
"Sayang ayo cepat, mereka sudah menunggu." teriak Dito dari dalam kamarnya.
"Iya bentar lagi selesai." jawab Rena dari dalam kamar mandi.
"Dasar cewek kalau apa apa lama banget." gerutu Dito.
"Kamu ngomong apa hmm?" sahut Rena di tengah pintu kamar mandi.
"Ehh enggak kok, kamu salah dengar kali." kilah Dito.
"Nyeyeye." menye menye Rena.
"Dah ayo kita pergi." ajak Rena.
Mereka pun pergi menuju tempat di mana Dito ada janjian sama orang yang dia suruh kemarin.
Semalam memang Rena menginap di apartemen Dito karena Dito tidak mengizinkan Rena untuk pulang lagi ke rumahnya sana. Dito tak akan membiarkan Rena di perintah lagi oleh ibu tirinya.
Bahkan setelah ini Dito berniat mengantar Rena pulang ke rumahnya, tapi bukan untuk tinggal di sana lagi, melainkan untuk menggambil barang barang yang Rena perlukan saja.
Sampai di tempat janjian, Dito langsung menggandeng tangan Rena masuk ke dalam sebuah gedung tua yang sudah tidak di pakai lagi.
Mereka masuk ke dalam dan menemui beberapa orang yang sudah menunggu mereka di sana.
"Selamat siang bos." sapa mereka.
"Hmm." balas Dito dingin.
"Gimana?" tanya Dito to the poin.
"Ini handphone yang berhasil kita dapatkan bos." balas salah satu dari mereka dan memberikan handphone itu pada Dito.
Dito pun mengambilnya dan langsung memberikannya pada Rena.
"Coba kamu cek bener apa bukan ini handphonenya." suruh Dito.
Rena pun langsung membukanya dan memang benar itu handphone milik ibu Tika.
"Gimana?" tanya Dito.
__ADS_1
"Iya ini benar memang milik ibu." jawab Rena.
"Ya udah kamu langsung salin nomor kakak kamu aja biar habis ini mereka langsung bisa balikan pada ibu kamu." suruh Dito lagi.
Rena pun langsung melakukan perintah Dito. Dia mencari kontak nama kakaknya dan langsung menyalinnya ke nomor telfonnya.
"Udah nih." Rena mengembalikan handphone ibu Tika pada Dito.
"Ini kalian balikin lagi di depan rumah yang alamatnya akan saya share ke nomor kalian. Dan untuk bonus buat kalian akan langsung saya transfer sekarang karena kerja kalian yang bagus." ucap Dito pada orang orang itu.
"Siap bos. Terimakasih sudah percaya pada kami, lain kali kalau bos memerlukan bantuan bisa hubungi kita lagi." balas salah satu dari mereka yang sepertinya ketua kelompok tersebut.
"Hmm."
"Saya pergi dulu, jangan lupa kembalikan handphone tersebut." lanjut Dito pamit pergi dari sana.
"Siap bos, hati hati di jalan." balas mereka.
Dito pun langsung membawa Rena pergi dari sana.
...**...
Sedangkan Diandra sekarang dia sudah mendapatkan handphone baru. Dia juga sudah membeli SIM card yang baru, karena SIM card yang lama sudah hampir tersebar nomornya.
"Enaknya nih nomor di buang di mana ya biar tidak di salah gunakan sama orang orang." gumam Diandra sambil berfikir.
"Ahh lebih baik gw hancurin aja biar lebih aman." lanjutnya.
Diandra pun langsung pergi membeli cutter dan setelah mendapatkannya dia langsung memotong SIM card lama miliknya menjadi beberapa bagian. Baru setelah itu dia membuangnya di tempat sampah.
"Sekarang tinggal cari makan siang deh, udah laper banget nih perut gw." ucap Diandra.
Diandra pergi mencari penjual makanan yang ada di pinggir jalan. Kali ini dia mau makan sate kelinci di tambah nasi putih yang pulen.
