
"Lo ngapain di sini?" tanya Andrew yang mendapati ada Richard di depan pintu masuk apartemen miliknya.
"Ya menurut lo." balas Richard.
Andrew membuka pintu apartemen miliknya dan dia pun masuk ke dalam di ikuti yang lainnya.
"Diandra sama Rena nanti kamarnya jadi satu gak papa kan?" tanya Andrew pada Diandra dan Rena.
"Iya kak gak papa kok." balas Rena.
"Gak, Diandra tinggal sama aku." sahut Richard.
"Emang Diandra mau sama Lo." balas Andrew mengejek.
"Sayang kamu mau kan, kamu gak mungkinkan tinggalin aku sendiri." rayu Richard tak patah semangat meskipun sedari tadi Diandra tidak mendengarkannya.
Diandra diam saja tak membalas ucapan Richard.
"Tuh dia diam saja, itu tandanya dia nolak." balas Andrew mewakili Diandra.
"Sayang kamu kok diam aja sih, ngomong dong." ucap Richard lagi tak menghiraukan Andrew.
"Dasar keras kepala."
"Kamar kalian di sana ya, dan yang di samping itu kamar aku dan yang ujung sendiri itu kamar Elina, kalau yang sebelah kamar aku itu ruang kerja aku." lanjut Andrew menjelaskan tata letak ruangan di dalam apartemennya.
"Iya tuan terimakasih karena sudah mengizinkan saya tinggal di sini." balas Diandra yang sedari tadi diam saja.
"Gak usah formal gitu kalau ngomong sama aku, bukankah kita semua di sini saudara." balas Andrew yang tak suka Diandra memanggil dirinya dengan embel-embel tuan.
"Baik tuan, ehh maksud aku Andrew." balas Diandra.
"Sayang ayo loh kita pulang, plis aku minta maaf sama kamu, kamu jangan tinggalin aku, aku gak bisa hidup tanpa kamu." rengek Richard yang memang tak bisa kalau terus terusan di diamkan seperti ini oleh Diandra.
"Kalian kalau mau ribut sana di luar, Rena harus istirahat nanti bisa keganggu oleh kalian." usir Andrew karena dia ikutan pusing saat menatap kedua orang dewasa yang sedang marahan.
"Ayo Rena kamu istirahat di kamar biar cepat sembuh." suruh Andrew.
"Baik kak." balas Rena dan pergi dari sana di ikuti Diandra.
__ADS_1
"Sayang." Richard mencekal tangan Diandra agar tidak meninggalkannya.
"Apa sih lepasin." Diandra menghembuskan tangan Richard dari tangannya dan langsung pergi meninggalkan Richard menyusul Rena.
"AGGRR...." teriak Richard frustasi dan langsung keluar dari apartemen Andrew.
Ethan yang sedari tadi ada di belakang mereka semua bersama Elina pun langsung pergi menyusul tuannya.
Sedangkan Elina pergi menuju kamarnya.
Richard langsung pergi menuju mobilnya dan langsung mengendarainya meninggalkan gedung apartemen Andrew.
"Tuan tuan jangan tinggalkan saya." teriak Ethan memanggil Richard yang sudah melajukan mobilnya dengan kencang.
"Tuan Richard keterlaluan, masak orang ganteng gini di tinggal." kesal Ethan, Ethan pun langsung menghubungi anak buahnya untuk datang menjemput dia di sana.
Sedangkan Richard yang membawa mobil dia mengendarainya dengan kecepatan yang tinggi, menyalip satu persatu kendaraan yang ada di depannya.
Banyak orang yang menyumpah serapahinya Richard tapi Richard tidak memperdulikannya, dia sudah terlanjur sakit dan marah juga kecewa karena Diandra telah mendiaminya beberapa hari ini.
"AAGRR...." erang Richard sambil memukul setir mobil dengan keras.
"Diandra... hiks hiks hiks."
Seorang Richard, pengusaha yang dingin dan tak tersentuh menangis hanya karena cewek, wow ini momen yang sangat langka.
