
Tok tok tok.
"Masuk."
"Permisi tuan ada berita buruk." ucap Ethan yang baru saja memasuki ruangan Richard.
"Ada apa?" tanya Richard mengalihkan pandangannya dari kertas kertas yang ada di mejanya ke arah Ethan.
Ethan maju dan membisikkan sesuatu di telinga Richard.
"Siapkan pesawat, kita berangkat sekarang." ucap Richard berdiri dari tempat duduknya dan mengambil jas yang dia letakkan di kursi duduknya.
"Baik tuan." balas Ethan dan segera pergi menyiapkan segala sesuatu yang akan mereka perlukan nanti.
Richard pun mencoba menghubungi Diandra tapi tak ada jawaban sama sekali. Alhasil Richard hanya memberikan pesan saja biar nanti Diandra membukanya.
"Pesawat sudah siap tuan." ucap Ethan yang kembali menghampiri Richard.
Richard pun segera pergi di ikuti Ethan di belakangnya. Mereka berjalan dengan tergesah gesah seperti ada sesuatu yang sangat penting terjadi.
...**...
"Wahh... indah banget." kagum Diandra setelah mereka sampai di pantai.
"Gimana kamu suka gak?" tanya Radit.
"Suka banget."
Diandra merentangkan tangan sambil memejamkan matanya juga menikmati sejuknya udara pantai. Angin dari laut yang kencang membuat rambut Diandra yang tergerai pun berterbangan.
"Eehh...." kaget Diandra saat tiba tiba dia merasa ada yang memegangi rambutnya.
"Udah kamu lanjutkan aja biar rambut kamu aku pegangin." ucap Radit.
"Kamu sering ke pantai ya?" tanya Diandra pada Radit.
"Gak sering juga sih, tapi kalau aku lagi suntuk pasti datangnya ke sini." jawab Radit.
"Kalau kamu?" balik tanya Radit.
"Dulu waktu kecil sih sering banget, tapi setelah kepergian orang tua aku, aku udah gak pernah ke pantai lagi karena gak ada waktu untuk jalan jalan." jawab Diandra benar adanya.
Memang dulu saat Diandra masih SMP dia sering pergi ke pantai bersama keluarganya, bahkan hampir setiap bulan pasti Diandra di ajak jalan jalan ke pantai oleh kedua orang tuanya. Tapi setelah kepergian mereka Diandra harus fokus mencari uang, jadi dia sudah tidak ada waktu lagi untuk jalan jalan ke pantai.
"Emang orang tua kamu udah gak ada?" tanya Richard di balas anggukan oleh Diandra.
"Orang tua ku meninggal waktu aku baru lulus SMA, dan saat itu aku hanya tinggal bersama adik ku saja. Jadi aku harus mencari uang untuk biaya hidup kita berdua." jawab Diandra sedu.
"Terus sekarang kamu kerja di mana?" tanya Radit.
__ADS_1
Diandra diam sejenak, "Dulu sih aku kerja di sebuah pabrik tas, tapi baru beberapa hari kemarin aku di pecat. Jadi ya untuk saat ini aku belum ada pekerjaan. Mana aku harus selalu kirim uang ke kampung buat biaya hidup adik aku lagi." ucap Diandra, matanya menatap lurus ke depan, dimana ada ombak yang saling menggulung mendekati bibir pantai.
"Kamu yang sabar ya, aku yakin kalau kamu pasti mampu buat lalui ini semua. Dan soal perkejaan kamu gak usah kerja jugalah tidak apa apa, biar akun yang tanggung semua biaya kehidupan kalian berdua." ucap Radit serius.
"Ehh gak usah, aku ngomong gitu tadi bukan minta kamu untuk menanggung kehidupan aku sama adik aku kok. Aku masih mampu kok untuk cari uang, ya walaupun saat ini masih belum ada kerjaan sih. Tapi aku yakin pasti sebentar lagian aku akan dapat pekerjaan."
"Ya itu terserah kamu kalau mau bekerja aku tidak akan melarang kamu. Tapi soal aku mau biayain kehidupan kalian berdua itu aku serius."
