
Sampai di ruangan Rena di sana ada Dito yang setia menjaga Rena. Dito sedari kemaren belum pulang sama sekali, apalagi semenjak tadi pagi keadaan Rena drop.
"Dit." pangil Richard membuat Dito yang tadi menggenggam tangan Rena dan menyenderkan kepalanya di tangan Rena pun menoleh ke arah Richard.
"Iya bang kenapa?" jawab Dito.
Pandangan mata Dito tertuju kepada orang yang ada di belakang Richard. Sekilas jika di perhatikan dengan sangat teliti wajah orang itu tidak terlalu jauh beda dengan Rena.
Mata mereka berdua dan hidungnya sama. Dito sangat yakin pasti orang itu ada hubungan dengan Rena.
"Kamu bisa ke sini sebentar gak, ada orang yang mau nemuin Rena." ucap Richard menyuruh Dito untuk bangkit dari tempat duduknya.
"Iya bang." balas Dito, Dito pun bangkit dan menghampiri Richard.
"Silahkan, tuan Andrew bisa langsung menemui Rena." suruh Richard pada Andrew.
"Bolehkah aku meminta waktu hanya berdua saja dengan dia?" tanya Andrew sekaligus meminta.
"Baik kami berdua akan menunggu di depan." jawab Richard mengizinkan Andrew, Richard yakin kalau Andrew tidak akan berbuat yang tidak tidak kepada Rena.
"Tapi bang...."
"Biarkan, mereka berdua butuh waktu hanya berdua saja." potong Richard saat Dito akan protes.
"Terimakasih." ucap Andrew yang sangat jarang sekali keluar dari mulutnya.
"Siapakah nama dia?" lanjut Andrew bertanya.
"Namanya Rena, untuk selebihnya lagi bisa saya jelaskan di lain waktu." jawab Richard.
Andrew pun mulai berjalan menghampiri bangkar Rena yang terdapat Rena yang masih setia memejamkan matanya. Sedangkan Richard langsung membawa Dito keluar dari ruangan Rena.
Burg.
"Hiks hiks hiks." Andrew memeluk tubuh Rena dan menangis di sana.
Kenapa tadi dia meminta waktu hanya berdua saja dengan Rena, itu semua karena Andrew malu kalau orang lain harus melihat dirinya menangis seperti ini.
"Maafkan kakak dek, maaf. Kakak jahat sama kalian, kakak jahat gak bisa bantu ibu waktu di siksa sama ayah." ucap Andrew dalam tangisnya.
__ADS_1
"Kakak akan memberikan satu ginjal kakak untuk kamu, tapi kamu harus janji sama kakak. Kami harus sehat seperti semula."
"Nanti saat kamu sudah sadar, kakak janji akan menebus semua kesalahan kakak. Kakak janji akan membuat kamu hidup bahagia, dan kakak juga janji akan membuat hidup orang yang sudah bikin kamu menderita akan kakak buat mereka menderita lebih dari yang kamu rasakan." janji Andrew.
"Apakah kamu tidak ingin membuka mata kamu dan melihat kakak di sini, kakak sayang sama kamu, kakak mau minta maaf sama kamu. Ayo kakak mohon buka mata kamu untuk kakak."
"Maaf kan kakak hiks hiks hiks." Andrew terus mencurahkan isi hatinya di hadapan Rena yang tengah tidak sadarkan diri.
Dia selama ini menjadi pribadi yang tertutup dan memendam semuanya sendiri. Dia terlalu takut untuk mencurahkan hatinya kepada orang lain, karena dia takut kalau orang itu tidak akan setia kepadanya.
Dan sekarang di hadapan Rena, adik yang selama ini tidak pernah dapat dia temukan dalam pencarian dia selama ini. Dia mencurahkan semua isi hatinya, hingga plong.
Tanpa Andrew sadari, sudut mata Rena mengeluarkan air mata, mungkin dibawah alam sadarnya Rena mendengar semua apa yang Andrew ucapkan dan dia ikut bersedih.
"Kakak keluar dulu ya, kakak janji nanti kakak akan selalu menemani kamu di sini." janji Andrew sebelum keluar dari ruang rawat Rena.
