Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTP#25


__ADS_3

"Eehh jangan jangan, udah ayo pulang aja." Diandra menarik tangan Richard untuk berdiri dan di mengambil barang-barangnya yang ada di atas meja makan.


Akhirnya mereka pun pergi setelah Richard membayar makanan mereka.


...**...


Sementara itu, Rena sedang berusaha mencari cara agar bisa mendapatkan nomor telepon kakaknya agar Rena bisa memberitahukan kepadanya kepada Diandra.


"Aduh gimana ya caranya biar bisa dapatin handphone ibu." gumam Rena dalam kamarnya.


Rena mengintip melalui lubang yang ada di pintu kamarnya, dia melihat kalau ibu Tika tengah makan dan handphonenya berada di samping piring dia makan.


"Pokoknya aku harus bisa mendapatkan nomor kakak." lanjut Rena.


Rena pun memutuskan untuk keluar kamar dan mendekati ibu Tika. Rena berniat untuk mengambil handphone ibu Tika secara diam diam agar tidak ketahuan ibu Tika.


"Siang Bu." sapa Rena.


"Hmm." balas ibu Tika dan tetap lanjut makan tanpa memperdulikan Rena.


Tangan Rena perlahan mendekati posisi handphone ibu Tika, hingga kurang beberapa jarak lagi Rena dapat meraih handphone itu tapi keburu ibu Tika menggambil handphonenya dan berlalu pergi ke dapur karena sudah selesai makan.


"Huh sabar, pokoknya aku harus bisa, semangat Rena." ucap Rena memberikan semangka untuk dirinya sendiri.


Rena pun memutuskan untuk keluar rumah mencari udara segar sekalian jalan jalan keliling kampung. Sudah lama juga dia tidak melihat sekeliling kampungnya itu.


"Pak." sapa Rena saat berpapasan dengan bapak bapak yang mengayuh sepedanya, sepertinya bapak itu baru kembali dari kebun.


"Iya nak Rena." balas bapak itu.


Begitulah Rena, dia sangat rendah hati dan suka menyapa orang yang dia temui meskipun dia tidak mengenalnya. Apalagi kepada orang yang lebih tua, Rena sangat menghormatinya. Karena dia teringat dengan almarhum ibu dan bapaknya yang sudah pergi.


Tin tin tin.


Kuara klakson mobil dari belakang Rena menggagetkan Rena yang tengah berjalan. Rena pun melihat kebelakang, dan ada sebuah mobil yang berhenti di belakangnya.


"Hai." sapa orang yang baru saja keluar dari dalam mobil yang tak lain adalah Dito.


"Hai." balas Rena.


Dito berjalan menghampiri Rena.

__ADS_1


"Kamu lagi apa?" tanya Dito.


"Oh ini lagi jalan jalan aja, udah lama saya gak jalan jalan." jawab Rena.


"Boleh aku temenin?" pinta Dito.


"Boleh kok, tapi mobil kamu...."


"Kamu tenang saja, biar aku simpan mobil aku dulu." potong Dito dan berlari masuk ke dalam mobil.


Dito pun langsung menjalankan mobilnya menuju rumah pak RT yang pernah dia titipi mobil saat ke rumah Rena.


"Dah yuk." ajak Dito setelah selesai dan menghampiri Rena.


Rena tersenyum dan berjalan mengikuti jalanan beraspal dan Dito yang berada di sampingnya.


"Di sini ada tempat yang bagus gak?" tanya Dito penasaran.


" Eemm... sepertinya ada." jawab Rena menoleh ke arah Dito sebentar dan setelah itu kembali menatap jalanan di depannya.


"Ajak aku ke sana dong, biar aku tahu daerah sini." pinta Dito.


"Boleh, yuk." setuju Rena.


"Ini kita mau ke mana?" tanya Dito penasaran saat jalan yang dia lewati bersama Rena mekin menyempit dan tidak beraspal.


