Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTP#69


__ADS_3

Diandra yang berada di apartemen Richard pun pikirannya tidak tenang. Entah kenapa perasaannya sedari bangun tadi tidak enak.


"Perasaanku kenapa gak enak gini ya." gumam Diandra.


"Apa aku coba telfon Richard aja ya." lanjutnya.


Diandra pun mencari keberadaan handphonenya, dan setelah menemukannya dia langsung menghubungi nomor Richard.


Panggilan pertama hanya berdering saja tidak ada yang menggangkat, dan panggilan yang kedua barulah di angkat.


'Halo sayang.' sapa Richard.


'Halo kamu ada di mana?' balas Diandra.


'Ini aku ada di kantor, emang kenapa sayang?' bohong Richard, padahal dia sebenarnya ada di rumah sakit.


'Ooh, enggak aku cuma takut aja kalau kamu kenapa kenapa, soalnya entah kenapa perasaanku tiba tiba gak enak.' jawab Diandra.


'Mungkin itu hanya perasaan kamu aja kali yang, nanti aku pulangnya malam ya soalnya kerjaan ku banyak banget.'


'Iya, kamu hati hati ya kerjanya, nanti kalau udah selesai langsung pulang.'


'Iya sayang.'


'Aku tutup dulu ya, soalnya ini aku mau meeting.' lanjut Richard.


'Iya, semangat kerjanya sayang.' balas Diandra.


'Makasih sayang.' balas Richard.


Sambungan telepon pun terputus.


"Syukurlah kalau ternyata Richard tidak apa apa, tapi kenapa perasaanku gak enak gini ya." gumam Diandra karena perasaannya masih tetap sama seperti tadi sebelum telfon Richard.


"Apa aku pergi ke rumah sakit aja ya." lanjutnya.


"Iya deh, dari kemaren juga aku belum lihat keadaan Rena."


Diandra pun langsung bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Setelah selesai dia langsung pergi menaiki mobil yang sudah Richard siapkan untuk dirinya.


...**...


Sementara itu di posisi Richard dia bernafas lega karena Diandra mempercayai dirinya.


"Semoga saja Diandra gak kesini." batin Richard.


"Bang, di tungguin kak Andrew tuh di dalam." ucap Dito memanggil Richard yang berada di luar ruangan Rena.

__ADS_1


"Ooh iya ayo masuk." balas Richard dan berjalan memasuki ruangan Rena di ikuti Dito di belakangnya.


"Kenapa?" tanya Richard setelah sampai didalam ruangan Rena.


"Apakah hasilnya sudah keluar?" tanya Andrew.


"Seharusnya sih sudah, benar aku tanyain dulu." Richard pun segera menghubungi dokter yang memeriksa kecocokan ginjal Rena dan Andrew.


"Gimana?" tanya Andrew tidak sabaran.


"Iya hasilnya sudah keluar, ayo kita langsung ke sana saja." jawab Richard.


"Dit kita pergi dulu tolong jaga Rena ya." ucap Richard pada Dito.


"Iya bang." balas Dito.


Mereka berdua pun pergi meninggalkan ruangan Rena menuju ke ruangan dokter yang tadi di hubungi Richard.


"Gimana dok?" tanya Richard.


"Alhamdulillah tuan, hasilnya 50% cocok. Jadi kita bisa segera melaksanakan operasi transplantasi ginjal." jawab dokter itu.


"Kalau gitu kapan operasinya akan di lakukan dok?" tanya Andrew.


"Mungkin 2 jam lagi bisa langsung kita lakukan tuan. Mulai sekarang anda bisa menyiapkan diri anda." jawab dokter itu.


"Iya masuk." balas dokter itu menyuruh orang yang mengetuk pintu ruangannya untuk masuk.


"Permisi dok, pasien VVIP kita keadaannya drop lagi tuan." laporan suster dengan nafas yang tersengal-sengal seperti habis berlari.


"Ayo cepat kita ke sana." dokter itu berdiri dan hendak pergi menuju pasien yang keadaannya memburuk.


"Maaf dok pasien VVIP yang suster itu maksud bukan adik saya kan?" tanya Richard memastikan, Richard sangat berharap kalau itu bukan Rena.