Mungkin jika ada wartawan yang melihat dan memotret Richard itu akan menjadi berita yang sangat besar, tapi sayang tidak ada yang mengetahuinya.
Richard terus melajukan mobilnya tak tentu arah, dia tidak tahu harus pergi ke mana. Ke apartemen nanti dia malah akan mengingat Diandra.
Mau ke markas nanti anak buahnya bisa tahu kalau dia menangis, mau ke kantor nanti karyawan tukang gosip langsung menggosipkannya.
Lalu dia harus kemana sekarang, Richard bingung harus kemana, Richard tidak tahu kemana arah tujuannya saat ini.
"Apa aku ke kontrakan Diandra aja ya." entah mengapa ide itu terlintas dalam benaknya.
"Iya aku harus ke sana." lanjut Richard dan langsung melajukan mobilnya menuju kontrakan milik Diandra yang sudah beberapa hari ini tidak Diandra tempati.
Mungkin di sana nanti Richard bisa tenang karena merasa ada Diandra di sisinya, atau mungkin juga nanti Richard bisa tidur di sana.
__ADS_1
"Lah lah lah, ini mobil kenapa." bingung Richard saat merasakan mobilnya oleng.
Richard pun menepikan mobilnya dan keluar untuk melihat apa yang terjadi pada mobilnya.
"S*al banget sih gw, mana waktunya gak tepat lagi." kesal Richard saat melihat ternyata ban mobilnya yang kempes.
Richard pun langsung menelpon bengkel untuk datang ke tempatnya, dan setelah itu dia pergi mencari taksi untuk menuju kontrakan Diandra.
Tak lupa Richard juga mengenakan masker dan juga kaca mata hitam agar tidak ada yang mengenalinya.
"Mau kemana pak?" tanya sopir taksi yang Richard naiki.
Richard tidak menjawab tapi dia memberikan handphonenya kepada sopir taksi itu, sopir taksi itu pun bingung tapi dia juga tetap menerima handphone pemberian Richard.
Sopir taksi itu melihat di layar handphone Richard tertulis sebuah alamat, mungkin itu alamat yang orang ini tuju. pikir sopir taksi itu.
Sopir taksi itu pun mengembalikan handphone Richard dan segera melajukan mobilnya menuju alamat yang tertera di sana tadi.
Richard tidak berbicara karena takut nanti sopir taksi itu akan menyadari kalau dia adalah Richard. Jadi Richard menuliskan alamat kontrakan Diandra di handphonenya.
Sampai di depan kontrakan Diandra Richard langsung menyodorkan uang seratus ribuan dan dia segera keluar dari sana.
"Loh pak kembaliannya." ucap sopir taksi itu memanggil Richard tapi Richard hanya melambaikan tangannya saja.
"Ooh pasti kembaliannya buat aku." ucap sopir taksi itu, dan setelah itu dia pun pergi meninggalkan halaman kontrakan Diandra.
Richard masuk ke dalam kontrakan Diandra dan kembali menguncinya dari dalam, Richard punya kunci cadangan kontrakan Diandra karena dulu dia sempat memintanya kepada pemilik kontrakan.
"Sayang, aku kangen sama kamu." gumam Richard yang melihat foto Diandra di dinding kamarnya.
"Vina saja kamu ada di sini, mungkin sekarang sudah aku peluk kamu dengan erat." lanjut Richard.
Richard pergi menuju dapur dan mencari sesuatu di dalam lemari es, dia menemukan ada beberapa minuman bersoda di sana.
"Wah kebetulan sekali nih, pasti sayangku lupa deh kalau ada minuman di sini, dia kan gak pernah pulang ke sini." monolog Richard sambil mengambil minuman itu.
Richard mengambil lima sekaligus karena dia membutuhkan itu untuk menjernihkan pikirannya yang sedang kalut.
Richard membawa minuman itu ke kamar Diandra, dia akan minum di sana agar nanti tidak ada yang tahu.
__ADS_1
...***...