
Acara malam itu berakhir pukul 11 malam. Zee yang sedari tadi hanya duduk di kursi kini tampak beranjak saat satu persatu mahasiswa sudah bubar keluar gedung.
Gadis itu menuruni altar mendahului Davian dan yang lainnya. Di sudut ruangan,Kaivan yang sedari tadi mengawasi Zee juga akhirnya ikut bangkit dan berjalan mengikuti Zee.
"Zee!!" "Chelle."
Zee tersentak saat kedua tangannya di cekal oleh dua orang yang berbeda. Di sebelah kiri Zee ada Delice dan di sebelah kanannya ada Kaivan yang kini tengah menatapnya dengan sorot mata tajam.
"Lepasin tangan lo." Suruh Kaivan pada Delice dengan nada dingin.
Delice yang takut langsung menurunkan tangannya dan lari ke belakang Arkhan yang berdiri tak jauh dari tempat Zee dan Kai. Di sudut lain ada Davian,Nathan,Zergan dan Sassya yang juga tengah menatap heran pada Zee dan Sassya.
"Mereka saling kenal?" Tanya Nathan pada Davian.
Davian mengangkat bahunya."Gue gak tau."
"Eh,itu adek lo mau di bawa kemana?" Kaget Nathan saat melihat Zee di tarik keluar oleh Kaivan.
Davian yang kaget pun langsung buru-buru turun menyusul sang adik. Di belakangnya Sassya juga mau menyusul tapi di tahan oleh Zergan.
"Jangan ganggu mereka." Ujar Zergan dingin. Pria itu sepertinya peka jika ada masalah di antara Kai dan Zee. Dan karena itu ia tak mau Sassya menganggu.
"Ckk!! Lepasin,gue gak bakalan ganggu." Sassya sedikit berontak dengan satu tangah berusaha melepaskan genggaman Zergan.
Zergan mengeratkan cekalannya di tangan Sassya. "Tetap di sini gue bilang!"
Ujar Zergan sedikit membentak,nyali Sassya akhirnya ciut juga apalagi saat melihat Arkhan dan yang lainnya ikut menatap dirinya dengan tajam. Mau tak mau Sassya akhirnya tetap berdiri di tempat. Melihat Sassya yang sudah menurut Zergan pun melepaskan cekalannya.
"Loh kalian kenapa?" Agatha dan Clara yang baru datang dari toilet langsung heran saat melihat teman-temannya tengah berdiri di atas altar dengan raut aneh.
Nathan menarik Clara dan Agatha agar mendekat ke arahnya."Kalian berdua gue anterin pulang ya. Udah larut." Ujar Nathan singkat.
"Tapi.." Clara hendak protes namun urung saat melihat Arkhan,Delice dan lainnya juga turun dari altar.
Apalagi raut wajah Arkhan dan Delice tampak kurang bersahabat dari biasanya.
"Ini kenapa sih?" Batin Agatha.
Di belakang mereka,Sassya mempercepat langkahnya untuk menyusul ke luar. Ia sedikit khawatir pada kedua saudaranya yang sudah lebih dahulu keluar tadi.
__ADS_1
♡♡♡
Di sisi lain,Kaivan masih terus menarik Zee hingga masuk ke dalam lift,di belakangnya Davian berusaha menyusul secepat mungkin namun ia kalah cepat jadilah ia kini harus menunggu di depan pintu lift yang sudah tertutup.
"Sial!!" Umpat Davian.
Di dalam lift,Kai dan Zee kini tengah terlibat aksi perang dingin. Kedua tangan mereka saling menggenggam tapi tak ada satupun dari mereka yang buka suara.
"Hah.." Kaivan mengehela napas pendek.
Perlahan kepala Kai menoleh ke arah Zee yang tampak diam dengan raut datarnya.
"Jelasin." Ucap Kai dengan nada dingin.
"Apanya?"
"Semuanya!"
"Bukannya udah jelas?"
"Jadi ini yang lo maksud malasah keluarga?"
Zee menggelang singkat."Lo baru liat covernya Kai."
"Gue ingin jelasin semuanya?"
"Apa yang mau lo jelasin lagi? Udah telat juga kan?"
"Kai,dengerin gue. Gue memang akan menjelaskan semuanya sama lo suatu saat tapi bukan sekarang."
"When? Apa semua ucapan lo masih bisa gue percaya? Tentang bokap lo yang katanya gak peduli lagi sama lo,tentang abang lo yang katanya lebih peduli pada adik lo,atau tentang adik tiri lo dan ibunya yang berusahain nyingkirin lo? Yang mana yang harus gue percaya? Ucapan lo atau apa yang gue liat tadi?"
"Semuanya gak semudah yang lo bayangkan Kai. Jangan nyimpulin sesuatu tanpa lo tau akarnya. Semua yang gue ucapin itu memang benar adanya,tapi itu terjadi dulu saat gue masih kecil,sekarang keadaannya memang masih sama tapi gue perlahan mengubah diri gue buat nyeimbangan mereka. Lo gak bakalan paham Kai."
