
"Bocah!! Lo di dalem?" Tanya Zee sambil membuka pintu kamarnya yang hanya ditutup tapi tidak dikunci.
Tidak ada sahutan dari dalam, membuat Zee membuka pintu kamarnya lebih lebar.
Di dalam ada pemandangan yang membuat Zee tersenyum simpul.
Tampak Qira tengah asyik mengajak bicara ikan peliharaan Zee yang sedang berenang di dalam akuariumnya.
Entah kenapa Zee merasa senang saat melihat tingkah Qira yang polos. Rasanya berbeda saat ia bersama Delice dan teman-temannya yang lain. Jika dengan mereka Zee merasa bersahabat,tapi dengan Qira ia seperti merasa menjadi seorang kakak.
"Qira!!" Panggil Zee sambil menepuk bahu Qira,membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Ohh,ma..maaf aku main sama ikan kamu. Sampai gak sadar pas kamu masuk."
"Hmm!!"
"Jangan lama-lama ngobrol sama ikan gue. Bisa stress ikannya liat muka lo." Ujar Zee sambil membuka gorden kamarnya,dan terpampanglah taman samping mansion yang tampak estetik walau masih sore.
"Gimana kaki lo?" Tanya Zee setelah memikirkan topik apa yang bisa dibicarakan. Maklum ia memang agak susah untuk memulai pertemanan.
"Udah mendingan,masih lebam sih. Cuma gak senyeri tadi."
"Baguslah,berati habis ini lo bisa pulang. Gue suruh temen gue anter lo nanti." Ujar Zee sedikit tak ikhlas.
Sebenarnya ia mau mengantar, tapi tidak mau membuat gadis itu besar kepala dengan kebaikannya. Dan alasan lainnya adalah karena ia gengsi. Kecuali jika gadis itu meminta,mungkin akan Zee pertimbangkan.
"Ka..kamu gak mau yang nganterin aku? Makanya nyuruh temen kamu?"
"Kalau lo mau,gue bisa anter. Tapi gue mau ke rumah papa dulu,ambil sesuatu. Lo keberatan?"
"Rumah papa? Maksud kamu ke rumah kamu dulu?"
"Rumah gue tuh di sini!! Rumah papa ya punya dia."
"Berati kamu tinggalnya di sini? Kalau gitu,kenapa aku gak nginap di sini aja. Di sini enak,banyak teman. Jadi gak sepi kayak di rumahku."
"Gak bisa,lagian gue gak tinggal di sini. Gue tinggal di apartemen abang gue."
Tampak Qira berkedip-kedip bingung mendengar cerita Zee yang cukup berbelit-belit. Itu baru masalah tempat tinggal,belum ia tahu jika masalah keluarga Zee lebih rumit lagi.
"Lagian nanti ortu lo bisa panik kalau lo gak balik ke rumah?"
Mendengar ucapan Zee,sontak Shaqira tertuntuk. "Aku bisa izin kok sama orang rumah." Jawab Qira lirih,membuat Zee merasa ada yang lain dari nada bicara Qira. Namun ia urung untuk bertanya.
"Gak,gue anterin lo pulang!!" Ujar Zee datar,dapat ia lihat jika mata Qira menyorot tak setuju walau gadis itu tidak protes.
♡♡♡
Dan akhirnya setelah beberapa menit bernegoisasi. Zee berhasil membujuk Qira agar mau pulang. Ia heran juga kenapa ada orang yang betah beradadi dekatnya padahal sudah dijutekin.
Karena walaupun Zee menyukai tingkah polos Qira,ia tidak lantas mengizinkan Qira masuk ke dalam lingkaran hidupnya. Jangankan Qira Arkhan yang bahkan pacarnya saja belum sepenuhnya masuk ke dalam lingkaran kehidupannya.
__ADS_1
♡♡♡
Setelah berpamitan pada anak-anak DarkNight,barulah Zee dan Qira pergi dari mansion. Kali ini Zee tak lagi membawa motor,melainkan membawa salah satu mobil temannya yang sengaja di tinggal di mansion DarkNight untuk keadaan darurat.
"Kita ke rumah papa dulu ya,jangan macam-macam lo di sana. Kalau ketemu Sassya cuekkin aja." Titah Zee di perjalanan menuju rumah papanya.
"Iya!!" Jawab gadis itu pasrah.
"Ngomong-ngomong umur lo berapa?" Tanya Zee penasaran,karena tingkah Qira terlalu polos untuk anak kuliahan. Ia berpikir mungkin saja gadis itu kecepatan masuk sekolah.
"Tahun ini delapan belas tahun,aku baru masuk semester satu kok."
"Gak salah sih gue panggil lo bocah." Ujar Zee sambil tersenyum miring yang di sambut cebikan dari bibir Qira.
♡♡♡
Kurang lebih 30 menit berjalan, akhirnya mobil yang dikendarai Zee sampai di depan gerbang rumahnya. Karena tidak ada rencana ke rumah papanya,Zee pun tidak membawa remote control untuk membuka gerbang.
Sudah beberapa kali membunyikan klakson mobil,namun tak ada tanda-tanda gerbang akan dibuka. Inilah yang Zee jengkelkan,jika ke rumah tak membuat janji temu,maka akan susah masuk ke dalam.
Mau tak mau Zee harus turun sendiri untuk memasukkan pasword gerbang rumahnya.
"Loh,non?" Kaget beberapa bodyguard saat melihat pintu terbuka dan Zee berdiri tegak dengan sorot mata tajam di depan sana.
"Kayaknya peraturan di rumah ini harus di ubah!! Kalian pikir karena saya bawa mobil lain,kalian bisa seenaknya tidak mengecek dan mengizinkan orang itu masuk?"