"Tapi kita baru kenal, bahkan kita pacaran juga belum ada rasa satu sama lain."
"Tidak ada masalah, kalau pun nanti kita tidak berjodoh aku anggap kalau aku bersedekah pada kalian berdua."
"Pokoknya aku gak menerima penolakan, nanti kamu tinggal kasih tahu aku berapa nomor rekening kamu biar aku transfer nanti uangnya." lanjut Radit.
"Ya udah terserah kamu aja. Dan terimakasih sudah percaya sama aku." Diandra menghadap ke arah Radit.
"Sebenarnya aku tidak percaya sama kamu, tapi aku suka berada di dekat kamu. Kamu orangnya asik kalau di ajak ngobrol, kalau di ajak jalan juga tidak bikin kecewa orang yang mengajak jalan, jadi aku suka." balas Radit.
"Kita ke sana yuk." lanjut Radit sambil menunjuk sebuah ayunan.
"Yuk." balas Diandra.
Mereka pun menuju ke sana dengan tangan yang bertaut satu sama lain.
...**...
'Iya pokoknya saya mau kalian mendapatkan handphone orang itu.' ucap Dito pada seseorang orang yang berada di sebrang telefon.
'...'
'Saya tunggu kabar dari kalian, kalau sudah mendapatkan handphonenya nanti kabarin saya biar saya yang ke sana. Dan soal komisi buat kalian nanti akan saya transfer.'
'...'
'Hmm.'
Tut.
Dito berbalik dan melihat Rena yang tengah duduk di atas ranjang sambil melihatnya dengan pandangan yang sulit untuk di artikan.
"Apa?" tanya Dito menghampiri Rena.
"Kamu habis telfonan sama siapa?" tanya Rena.
"Kenapa, cemburu hmm?" goda Dito sambil mencubit kedua pipi Rena.
"Auw, sakit tauk." aduh Rena sambil mengelus pipinya yang sudah memerah.
"Hehehe maaf, habisnya kamu gemesin banget sih, jadi pengen makan." cengir Dito.
__ADS_1
"Makan ya di dapur." balas Rena polos.
"Ooh mau di makan di dapur, ayo." ajak Dito.
"Enggak ahh, aku masih kenyang." tolak Rena.
"Loh kan kamu yang di makan kenapa kamu yang kenyang."
Rena diam mencerna ucapan Dito.
"Kamu ngomong apa sih, bikin orang bingung aja."
"Aaa... gemesin banget sih pacar aku ini." Dito menarik Rena dalam dekapannya dan memeluknya dengan erat.
"Iihh lepasin aku susah nafas nih." berontak Rena.
"Gak mau, pokoknya aku mau makan kamu."
"Makan apaan sih, dari tadi makan mulu." heran Rena.
"Kamu ini polos apa pura pura polos sih sayang ku." semakin gemas Dito.
"Aaa... lepasin, aku susah nafasnya."
Dito pun melepaskan pelukannya karena kasian pada Rena yang kesulitan untuk bernafas.
"Kamu tahu?" ucap Dito menggantung yang membuat Rena bingung.
"Tahu apa?" tanya Rena.
"Cobalah tebak aku mau ngomong apa?" goda Dito.
"Tau ahh terserah kamu." kesal Rena.
"Uhuy marah nih, yakin gak penasaran hmm?"
"Ditoooo... kamu kok ngeselin sih jadinya, perasaan dulu enggak deh." kesal Rena.
"Ya gak papa dong, yang penting aku kayak gini cuma sama kamu aja." balas Dito.
"Cepetan deh kalau ngomong tuh yang jelas."
"Iya iya jangan cemberut gitu bibirnya, nanti aku makan." mencubit bibir Rena yang mengerucut.
"Ya makanya cepet."
"Iya iya, jadi sebentar lagi aku akan mendapatkan handphone ibu kamu, jadi otomatis nanti kita bisa mendapatkan nomor kakak kamu dan bisa langsung menghubungi kakak kamu." jelas Dito.
...***...
__ADS_1