...**...
"Siapa di antara kalian yang gelapin uang perusahaan?" tanya Richard menatap beberapa orang yang ada di depannya dengan tajam.
Oh iya ini kalau Richard berada di Amerika dia menggunakan bahasa Inggris ya. Maaf author gak pandai bahasa Inggris jadi author tetap pakai bahasa jawa aja.
__ADS_1
Mereka semua diam tak ada yang berani menjawab pertanyaan Richard.
"Kenapa kalian diam saja. Kalian yang ngaku sendiri atau saya yang bakal tunjuk sendiri." lanjut Richard.
"Sa-saya tidak tahu tuan." jawab salah satu dari mereka.
"Kenapa kalian tidak tahu, sedangkan kalian setiap hari ada di sini."
"Baru juga saya tinggal gak ada satu bulan ini perusahaan sudah kacau seperti ini. Mau jadi apa perusahaan ini kalau tetap ada orang seperti kalian yang tinggal di dalamnya." ucap Richard marah.
"Saya yakin pasti kalian tahu siapa dalang dari semua ini, kalau kalian gak ada yang berani buka mulut satu orang pun, maka saya anggap kalian semua terlibat di sini. Dan kalian tahu kan apa konsekuensinya kalau berani main main sama saya?" lanjut Richard sambil tersenyum mengerikan.
"F-frank tuan yang menyuruh kita." akhirnya salah satu dari mereka ada yang buka mulut sendiri.
"Kamu jangan main tuduh saya sembarangan ya, saya tidak pernah memerintah kalian untuk menggelapkan uang perusahaan." bantah frank tidak terima.
"Kamu jangan berkilah, kamu memang yang sudah suruh kita untuk gelapin uang perusahaan." timpal yang lainnya.
"Benar, kamu yang dulu suruh saya buat memalsukan laporan keuangan perusahaan." timpal yang lainnya lagi.
Di dalam ruang meeting itu terdapat enam orang dan di tambah dua Richard dan Ethan. Ethan sedari tadi diam saja karena dia sudah tahu siapa sebenarnya pelaku dari pengelapan uang perusahaan saat ini.
"Kenapa kalian menyudut saya, sedangkan saya juga sama seperti kalian di suruh oleh seseorang yang tidak ada di sini." balas Frank keceplosan.
"Oooh... jadi ada kaki tangan di sini, baiklah silahkan kalian jawab siapa yang menyuruh kalian melakukan ini semua." ucap Richard dengan pandangan yang sangat sulit untuk di artikan.
"Ti-tidak ada tuan, yang menyuruh kita memang Frank." kekeh yang satunya lagi.
"Enak aja, tidak tuan kita di sini di suruh oleh tuan Andrew Alatas. Pemilik perusahaan A two company." jawab Frank jujur.
"Kenapa kamu bocorkan ini semua, nanti bagaimana kalau tuan Andrew marah sama kita." sahut satu orang lagi yang tanpa dia sadari dia sudah membenarkan apa yang Frank katakan.
"Hahahaha... dasar bodoh, ternyata tidak sulit mengintrogasi kalian. Sebenarnya sih saya sudah tahu siapa dalang dari semua ini, tapi karena saya mau tahu kejujuran kalian makanya saya tanya. Ehh taunya kalian malah tidak ada yang jujur."
"Ethan kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan." lanjut Richard menatap Ethan dengan penuh makna.
"Baik tuan." balas Ethan.
"Kalian silahkan pergi dari sini dan ini uang pesangon buat kalian." usir Ethan pada enam orang yang ada di sana.
__ADS_1
"Baik, siapa juga yang masih mau bekerja di perusahaan kecil seperti ini. Habis ini kita mau gabung di A two company karena di sana kita akan mendapatkan jabatan yang lebih tinggi dari pada di perusahaan ini." balas salah satu dari mereka menghina perusahaan Richard.
...***...