
"Nona." kaget Ethan yang melihat keberadaan Diandra di sana.
Diandra mendongakkan kepalanya menatap wajah Ethan dengan raut yang tak bisa di jelaskan.
"Siapa Ethan?" tanya Richard berjalan menghampiri Ethan yang masih setia berdiri di tengah pintu ruangannya.
"Siapa sih?" tanya Richard dan matanya langsung membola saat melihat siapa orang yang berada di sana.
"Sa-sayang." gagap Richard.
Ethan menyingkir dari sana, dia tidak mau ikut ikutan masak yang akan tuannya hadapi saat ini. Lebih baik dia segera membuatkan jadwal konferensi pers tuannya saja.
"Saya permisi dulu tuan." pamit Ethan dan langsung pergi menuju ruangannya.
Diandra menatap Richard dengan tajam, dia langsung melemparkan dompet yang ada di tangannya sehingga mengenai wajah tampan Richard.
Bug.
"Sayang." pangil Richard dan mengejar Diandra yang sudah berlari pergi meninggalkannya.
"Sayang aku bisa jelasin." teriak Richard agar Diandra berhenti.
Bukan Diandra namanya kalau dia memaafkan Richard begitu saja. Dia berlari dengan cepat menuju lift dan segera membukanya.
Diandra masuk ke dalam lift dan langsung memencet tombol agar pintu lift segera tertutup.
Richard yang melihat pintu lift akan tertutup pun berlari dengan cepat dan saat kurang dari sepuluh centi lagi pintu lift akan tertutup Richard langsung menyodorkan tangannya untuk menahan agar pintu lift itu tidak tertutup.
Diandra yang melihat itupun memejamkan matanya ngeri, takut takut kalau sampai tangan Richard terjepit pintu lift.
"Huh." lega Richard karena pintu lift itu kembali terbuka.
Diandra membuka matanya dan melihat Richard yang sudah berjalan masuk.
"Kamu mau kemana?" Richard menahan tangan Diandra yang akan berjalan keluar dari dalam lift.
"Lepasin, aku mau keluar." berontak Diandra.
"Mau keluar kemana hmm?" Richard membawa Diandra masuk lagi ke dalam lift dan langsung memencet tombol nomor lantai satu.
"Lepasin." berontak Diandra.
Richard pun langsung melepaskan tangan Diandra, toh kalaupun Diandra mau kabur juga tidak akan bisa.
"Sayang kamu dengerin penjelasan aku ya." mohon Richard.
__ADS_1
Diandra diam saja, dia seolah-olah menulikan pendengarannya.
"Aku ngakunya aku salah, tapi plis kamu dengerin aku dulu ya." mohon Richard.
"Apa yang perlu aku dengar hah, semuanya sudah aku dengar sendiri tadi." bentak Diandra.
"Kamu tega membunuh orang yang bahkan bukan salah orang itu sendiri. Aku juga ada peran dalam hubungan waktu itu. Aki juga deketin dia."lanjut Diandra.
Richard diam saja tak membalas ucapan Diandra. Dia tidak mungkin menjelaskan semuanya di dalam lift karena dia tahu di sana pasti ada cctv yang mengintai.
"Kenapa kamu diam saja, apakah kamu merasa bersalah sekarang?" tanya Diandra dengan emosi yang sudah berada di ubun ubunnya.
"Nanti akan aku balas semua ucapan kamu tapi tidak di sini karena ada cctv yang mengintai kita." balas Richard yang membuat Diandra diam dan melihat ke setiap sudut lift dan menemukan ada satu cctv di sana.
Sampai di lantai dasar Richard langsung menarik tangan Diandra keluar dari dalam lift dan langsung berjalan menuju pintu utama masukkan kantor Richard.
"Di sana banyak wartawan, kita lewat belakang saja." cegah Diandra.
"Udah kamu diam saja, aku akan berbicara pada mereka semua dan langsung mengumumkan hubungan kita." balas Richard.
"Aku tidak...."
"Aku tidak menerima bantahan, ini semua demi hubungan kita." potong Richard.
