
"Jadi ada apaan nih Zee? Tumben lo mau ikut nongkrong sama kita? Mana nyewa ruang VIP lagi. Mahal tau,sayang uangnya." Ujar Delice beruntun.
"Ada yang mau gue tanya." Balas Zee dengan nada serius.
"Apa tuh?"
"Tapi janji satu hal sama gue. Rahasiain ini dari siapapun dan jangan cerita ke siapapun tanpa seizin gue."
"Wahh,kayaknya masalah darurat nih. Lo tenang aja Zee. Gue,Clara dan Agatha akan jaga rahasia ini dengan sepenuh hati kami. Iyakan gengs?"
Clara dan Agatha mengangguk.
"Tapi tunggu dulu Zee." Ujar Agatha setelahnya.
Zee memandang Agatha dengan satu alis terangkat."Kenapa?"
"Kita bertiga sih bisa-bisa aja jaga rahasia. Tapi kita gak jamin kalau cewek yang di sebelah lo itu bisa jaga rahasia. Lagian dia siapa Zee? Udah kayak buronan gitu tampilannya." Ujar Agatha tanpa filter.
Sandra yang di sebut buronan oleh Agatha hanya bisa menghela napas geram. Ia memang belum membuka masker dan kacamata sedari tadi jadi wajahnya masih sangat tertutup.
Zee yang melihat situasi jadi terlihat agak aneh pun memilih memperkenalkan Sandra terlebih dahulu.
"Dia ini Sandra. Temen gue,atau lebih tepatnya patner gue. Kalian boleh kenalan lebih jelas sama dia nanti. Sekarang ada yang mau gue omongin dulu." Ujar Zee serius.
Zee menarik napas perlahan,kemudian menatap lekat ketiga gadis di depannya itu. "Kalian kenal Salma?" Tanya Zee to the point.
Clara,Agatha,dan Delice langsung memasang wajah antara kaget dan bingung mendengar pertanyaan Zee.
"Salma mana dulu nih Zee? Salma banyak,di kampus kita juga ada yang namanya Salma." Ceeltuk Agatha.
"Salma Amelia Guanna? Kenal?"
"Salma Amelia?" Clara tampak mengetuk-ngetuk dagunya seolah tengah berpikir.
M..maksud lo mantannya Kak Vian yang meninggal karena bundir ?" Tanya Clara dengan nada kaget.
Zee mengangguk.
"Kenal lah,orang dia kakelnya kita dulu." Ujar Delice,Agatha dan Clara berbarengan.
"Tapi tunggu dulu. Lo tau kak Salma dari siapa? Perasaan lo gak satu sekolah sama kita deh." Ujar Delice heran.
"Sebenarnya gue juga gak tahu siapa Salma. Gue juga gak kenal sama dia,tapi Sandra kasih tahu gue tentang Salma." Ujar Zee sembari menunjuk Sandra dengan gerakan dagunya.
"Sandra? Cewek di sebelah lo itu? Emang dia siapanya kak Salma? Kok bisa kenal?"
__ADS_1
"Tanya aja orangnya langsung." Ujar Zee singkat.
"Sand." Tegur Zee saat Sandra tak kunjung berbicara dan malah asyik dengan handphonenya. Gak sopan.
"Apa?" Tanya Sandra dengan watadosnya. Sejujurnya gadis itu masih kesal karena sempat di katai buronan tadi.
"Buka masker lo,topi lo,kacamata lo. Atau mau gue telanjangin sekalian?" Ancam Zee sarkas.
Sandra dengan gelagapan menanggalkan topi,kacamata,wig dan juga masker yang sedari tadi menutupi wajahnya.
"Galak banget sih lo." Geram Sandra setelah berhasil melepaskan semua benda tadi dan meletakkannya ke atas meja.
Di sisi lain,Delice,Agatha dan Clara tampak melongo melihat pemandangan di depannya. Delice bahkan nyaris jatuh dari kursi.
"H..hantu!!!" Teriak Delice kencang hingga membuat Agatha dan yang lainnya kaget.
"Pletak." Sandra melempar sepotong kentang goreng ke wajah Delice.
"Enak aja. Gue manusia ya! Lo gak liat gue tadi jalan napak? Buta ya lo?" Geram Sandra.
Delice mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali berusaha meyakinkan penglihatannya terhadap sosok yang mirip Salma tersebut.
Sementara itu Clara dan Agatha sudah beranjak dari kursinya dan kini berdiri di samping kursi Sandra dan Zee.