Cup.
"Kakak sayang sama kamu, doain semoga ginjal kita cocok biar kakak bisa mendonorkan satu ginjal kakak buat kamu." lanjut Andrew setelah memberikan kecupan kasih sayang di kening Rena.
Andrew pun pergi dari ruangan Rena setelah puas mencurahkan isi hatinya kepada Rena.
Sementara itu di depan ruang Rena, Dito dan Richard duduk di kursi tunggu ya berada di luar.
"Bang itu tadi siapa, apakah dia saudara Rena yang lain?" tanya Dito penasaran.
"Apakah kamu tahu sesuatu?" tanya Richard.
"Maksud Abang?" bingung Dito.
"Kenapa kamu bisa menebak kalau itu saudara Rena, apakah kamu tahu sesuatu?" tanya Richard curiga.
"Tidak bang, aku hanya menebak saja. Soalnya kalau di lihat lihat wajah mereka sama persis." jelas Dito.
"Hufft...." Richard menghela nafasnya sebelum menjelaskan sesuatu kepada Dito.
"Iya, dia kakak kandung Rena." ucap Richard.
"Lah, bukannya Abang itu kakaknya Rena?" bingung Dito.
__ADS_1
"Saya hanya kakak tiri saja, dan dia kakak kandungnya." jelas Richard.
Richard pun menjelaskan bagaimana kronologi keluarganya di masa lalu.
"Wah berarti sekarang aku mendapatkan tantangan lagi dong." ucap Dito setelah mendengarkan cerita Richard.
"Tantangan apa?" tanya Richard.
"Tantangan mendapatkan restu dari kakak ipar." Jawab Dito.
"Dasar bucin, pikirannya nikah mulu."
"Dih kayak situ enggak aja." balas Dito tak mau kalah.
Dalam beberapa hari hidup bersama dan saling ketemu membuat mereka berdua saling akrab satu sama lain. Bahkan sekarang Dito sudah memanggil Richard dengan sebutan Abang seperti dengan Rena.
Richard juga berfikir agar dia dekat dengan Dito biar nanti kalau Dito beneran meminang Rena Richard bisa tenang karena pasti nanti Dito tidak akan sungkan lagi meminta bantuan atau apapun nanti kalau ada sesuatu yang terjadi dengan Rena. Ya walaupun Richard tidak bermaksud mendoakan Rena dalam bahaya lagi nanti.
Ceklek.
Andrew keluar dari kamar Rena dengan wajah yang segar, sepertinya tadi sebelum keluar dari kamar Rena Andrew pergi ke kamar mandi dulu untuk mencuci mukanya.
"Saya ada urusan sebentar, nanti saya akan ke sini lagi setelah hasil tesnya keluar. Kalau ada apa apa anda bisa langsung menyuruh sekertaris anda untuk menghubungi sekertaris saya." ucap Andrew padahal Richard dan di balas anggukan saja oleh Richard.
Andrew pun pergi setelah mendapatkan anggukan dari Richard. Andrew tidak pamit kepada Dito, dan gak itu membuat hati Dito cemas. Dito takut nanti kalau akan sulit mendapatkan restu dari kakak kandung Rena.
"Gak usah cemas, kalau pun dia nanti tidak merestui kamu sama Rena itu bukan penghalang buat kamu nikahi Rena, karena saya dan Diandra sudah memberikan restu kepada kamu." ucap Richard yang tahu kegelisahan Dito.
"Abang tahu saja apa yang lagi aku pikirkan." balas Dito tak menyangka kalau Richard akan tahu isi pikirannya.
"Masuk yuk, takut nanti kalau Rena sadar tapi gak ada orang di dalam." ajak Richard.
Mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan Rena lagi. Sekarang gantian Dito duduk di sofa sedangkan Richard yang duduk di samping Rena.
"Kamu tidur aja biar saya yang jaga Rena di sini. Nanti malam kalau kamu mau jaga Rena lagi biar gak ngantuk." suruh Richard pada Dito.
"Baik bang." balas Dito karena memang dia juga sangat ngantuk, karena kurang tidur dari semalam.
...***...
__ADS_1