"Setidaknya periksa dulu siapa yang diluar,jika orang penting bagaimana? Tidak harus ada janji temu,ini rumah bukan kantor!! Lagian apa gunanya,cctv di gerbang depan dan monitor sebesar itu di post penjagaan,kalau untuk mengecek siapa yang datang saja kalian tidak bisa."
Setelah selesai memarkirkan mobil, tak lupa Zee mempersilahkan Qira keluar terlebih dahulu,setelah mengambil tasnya barulah ia menyusul. Di luar Zee masih menatap nyalang pada bodyguard papanya itu,langsung saja mereka menunduk. Tak ada yang berani membalas tatapan Zee kembali.
♡♡♡
Sampai di depan rumah utama,Zee memilih tidak mengetuk pintu. Ia masih jengkel dengan kejadian tadi hingga membuat nya mendorong pintu cukup keras,untung saja pintu itu tidak lepas.
Namun bunyi pintu berhasil mengagetkan Sassya yang tengah sibuk mengecat kukunya di sofa ruang tamu.
"Brakk!!"
"Bibi!!! Kenapa? Sih banting pintu!! Rusak kuku Sassya!!" Bentak gadis itu tanpa melihat ke arah pintu.
"Berani gak jawab? Bibi mau di pecat...."
"Berisik tau gak!!" Ujar Zee memotong ucapan Sassya.
Sontak Sassya menoleh kaget, mendapati Zee yang berjalan santai ke arahnya. Lebih kaget lagi saat ia mendapati sosok Qira yang berjalan menunduk di belakang Zee.
"Angkat kepala lo Qira!! Lo gak mau kenalan baik-baik sama adik TIRI gue ini?" Ujar Zee sinis,dengan menekankan kata tiri pada kalimatnya.
Namun dasarnya Qira lemah. Ia sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya untuk sekedar menatap Sassya membuat Zee jengkel. Sedangkan Sassya tampak tersenyum meremehkan.
"Orang kayak gini mau lo bawa jadi patner? Gak salah pilih lo?"
__ADS_1
"Sayangnya dia bukan patner gue. Dia calon pengganti posisi lo sebagai anak bungsu di rumah ini." Ujar Zee asal,namun ditanggapi serius oleh Sassya dan Qira yang langsung mendongak menatap tak percaya pada Zee.
"Lo gila ya? Lo punya hak apa hah? Lo itu udah dibuang,harusnya lo malu datang ke sini." Bentak Sassya tertahan. Ia tidak punya nyali untuk membentak Zee dengan keras karena ini di rumah.
"Gue gak malu!! Karena ini masih rumah gue!! Harusnya lo yang malu Sassya,lo dan mama lo itu parasit. Perusak rumah tangga orang,lebih pantas di sebut SAMPAH." Ujar Zee setengah berbisik namun penuh penekanan di setiap kalimatnya.
"Kurang aja lo!!"
"Azellea,kamu ke sini? Kok gak bilang papa dulu?" Tanya William yang baru keluar dari lift di samping tangga menuju lantai atas.
Kedatangan William membuat Sassya yang baru mau menampar Zee,mengurungkan niatnya. Ia lantas duduk dan bersikap sopan seperti biasanya.
"Iya pa,mendadak. Zee mau nanya perihal baju buat hari annyverssarry nanti. Sekalian ada yang mau Zee ambil di kamar." Ujar Zee datar,dengan tatapan masih mengarah ke Sassya seolah menantang gadis itu.
"Oh,masalah itu. Papa udah bilang sama abang kamu,memang dia belum kasih tau kamu? Besok sore kan kita ada janji temu buat pilih baju di butiq langganan keluarga kita."
"Zee belum pulang seharian ini." Jawab Zee jujur.
"Kebiasaan!! Kamu udah bilang abang kamu mau pergi ke sini? Kenapa gak sekalian kalian makan malam di sini?"
"Kayaknya gak bisa pa,habis ini Zee harus antar Qira pulang." Jelas Zee sambil menatap ke arah Qira,seolah mengatakan kehadiran temannya yang sepertinya belum di sadari William.
"Oh,ada teman kamu. Maaf ya om baru sadar,soalnya dari tadi kamu nunduk." Ujar William hangat.
"Gak papa om,salam kenal Shaqira." Ujar Qira ramah,sambil menyalami William.
"Zee sama Qira ke kamar ya pa. Habis ini mungkin langsung pulang,Zee takut kemalaman nganter dia pulang." Ujar Zee yang langsung menarik Qira menuju lift yang tadi dipakai papanya.
"Rumah kamu besar banget ya. Kalau aku sendiri di sini,mungkin bisa nyasar." Ujar Qira sambil nyengir kecil.
"Hmm"
"Bayangin deh Zee,kalau ada maling masuk rumah lo. Apa mereka gak nyasar ya? Pasti malingnya berasa masuk labirin di sini."
"Hmm"
Qira lagi-lagi mengoceh namun hanya
ditanggapi deheman oleh Zee.
"Zee!!" Geram Qira karena Zee sekarang malah cuek seperti Zee yang ia kenal di kampus. Padahal tadi siang gadis itu bisa berbicara banyak.
"Apa sih? Masalah maling lagi? Lagian mereka belum tentu lolos dari bodyguard di depan sana. Lagian lo gak liat setinggi apa pagar di depan rumah gue?"
"I..iya juga sih."
"Hmm"
"Ckkkk,lagi!! Bisa gak jangan 'hm'hm' terus kalau ngomong. Aku gak paham tau!!"
"Hmmm."
__ADS_1