Tangan keduanya terulur untuk mencubit pipi Sandra dengan cukup kuat.
"Oh,My,God!! Nyata!! Kak Salma,lo masih hidup rupanya. Ya ampun gak nyangka banget,lo inget gak dulu kita suka nge-mall bareng kalau pulang sekolah,terus jajanan bakso punya bang Ujang,makan seblak di warung pinggiran. Uwahh,sekarang kakak ada lagi jadi kapan kita nostalgia??"
Tanya Agatha antusias.
Ia juga segera memeluk Sandra dengan cukup erat membuat gadis itu sesak napas.
"Le..psassin." Ujar Sandra terbata karena lehernya terkecik.
Clara yang merasa kasian,segera menarik Agatha agar menjauh dari Sandra.
"Huh." Sandra menghembuskan napasnya dengan kasar setelah pelukan mereka terlepas.
Matanya beralih menatap Agatha yang tampak masih memberi tatapan berbinar ke arahnya. Dari fakta yang Sandra tahu,Agatha memang cukup akrab dengan Salma,alasannya adalah karena Agatha anak tunggal dan kehadiran Salma membuatnya merasa punya kakak.
"Gue bukan Salma,Tha." Ujar Sandra serius membuat raut wajah Agatha berubah sendu.
"M..maksud lo?" Tanyanya lirih.
"Gue Sandra Amelia Guanna. Kembaran Salma,Salma memang udah meninggal beberapa tahun yang lalu." Ujar Sandra dengan nada bersalah saat melihat raut kecewa yang semakin terpancar dari wajah Agatha.
__ADS_1
"K..kembaran? Kak Salma punya kembaran? Kok dia gak pernah kasih tahu kita ya?" Tanya Agatha pada kedua temannya.
Delice dan Clara tampak menggeleng. Mereka juga tidak tahu mengenai masalah ini.
"Terus kalau lo kembaran kak Salma,tujuan lo ke sini buat apa? Bukannya kak Salma juga udah meninggal? Kita juga gak ngeliat lo di pemakamannya waktu itu."
"Gue ada di sana,mungkin kalian aja yang gak tahu. Tujuan gue ke sini buat nyari tahu tentang kematian Salma,mungkin kedengarannya terlambat tapi selama ini gue berusaha nyari bukti kenapa Salma bisa bunuh diri."
"Sebenarnya gue mau ke Indonesia dari dua tahun yang lalu,tapi sayangnya saat itu keadaan mama gak memungkinkan buat gue tinggal. Jadi sekarang setelah mama sembuh,gue mutusin buat ke Indonesia. Nyari tahu kematian Salma sekaligus pingin minta bantuan,Zee dan kalian semua. Kalian mau kan bantuin gue?" Tanya Salma penuh harap.
Clara menatap Sandra lekat-lekat."Jadi lo beneran bukan kak Salma dan selama ini lo tinggal di luar negeri?" Tanyanya memastikan.
Sandra mengangguk."Yup. Jadi gimana? Mau bantuin gue?"
Delice dan yang lainnya saling tatap.
"Memangnya lo butuh bantuan apa?" Tanya Delice setelahnya.
Sandra beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah Delice. Setelah itu ia tampak membisikkan sesuatu ke telinga Delice.
Hingga tak lama setelahnya Delice terssnyum lebar."Kalau soal itu mah gampang. Jadi kapan lo sama Zee mau ketemu sama bang Ar?" Tanya Delice antusias.
Zee yang semula acuh tak acuh dengab pembicaraan mereka,kini malah melotot tak santai. "Ngapain bawa-bawa nama gue? Gue gak mau!!" Tegas Zee cepat.
Sandra menggerakkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri dengan tampang meledek.
"No..no..no Zee. Lo udah janji,dan gue tahu lo bukan tipe orang yang ingkar. Iya kan?"
Zee yang mendengar ucapan Sandra hanya bisa menghela napas panjang-panjang.
Kenapa juga ia harus terjebak di kondisi serumit ini.
"Jadi gimana? Mau gak?"
"Hm."
"Asikkk..makasih cantik." Sandra kembali tersenyum puas sembari mengerlingkan satu matanya membuat yang lainnya tertawa dan Zee? Jangan tanya,wajah datarnya sudah semakin datar dan tampak memerah menahan kesal.
♡♡♡
👀Perhatian!!
Karya ini masih di revisi mohon baca judul bab untuk tau perbedaan up baru dan up lama
🙏
__ADS_1
Like vote komen jan lupa😁