Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTP#23


__ADS_3

"Hah!!"


Ingin rasanya Diandra menyelam di palung marina, mau di taruh di mana mukanya. Bagaimana mungkin dia lupa mengganti sendal rumahnya yang berbentuk kepala kelinci dengan sepatu.


"Aku ke dalam dulu." Diandra langsung berlari masuk ke dalam kontrakannya kembali untuk menganti sendalnya dengan sepatu.


Richard yang melihat itu pun gemas sendiri, ingin rasanya Richard memasukkan Diandra ke dalam karung dan membawanya pulang.


"Bikin gemes aja." gumam Richard sambil menggelengkan kepalanya.


Sementara itu Diandra di dalam kamarnya tengah memaki dirinya sendiri akibat kecerobohannya.


"Diandra lo tolol banget sih, bagaimana mungkin lo lupa ganti sepatu tadi." maki Diandra sambil memakai sepatu sneaker putih miliknya yang baru di belikan Richard kemaren.


Setelah selesai Diandra mengamati penampilannya kembali untuk mengecek ada yang kurang lagi atau tidak. Jangan sampai kejadian seperti tadi terulang lagi.


"Ok tenang Diandra, semuanya akan berjalan dengan lancar kalau lo tenang." monolog Diandra.


Setelah di rasa cukup, Diandra pun keluar dari kontrakannya dan menghampiri Richard yang tengah bersandar di badan mobilnya.


"Sorry lama." ucap Diandra merasa tidak enak.


"Enggak kok, yuk masuk." balas Richard membukakan pintu mobil untuk Diandra.


Diandra merasa bagaikan ratu, dia masuk dan tangan Richard tak lupa memegang ujung kepala Diandra agar tidak kejeduk pintu mobil.


Pipi Diandra semakin memerah melihat perlakuan Richard kepadanya. Setelah menutup pintu, Richard berputar dan masuk kedalam mobil juga.


"Kita mau kemana?" tanya Diandra saat mobil sudah berjalan.


"Ada deh, nanti kamu juga akan tahu." balas Richard menatap Diandra sebentar dan kembali fokus menatap ke depan.


Diandra mengamati penampilan Richard kali ini yang memakai pakaian santai tidak seperti sebelumnya yang memakai pakaian formal.


Di mata Diandra Richard kelihatan dua kali lebih tampan dari biasanya. Ingin rasanya Diandra mengigit hidung mancung Richard, tapi sepertinya itu tidak mungkin. Bisa rusak nanti citra dia di depan Richard.


"Saya tahu kalau saya tampan." ucap Richard tanpa menatap Diandra.


Diandra pun gelagapan karena sudah kepergok memandangi Richard.


"Gak usah malu gitu, kalau mau pegang pegang aja gapapa kok." Lanjut Richard yang malah semakin membuat pipi Diandra bersemu merah.

__ADS_1


"Gemes banget sih pipi kamu, jadi pengen aku makan." tangan sebelah kiri Richard mencubit pipi Diandra.


"Auw...." ringis Diandra karena Richard terlalu keras mencubit pipinya.


"Sakit ya, maaf ya. Habisnya kamu bikin gemes banget sih." ucap Richard merasa bersalah.


Diandra tak menanggapinya, dia sibuk mengelus pipinya yang semakin memerah akibat cubitan Richard.


Richard menepikan mobilnya dan melepaskan sealbet yang melingkar di tubuhnya.


"Maaf ya." ucap Richard yang merasa bersalah sambil tangannya mengelus pipi Diandra.


Diandra menatap wajah Richard dan begitu juga sebaliknya. Pandangan mereka bertemu dan terkunci untuk beberapa saat. Fokus Richard kali ini bukan pada mata Diandra, tapi pada bibir sexy Diandra yang berwarna pink.


Richard memajukan badannya dan begitu juga sebaliknya, dan....


Cup.


Benda lembut dan hangat mendarat di bibir Diandra.


Diam, Richard tak mengerakkan bibirnya sampai Diandra yang memulainya terlebih dahulu dengan menggigit bibir atas Richard. Richard yang merasa mendapatkan lampu hijau pun dengan semangat 45 menjelajahi mulut Diandra.


Merasa pasokan nafas Diandra menipis, Richard pun melepaskan ciuman mereka.