"Ada deh, nanti kamu juga bakalan tahu sendiri." balas Rena.


Dito pun tak mau banyak tanya lagi, dia yakin pasti nanti Rena juga akan membawa dia ke tempat yang indah.


Tak berapa lama telinga Dito menangkap suara air terjun yang sepertinya tak jauh dari posisi mereka saat ini.


"Kita mau ke air terjun ya?" tebak Dito dan hanya di balas senyuman saja oleh Rena.


"Aduh kenapa suka tersenyum sih, kan aku jadi makin suka." batin Dito yang baper melihat senyuman Rena.


Tak berapa lama mereka sudah sampai di pinggiran sungai yang airnya sangat jernih. Bahkan batu kerikil yang ada di dasar sungai pun terlihat dari permukaan.


"Wah, jernih banget airnya. Coba saja tadi aku bawa baju ganti, sudah pasti aku akan mandi di sini." kagum Dito.


"Kamu lihat itu deh." tunjuk Rena pada air terjun yang tak jauh dari mereka.

__ADS_1


"Wah beneran ada air terjun di sini. Gilak sih, kalau saja ini kampung ku sudah pasti aku akan sering mandi dan main di sini." seru Dito.


Tanpa Dito sadari kakinya melangkah mendekati air terjun itu untuk melihatnya lebih jelasnya lagi. Rena yang melihat itu pun mengikuti langkah kaki Dito.


Sampai di sana Dito melepaskan sepatu serta melipat celananya ke atas. Setelah itu dia duduk di atas batu dan kakinya dia masukkan ke dalam air.


"Airnya dingin banget." ucap Dito saat merasakan dinginnya air yang ada di sana.


"Iya kan dari mata air langsung." balas Rena.


"Kamu gak mau masukin kaki kamu ke sini?" tanya Dito menatap Rena.


Rena pun mengambil tempat duduk di batu samping Dito dan melakukan hal-hal yang sama seperti Dito.


"Kamu pasti betah banget ya tinggal di sini?" tanya Dito sambil kakinya dia ayun ayunkan di dalam air.


"Ya, saya sangat betah tinggal di sini. Tapi itu dulu sebelum kakak saya pergi ke ibu kota." jawab Rena sambil matanya menatap lurus ke depan mengingat masa masa dia saat hidup berdua bersama kakaknya.


"Emang kakak kamu kenapa pergi?" tanya Dito pura pura tidak tahu.


"Kakak saya pergi kerja di ibu kota buat biaya pengobatan saya." jawab Rena.


"Kamu sakit?" pura pura kaget Dito.


Rena hanya membalasnya dengan senyuman saja.


"Oh iya, saya boleh gak pinjam handphone kamu?" tanya Rena yang baru saja teringat untuk memberitahukan kakaknya sesuatu.


"Boleh, emang mau buat apa?" tanya Dito.


"Saya mau kasih tahu kak Dian kalau selama ini ibu tidak memperlakukan saya seperti apa yang kak Dian tahu." jawab Rena.


"Maksud kamu, ibu kamu jahat gitu?"


"Sebenarnya saya tidak mau memberitahukan hal ini pada siapa pun, tapi ini ibu sudah keterlaluan. Ibu memeras kak Dian mengatasnamakan penyakit saya." sedu Rena saat mengingat percakapan ibunya dan kakaknya di telepon.


"Cerita sama aku, siapa tahu aku bisa bantu kamu?" tangan Dito terulur memeluk punggung Rena.


Rena pun menceritakan masalahnya, termasuk saat dia pingsan waktu itu. Dito yang mendengar cerita Rena pun rasanya ingin menonjok wajah ibu Rena itu.


"Ssttt... kamu yang sabar ya, aku janji bakal bantu kamu. Dan soal biaya pengobatan kamu aku yakin bakal tanggung semuanya."

__ADS_1


...***...


__ADS_2