
Pukul dua siang,Zee keluar dari kelasnya di ikuti Delice,Clara dan Agatha di belakangnya. Setelah problema salah paham di luruskan tadi pagi,kini Zee sudah resmi masuk ke dalam Circle GWACANA dan kawan-kawannya.
Zee pun baru tau kalau GWACANA adalah singkata dari 'Gerombolan Wanita Cantik Mempesona'. Awalnya Zee cukup shock mendengar singkatan nyeleneh tersebut,tapi ya mau bagaimana lagi. Ia sudah terlanjur memakai gelang pemberian mereka dan ia cukup ksatria untuk tidak mengingkari sesuatu yang sudah ia janjikan.
Keempat wanita cantik itu pun berjalan dengan penuh percaya diri hingga sampai ke parkiran. Begitu tiba di parkiran,Zee agak kaget karena Davian berada di sana bersama Nathan,Zergan,Kaivan dan juga Arkhan.
Zee sempat beradu tatap dengan Kai sejenak,namun setelahnya kedua orang itu sama-sama memutuskan pandangan dengan cara menoleh ke arah lain.
"Ngapain di sini?" Tanya Zee pada Davian.
"Mau ngajak lo pulang. Biar gak kelayapan di luar rumah."
"Gue bisa pulang sendiri."
"Papa yang nyuruh. Ada klien yang ngundang kita buat makan malam di rumah mereka malam ini."
"Gue gak bisa."
"Kenapa? Karena ada Sassya dan mama Melissa?"
Zee menarik sudut bibirnya."Buat apa gue ikut? Toh juga nanti gue di sana gak bisa ngapa-ngapain."
"Buat di kenalin ke klien. Lo calon CEO Zee,harus pintar menarik perhatian client."
"Gue gak sepintar lo ataupun mama Melissa dan Sassya dalam hal menarik perhatian,gue juga gak bisa seanggun Sassya dan mama Melissa saat berada dalam lingkungan orang penting. Bukannya papa pernah bilang gitu?"
"Katanya penampilan gue lebih mirip preman yang cuma bikin malu kalau muncul di depan publik."
"Ya makanya lo ubah diri lo."
"Gue gak mau."
"Kenapa lo keras kepala banget sih,sikap lo yang kayak gini nih yang bikin papa gak suka sama lo!" Bentak Davian emosi.
Kaivan yang mendengar Davian membentak Zee,langsung mengepalkan kedua tangannya. Ingin sekali ia memukul wajah pria itu,andai dia bukan kakak kandung Azellea.
Zee melihat ke sekeliling,beberapa orang tampak memperhatikan mereka karena suara Davian cukup keras tadi.
Sambil menahan napas Zee berkata."Gue gak akan bisa berubah seperti yang papa harapkan. Dan gue rasa lo juga gak harus membicarakan hal seperti ini di depan umum. Tau tempat bang,gue masih punya malu." Balas Zee dengan nada datar. Setengah mati Zee menahan emosinya.
"Gue duluan." Ujar Zee dengan cara menerobos kasar antara Davian dan Nathan.
__ADS_1
Saat ia melewati Kaivan,pria itu langsung menggenggam tangan Zee sebentar. Zee tersenyum kecil. Ia kira Kaivan tak peduli tadi,tapi dari genggaman tangan Kai,Zee tau pria itu juga merasakan hal yang sama dengannya. Sama-sama menahan emosi.
Zee akhirnya kembali berjalan hingga sampai di depan mobilnya. Saat hendak membuka pintu mobil,pandangan Zee langsung tertuju pada secarik kertas yang berisi pesan dalam bentuk coding. Ragu-ragu Zee menarik kertas tersebut dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Setelahnya membacanya sebentar ia langsung menjalankan mobilnya meninggalkan area kampus. Di otaknya kini terisi teka-teki tentang siapa pemilik surat kaleng tersebut.
Ia membacanya sekali lagi,di dalam surat tersebut terdapat alamat yang harus Zee datangi dan alamatnya berada cukup dekat dengan lokasi kampusnya saat ini.
Hingga kurang lebih setengah jam berkendara,mobil milik Zee akhirnya tiba juga di depan gerbang sebuah rumah berlantai dua yang terlihat dari luar gerbang.
Zee memencet klakson beberapa kali agar pemilik rumah tau jika ia sudah berada di luar. Sementara itu di dalam rumah,seseorang yang sedari tadi menunggu kedatangan Zee. Kini tersenyum setelah mendengar bunyi klakson di luar rumahnya.