Di setiap penjuru perusahaan Richard ada banyak di antara karyawan karyawan Richard yang bergosip ria. Yang pasti tema gosip mereka saat ini adalah hubungan Richard dan Diandra.
"Gak usah kamu dengarkan mereka." ucap Richard membuat Diandra menatap Richard yang tengah menatap lurus ke depan.
"Buka pintunya." perintah Richard pada dua satpam yang berjaga di pintu.
"Baik tuan." balas mereka patuh.
Mereka pun langsung membuka pintu keluar yang sedari tadi mereka kunci demi kenyamanan para pekerja.
"Itu tuan Richard ayo kita ke sana."
"Benarkah itu wanita yang ada di postingan Instagram tuan Richard?"
"Wah tuan Richard bersama kekasihnya."
Dan itulah beberapa ucapan para wartawan yang berbondong-bondong menghampiri mereka berdua.
"Tuan bisakah anda menjelaskan tentang apa yang ada di postingan anda?"
"Siapakah wanita yang ada di samping anda?"
__ADS_1
"Apakah wanita yang ada di samping tuan itu kekasih tuan?" tanya banyak wartawan kepada Richard.
Diandra yang baru mengalami hal seperti ini pun takut. Dia menggenggam erat tangan Richard. Richard yang menyadari kalau Diandra takut pun memeluk Diandra dan menenggelamkan kepala Diandra di dada bidangnya.
"Maaf bisakah beri kami jalan, nanti saya akan mengadakan konferensi pers tunggu saja pengumumannya." ucap Richard meminta agar para wartawan itu memberikan jalan untuk Richard.
"Jawab pertanyaan kami tuan, apakah dia kekasih anda?" kekeh para wartawan.
"Kalian akan tahu jawabannya nanti, jadi bisakah kalian minggir wanita saya tidak nyaman dengan keberadaan kalian." balas Richard.
Mendengar Richard menyebut Diandra sebagai wanitanya pun membuat para wartawan heboh.
Anak buah Richard yang baru datang pun langsung memecah kerumunan dan memberikan jalan untuk tuannya masuk ke dalam mobil yang sudah siap di sana.
"Tuan tuan bisa berbicara sebentar."
"Bisa tuan jelaskan apa maksud wanita yang tuan maksud barusan?"
"Apakah wanita ini hanya wanita bayaran?"
Banyak pertanyaan dari wartawan yang tak Richard hiraukan. Richard masuk ke dalam mobil bersama Diandra dan langsung menyuruh pak sopir untuk melajukan mobilnya meninggalkan perusahaannya.
Para wartawan pun langsung di bubarkan oleh anak buah Richard. Mereka pergi dengan senang karena sudah mendapatkan sedikit berita yang nantinya akan membuat majalah ataupun stasiun televisi mereka menjadi trending topik utama.
Mereka juga akan menyiapkan berbagai perlengkapan dan pertanyaan di konferensi pers yang akan Richard adakan nanti.
...**...
Richard yang berada di dalam mobil pun saat ini berusaha menenangkan Diandra yang masih ketakutan.
"Sayang sudah ya, kan ada aku." ucap Richard mengelus punggung Diandra.
"Kenapa mereka bilang kalau aku wanita bayaran?" ucap Diandra yang akhirnya membuat Richard tahu kalau sebenarnya Diandra itu sudah tidak ketakutan dengan wartawan tadi, cuma dia sekarang tengah kepikiran dengan apa yang para wartawan tadi ucapkan.
"Ssttt... udah ya gak usah dengerin mereka. Mereka tidak tahu apa apa tentang kamu." balas Richard agar Diandra tenang.
"Apakah mereka tidak memikirkan perasaanku?" tanya Diandra lagi.
"Mereka tidak akan memikirkan perasaan kita sayang, karena yang mereka pikirkan hanya uang."
"Makanya kamu izinin aku kan nanti buat adain konferensi pers?" tanya Richard.
Diandra pun mengangguk, toh percuma juga kalau dia melarang Richard nanti bisa bisa masalah bisa semakin panjang. Dan yang ada dirinya lah yang akan menjadi bulanan para netizen yang maha benar.
...***...
__ADS_1