"Fine Chelle!! Gue memang gak bakalan paham. Gue gak pernah tau apapun tentang lo karena lo sama sekali gak pernah cerita,8 tahun gue kenal lo yang gue tahu hanya perihal lo punya masalah keluarga. Just it. Lo nutupin semuanya dari gue."
"Gue gak maksud nutupin Kai,cuma timingnya aja gak pas buat gue cerita."
" Lo anggap gue apa sebenarnya? Sahabat? Teman? Atau orang asing? Lo pembohong Chelle!!"
__ADS_1
"Kai!!" Zee tak percaya jika laki-laki yang selama ini jadi sandarannya bisa mengatakan hal sekasar itu.
"Apa? Lo mau ngelak kalau semua ucapan gue gak bener? Gue liat pake mata kepala gue sendiri malam ini Chelle. Hubungan lo dan keluarga lo itu baik-baik aja. Apalagi yang mau lo tutupin?"
Zee menggeleng dan memilih menarik tangan Kai agar keluar dari lift karena saat ini mereka sudah sampai di lantai bawah.
"Gue bakalan jelasin tapi gak di sini."
Ujar Zee pelan,ia mempercepat langkahnya hingga kini mereka sudah berada di parkiran.
Kaivan menghempaskan tangan Zee dengan kasar."Gak ada yang perlu di jelasin,gue udah liat semuanya."
"Apa yang lo lihat hanya satu dari sebagian hal yang lo sendiri gak tau kebenaranya Kai!! Bahkan jangankan lo,gue sendiri aja gak paham apa yang sebenarnya terjadi sama keluarga gue belasan tahun yang lalu."
Kaivan terdiam mendengar ucapan Zee.
"Chelle,asal lo tau selama ini gue sangat ingin mencari tahu semua tentang lo secara diam-diam. Tapi karena gue tulus ingin jadi bagian penting dari hidup lo,gue berusaha buat tahan."
"Gue selalu nunggu saat di mana lo bakalan cerita semuanya dengan kemauan lo bukan paksaan gue,tapi sampai saat ini bahkan tepatnya sekarang gue udah liat suatu fakta yangg bikin gue kaget dan lo gak bisa jelasin apapun. Wajar kalau gue kecewa."
"Gue ngerti Kai dan gue minta maaf. Asal lo tau,gue sangat-sangat mau cerita semuanya sama lo tapi sayangnya gue gak tau harus mulai dari mana."
"Ketika mama dan nenek gue meninggal,pengasuh gue pernah bilang kalau gue mengalami trauma hingga usia gue sembilan tahun. Setelah gue sembuh dari trauma gue gak ingat banyak hal,dokter bilang gue terkena amnesia disosiatif di mana ada peristiwa menyakitkan yang sengaja di lupakan secara paksa oleh memori gue."
"Bukam kemauan gue Kai. Gue juga gak tau kenapa semuanya bisa kayak gitu,pengasuh gue bilang mama meninggal karena kecelakaan begitupun dengan nenek gue,tapi gue pernah denger papa bilang kalau mama dan nenek meninggal karena nyelamatin gue. Gue gak tau mana fakta yang sebenarnya."
"Lalu Sassya dan mama Melissa. Gue gak tau apapun tentang mereka,yang gue ingat hanya saat-saat dimana mama Melissa ngurung gue di gudang,atau papa marah saat gue gak bisa berbagi mainan dengan Sassya atau bahkan saat di mana papa gue gak bisa ngebagiin waktu buat nemenin gue ke sekolah karena ada Sassya dan bang Vian yang katanya lebih butuh."
"Just it! Gue hanya ingat saat-saat di mana gue di perlakuin gak adil sampai akhirnya gue ketemu seseorang yang bisa bantu gue bangkit dan orang itu elo. Sekarang udah jelaskan? Lo paham kan serumit apa masalah gue?"
Kaivan tak bisa menjawab sepatah katapun. Otaknya sedang berperang saat ini,di satu sisi ia masih marah karena Zee tak jujur sedari awal tapi di sisi lain ia juga bisa mengerti posisi Zee.
"Gue butuh waktu buat pahamin ini semua Chelle."
Kaivan memilih berbalik hendak meninggalkan Zee. Namun Zee segera menahann tangan Kai dan menggenggamnya dengan erat.
"Lo pernah janji buat gak ninggalin gue Kai. Kenapa lo jadi kayak gini."
Kaivan membalikkan badannya untuk menghadap ke arah Zee,"Hei. Lihat gue,gue gak bakalan ninggalin lo. Gue cuma butuh waktu buat paham posisi lo,okay? Jangan nangis. Gue minta maaf."
__ADS_1
Kaivan menghapus sudut mata Zee yang ternyata berair dan langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Maaf."