Cup.


Richard mengecup bibir Diandra lagi sebagai penutup sebelum melanjutkan perjalanan lagi.


"Manis." ucap Richard yang membuat pipi Diandra bersemu merah kembali.


Richard pun menjalankan mobilnya kembali menuju sebuah tempat yang sudah dia siapkan untuk dinner bersama Diandra. Bukan dinner sih, lebih ke makan siang karena ini masih siang.


...**...


Sementara itu, Dito yang sedari tadi menunggu jadwal kosong dokter Fia pun menggerutu kesal. Sebab dia sudah menunggu mulai pagi, tapi tak ada juga waktu senggang untuk dia berbicara secara langsung dengan dokter Fia.


"Tau gini mending tadi aku kerja aja." kesal Dito yang saat ini tengah tiduran di bangkar rumah sakit yang berada di dalam ruangan dokter Fia.


Mau pulang pun waktunya sudah tanggung, karena mungkin sebentar lagi dokter Fia akan selesai memeriksa pasien nya.


"Kamu masih di sini?" tak percaya dokter Fia saat memasuki ruangannya dan mendapati adik iparnya yang masih tiduran di sana.

__ADS_1


"Hmm." balas Dito malas.


Dokter Fia pun pergi membersihkan dirinya yang sudah lengket dengan keringat, baru nanti dia akan menemui adik iparnya itu.


"Ada apa?" tanya dokter Fia setelah menyelesaikan urusannya.


"Masih tanya lagi, kan tadi Dito udah kasih tahu kakak." jawab Dito kesal.


"Gak usah ngegas gitu dong, santai." balas dokter Fia.


"Kakak yang bikin Dito kesal. Kakak tahu gak Dito sudah dari pagi di sini nungguin kakak." balas Dito mengeluarkan unek-uneknya.


"Iya kakak tahu." balas dokter Fia santai.


"Tau ahh, kakak menyebalkan." kesal Dito.


"Ya udah kakak minta maaf, terus sekarang kamu mau apa, masih dengan pertanyaan tadi pagi?" tanya dokter Fia mengalah, bisa memakan banyak waktu nanti kalau harus meladeni adik iparnya ini.


"Iya lah, kan tadi Dito sudah bilang." balas Dito ngegas.


"Oke oke, kakak akan menjelaskan sama kamu tentang penyakit gagal ginjal. Tapi mungkin gak semuanya bisa kakak jelaskan sekarang. Mungkin lain kali kalau ada waktu lagi, soalnya kakak habis ini ada pasien lagi."


"Iya gapapa, yang penting Dito tahu tentang penyakitnya. Paling tidak Dito tahu cara penyembuhannya dulu."


"Kalau untuk penyembuhannya beda beda, di lihat dulu udah sejauh mana penyakit itu menyerang. Apakah sudah terlalu parah, atau masih baru." jelas dokter Fia.


"Kalau untuk sementara ini yang paling harus di lakukan adalah cuci darah dengan rutin, kalau nanti sudah parah kita harus mencari donor ginjal yang cocok." tambahnya lagi.


Dito diam mendengarkan penjelasan dokter Fia dengan teliti mulai awal sampai akhir. Agar nanti dia bisa membantu Rena.


"Emang kenapa sih, siapa teman kamu yang sakit?" tanya dokter Fia penasaran setelah menjelaskan panjang lebar.


"Ada deh, kakak suka kepo." jawab Dito.


"Ya udah kak, makasih waktunya. Nanti kapan kapan Dito bakalan datang lagi ke sini." pamit Dito setelah mendapatkan apa yang dia cari.


"Eehh tunggu dulu, kamu jangan lupa transfer uang buat pengobatan pasien kakak ya. Awas kalau lupa." ucap dokter Fia mengingatkan Dito.


"Siap kakak iparku sayang, nanti tinggal bilang saja berapa nominalnya." balas Dito dan segera keluar dari sana.


"Untung saja ada kamu yang mau menanggung biaya pengobatan Rena Dit, pasti nanti dia akan sangat berterimakasih sama kamu." gumam dokter Fia.

__ADS_1


Dokter Fia pun pergi bersiap untuk memeriksa pasiennya lagi, sebelum nanti dia akan pulang.


...***...


__ADS_2