnya, Diandra baru saja pulang dari sawah dan mendapati anaknya tengah mencari sesuatu du dapur.


"Maafkan mommy nak harus membuat hidup kamu menderita seperti ini, padahal sebenarnya Daddy mu mampu membelikan mu Berger sama pizza setiap hari." gumam Diandra.


Tak ingin di ketahui oleh anaknya, Diandra pun kembali pergi dari sana dan bersembunyi di belakang rumah.


Selesai menghabiskan sayur bening Jeni pergi ke rumah Salsabila dan mengajaknya pergi ke kali untuk main air di sana.


Sedangkan Diandra yang melihat anaknya sudah pergi pun masuk ke dalam rumahnya lagi.


Diandra pergi ke kamarnya dan mengambil sesuatu di bawah lampitan baju di dalam lemari pakaiannya.


"Apakah kamu di sana hidup bahagia?" tanya Richard pada sebuah kertas yang ada di tangannya.


Hanya itu yang Diandra punya untuk kenang kenangan dengan Richard, dulu Diandra mendapatkan itu dari koran bekas bungkus gorengan yang dia beli.


Di koran itu ada foto Richard dan dari situlah Diandra menyimpan koran itu hingga sekarang kalau dia tengah merindukan Richard dia akan memandangi koran itu sebagai obat rindunya.


"Aku kangen sama kamu, apakah kamu juga kangen sama aku?" ucap Richard menatap foto Richard yang ada di koran itu dengan penuh rasa rindu.


"Kamu tahu gak, anak kami itu nakal banget, sama seperti kamu. Dia juga pintar seperti kamu, apakah nanti kamu akan menyayanginya kalau kalian bertemu?"

__ADS_1


"Kamu tahu, tadi dia bilang ingin makam pizza sama Berger, tapi aku belum bisa membelikannya, mungkin kalau kamu ada di sini jangankan Berger sama pizza, pabriknya saja kamu mampu membelinya." lanjut Diandra berbicara panjang lebar mengungkapkan kesedihannya pada foto Richard.


...***...


__ADS_2