"Maaf tuan tapi itu memang adik anda, karena kami hanya mempunyai pasien VVIP satu orang sajak sekarang." jawab dokter itu dan langsung berlari meninggalkan mereka berdua.


"Astaga Rena." ucap Richard dan Richard langsung berlari menuju ruangan Rena di ikuti Andrew.


"Dito bagaimana keadaan Rena?" tanya Richard setelah sampai di depan ruangan Rena dan mendapati keadaan Dito yang hancur.


"Aku gak tahu kak, yang pasti tadi detak jantung Rena melemah." jawab Dito dengan sir mata yang sudah menetes dari matanya.


"Aagrr...." erang Richard meninju dinding yang ada di sampingnya.


"Tenang kak, kita harus berdoa semoga Rena bisa selamat." ucap Dito menenangkan Richard, padahal dia sendiri juga tengah tidak baik baik saja.


Sedangkan Andrew dia hanya diam saja menatap mereka berdua. Dia sedari ketemu Dito tidak pernah berbicara kepada Dito ataupun mengajaknya untuk berkenalan.

__ADS_1


"Loh kalian kenapa ada di luar?" tanya seseorang membuat ketiganya menatap ke arah asal suara tersebut.


"Kak Dian/sayang." ucap Dito dan Richard barengan.


Andrew hanya diam saja, dia mengamati semua yang ada di sekitar Rena karena dia baru di sana, jadi dia harus mengenal orang itu lebih jelas lagi.


"Loh kamu bukannya ada meeting ya, trus kamu juga kenapa nangis Dit?" tanya Diandra.


"Permisi tuan, kami harus segera melakukan tindakan operasi karena keadaan pasien semakin memburuk." ucap dokter yang baru saja menghampiri mereka.


"Baik dok lakukan yang terbaik buat adik saya." balas Andrew.


"Baik tuan, mari ikut saya." balas dokter itu mengajak Andrew pergi dari sana.


"Saya pergi dulu, jangan lupa berdoa supaya Rena tetap bertahan." ucap Andrew sebelum pergi dari sana.


Andrew pun pergi mengikuti langkah kaki dokter itu. Sedangkan di tempat Richard, Diandra masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Richard jawab aku, ini semua kenapa?" tanya Diandra yang mulai curiga.


"Sayang." Richard membawa Diandra masuk ke dalam pelukannya.


"Keadaan Rena drop dari pagi dan itu yang membuat aku pergi meninggalkan kamu tadi." jelas Richard sambil memeluk Diandra dengan erat.


Diandra berusaha melepaskan pelukan Richard, tapi tidak bisa. Richard semakin mengencangkan pelukannya.


"Maaf aku sudah bohong sama kamu, aku takut kalau kamu tahu nanti kamu syok." lanjut Richard.


Bug bug bug.


"Kenapa, kenapa kamu gak bilang sama aku. Aku sedari pagi kepikiran sama kalian. Dan kalian semua diam tak ada yang memberi tahu aku." marah Diandra menangis sambil memukuli dada bidang Richard.


"Maaf sayang," ucap Richard.


"Terus sekarang gimana keadaan Rena hiks?" tanya Diandra.


"Rena harus segera melakukan operasi, dan sekarang operasi itu akan di laksanakan." jawab Richard.


"Lalu pendonornya siapa?" tanya Diandra penasaran.


"Andrew, dia adalah kakak kandung Rena." jawab Richard.


Diandra tak lagi banyak bertanya, dia terlalu kelu untuk menanyakan semua yang ada di kepalanya. Mulai dari bagiamana Richard bisa tahu kalau Andrew adalah kakak kandung Rena, dan bagiamana bisa mereka saudara, bukankah Rena itu adik Richard.


Kepala Diandra sampai pusing memikirkan masalah yang ada. Kasian sekali nasib adiknya harus seperti ini. Diandra tidak menyangka kalau dia tinggal ke ibu kota mencari uang bukannya Rena cepat sembuh karena bisa berobat. Ehh malah keadaannya semakin memburuk gara gara dia di tipu oleh ibu tirinya.


Diandra janji, nanti setelah Rena sudah sembuh dia akan mencari keberadaan ibu tirinya itu dan membalaskan semua yang sudah dia lakukan kepada adiknya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2