"Akhirnya!" Batin orang tersebut.
Ia segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi keluar untuk menemui tamu spesialnya itu. Begitu sampai di luar,ia melihat Zee sudah keluar dari mobil dan kini tengah bersandar di pintu mobil dengan gaya coolnya. Gadis satu itu memang lebih mirip laki-laki jika di lihat dari gayanya.
"Welcome Azellea William Michelle."
Ucap orang tersebut begitu sampai di depan Zee.
Zee mengangguk singkat.
"Ternyata lo pelakunya." Ujar Zee datar.
"Buat apa? Bukannya lo udah tau?"
"Bener banget,tapi gue tadi berharap lo ngelak sih. Kalau lo ngelak kan gue bisa kasih bukti rekaman lo waktu malam anniversarry kemarin."
Zee menatap orang di depannya ini dengan takjub."Gue gak nyangka lo bisa menyusup ke sana,menyamar jadi salah satu kameramen malam itu. Congrat,penyamaran lo benar-benar mulus."
Kini giliran orang itu yang kaget mendengar pernyataan Zee."Gue gak nyangka kalau lo udah tau."
"Gue rasa lo bisa jadi patner yang cocok. Gimana? Permintaan lo waktu itu masih berlaku? Kalau iya,gue bakalan setuju tapi dengan satu syarat."
"Masih. Apa syaratnya?"
"Gue bantu lo cari tau tentang Sassya dan adik lo itu dan lo bantu gue cari tau tentang masa lalu gue,deal?"
"Deal."
"Jadi kita patner?"
__ADS_1
"Hm"
"Makasih Zee!! Gue Sandra Amelia Guanna akan bersungguh-sungguh saat membantu lo nantinya. Lo bisa pegang ucapan gue."
Ya. Orang yang mengirimi Zee surat kaleng tadi adalah Sandra,kembaran dari Salma yang merupakan mantan Davian.
Tadi saat di mobil Zee sudah sedikit menebak siapa pelaku yang bisa melakukan hal sedetail itu dan Zee akhirnya sadar jika orang itu pastilah Sandra yang pernah menemuinya tempo hari. Karena itulah saat melihat Sandra keluar tadi,Zee sudah tak kaget.
"Lo butuh bantuan apa?" Tanya Zee to the point. Ia tidak suka berbasa-basi. Buang-buang waktu.
Sandra tersenyum misterius."Jangan terburu-buru Zee. Ada hal yang mau gue tunjukkin ke lo."
"Apa?"
"Ikut gue."
Sandra menarik pergelangan Zee agar mengikuti langkahnya untuk masuk ke dalam rumah. Zee menurut saja,mungkin karena karakter Sandra yang sebelas dua belas dengannya membuat Zee lebih nyaman dengan gadis itu walau mereka baru kenal.
Zee dan Sandra kini sudah berada di sebuah kamar bernuansa pink yang tampak rapi namun agak sedikit pengap. Zee sedikit bisa menebak jika kamar ini pasti sudah jarang di huni.
"Ini kamar Salma?" Tebak Zee tepat sasaran.
Sandra mengangguk."Iya,di kamar ini adik gue tumbuh dan di kamar ini juga terakhir kali dia bernafas." Jawab Sandra skiptis.
Zee mengangguk paham."Gue memang lupa gimana rasanya. Tapi kehilangan orang yang kita sayang pasti akan sangat menyakitkan." Ucap Zee datar.
Mata Zee mengedar memperhatikan seluruh sudut ruangan yang terdapat banyak sekali foto seorang gadis mirip dengan Sandra yang Zee yakini jika orang itu adalah Salma.
"Berapa petunjuk yang lo punya?" Tanya Zee setelahnya.
Sandra berjalan ke arah meja belajar yang ada di kamar itu. Sandra membuka sebuah laci paling atas dan mengeluarkan beberapa benda dari sana. Setelah itu ia menyerahkan benda-benda tersebut pada Zee.
"Gue harap ini cukup buat petunjuk semuanya."
Zee mengangguk,"ini lebih dari cukup."
"Kapan kita mulai?" Tanya Zee lagi.
"Besok. Temui gue di sini sepulang kuliah."
Zee menyodorkan handphonenya ke arah Sandra."Nomor handphone lo." Ujarnya datar.
__ADS_1
Sandra mengambil ponsel Zee dan memasukkan nomor ponselnya ke sana.
"Sampai ketemu besok."