Story Of Azellea

Story Of Azellea
Tidak Mudah


__ADS_3

Seperti biasa setiap jam 5 pagi alarm HP Zee berbunyi dengan nyaring membuat gadis itu terbangun dari tidurnya. Dengan hati-hati ia beranjak menuruni  ranjang,supaya tidak menganggu teman-temannya yang masih tertidur pulas.


Sengaja Zee tidak membangunkan mereka,lantaran semalam mereka tidur hampir jam dua pagi karna menonton film di bioskop mini.


Jadi Zee pikir mereka masih mengantuk jika dibangunkan sekarang,sedangkan dirinya? Oh tidak usah ditanya,ia bahkan sudah biasa tidak tidur sepanjang malam,dan paginya langsung kuliah. Jadi bukan masalah jika ia bisa bangun pagi walaupun sudah begadang sepanjang malam.


Setelah selesai mencuci muka,mandi, dan menggosok gigi,Zee langsung mengganti pakaiannya dan beranjak ke luar kamar untuk berolah raga sebentar. Mumpung di rumah ada mini gym jadi manfaatkan saja. Biasanya ia olahraga di mansion di temani Kai,bara,atau Rafa. Tapi kali ini sepertinya ia akan olahraga sendiri.


Setengah berlari Zee menuruni tangga darurat menuju lantai dua. Sengaja ia tidak menggunakan lift,sekalian pemanasan.


"Klek..." Zee membuka pintu kaca di depannya dengan hati-hati. Sebenarnya ia agak heran,karna pintunya tidak terkunci dan lampu menyala. Padahal setaunya jika ruangan sedang tidak dipakai,maka lampunya selalu dimatikan dan pintunya dikunci.


"Morning girl? Kau sudah bangun rupanya?" Sapa seseorang yang suaranya tak asing membuat Zee menoleh.


Tampak William sedang berlari kecil di atas treadmill. Jangan salah ya,walau sudah hampir memasuki kepala lima,postur tubuh William justru masih tampak seperti usia tigapuluhan. Wajahnya tegas namun tampan dihiasi dua bola mata biru,tinggi sudah pasti,badannya atletis. Jadi jika orang-orang tidak mengenalnya,pasti orang akan mengira jika William itu masih berusia tiga puluhan lebih.


"What are you doing here? Tanya Zee dengan dodolnya. Sudah lihat papanya sedang berlari kecil di atas treadmill,ya jelas sedang olahragalah. Masa iya lomba karung,aneh.


"Oh come on my little girl,are you kidding me? Tentu saja papa lagi olahraga,kalau mau bergabung silahkan,papa memang akhir-akhir ini sering olahraga pagi."


"Oh." Jawab Zee singkat,padahal William sudah berusaha akrab dengannya.


Zee kemudian beranjak ke tempat rak sepatu,dan memilih sepatu yang akan ia pakai untuk berolahraga. Sepatu di situ memang sengaja disiapkan untuk penghuni rumah yang mau berolahraga,dan akan diganti setiap bulannya jika sudah di pakai. Kadang sepatu-sepatu itu di loundry kemudian di berikan ke panti-panti. Karna sayang jika dibuang,apalagi baru sekali atau dua kali dipakai karna memang sepatunya banyak.


Setelah selesai memasang sepatu, barulah Zee melakukan pemanasan. Setelah selesai pemanasan,baru ia beranjak ke treadmill kosong di samping William dan mulai berlari kecil.


"Bagaimana keadaan cafe kamu? Papa denger makin ramai ya? Kemarin papa sempat mampir ke sana,dan memang sangat ramai. Papa sampai ngantri pas mau bayar. Kayaknya kamu harus tambah karyawan deh,atau kamu bikin cafe yang lebih besar lagi. Mau papa bantu?"


"Nanti Zee pikirkan."


"Kamu masih marah sama papa? Kapan kamu gak bersikap acuh lagi sama papa? Papa kan sudah minta maaf."

__ADS_1


"Zee gak marah,hanya gak terbiasa, I think  you know it?  Kita tidak sedekat ini sebelumnya." Jawab Zee apa adanya. Jangan salahkan sikap dinginnya,tiga belas tahun bukan waktu yang singkat untuk membentuk karakter dingin dan cuekknya.


"I,m so sorry." Lirih William.


"No..no,papa gak perlu ngomong kayak gitu. Everything will be fine, seiring berjalan waktu. Mungkin?"


"I hope it."


Zee memilih tidak melanjutkan obrolan lagi. Ia mempercepat laju treadmill dan memasang earphone di telinganya. Sedangkan William hanya bisa menghela napas pasrah, menyembuhkan luka di hati Zee memang butuh waktu.


♡♡♡


Dari depan pintu,Davian terdiam melihat interaksi antara Zee dan papanya. Tadinya ia berniat berolahraga juga,namun saat datang ke ruang gym,pintunya terbuka sedikit,Davian kira hanya ada papanya di dalam jadi ia berniat langsung masuk.


Namun langkahnya ia urungkan saat melihat ternyata sang adik juga ada di dalam. Ia memilih menunggu di luar sebentar,memberi waktu untuk Zee dan papanya berbicara empat mata.


"Sudah selesai olahraganya?" Tanya Davian yang akhirnya memilih masuk saat melihat sikap Zee yang kembali dingin,berbeda dari semalam.


"Kamu telat bangun boy!! Papa sama adek kamu udah di sini dari tadi." Ujar William sambil menepuk bahu kekar putra sulungnya itu.


"Gak papalah,lagian Vian ke sini mau ngingetin Zee masalah tantangan  semalam. Jadi kapan mau mulai? Mumpung gue udah siap nih!!" Ujar Davian bersemangat.


Zee yang tengah membuka sepatu sontak mengangkat kepalanya dengan ekspresi bingung.


"Tantangan apa?" Tanya Zee heran.


"Ckk!! Belum tua udah pelupa,lo gak inget semalam lo bilang mau challege manjat pohon mangga?"


"Ah..iya gue lupa."


"ih hiyi giwi lipi.." Ejek Davian pada sang adik,namun yang di ledek tampak datar-datar saja.

__ADS_1


"Ya udah gue bangunin teman-teman dulu,nanti mereka nyari lagi. Udah mau jam enam juga." Ujar Zee sambil berlalu ke luar ruangan menuju kamarnya.


"Gue tunggu di halaman belakang!!" Teriak Davian kencang membuat William yang berada di dekatnya menutup telinganya sedangkan Zee yang masih berada di ambang pintu mengangkat jempolnya tanpa membalikkan badan.


♡♡♡


"Woi Zee darimana aja lu? Main ngilang gak bangunin kita." Omel Delice begitu Zee masuk ke dalam kamar.


Zee menatap ketiga temannya yang tengah duduk di pimggir kasur dengan datar. "Gue nge-gym sama papa."


"Ih,kok gak ngajak!! Guekan pengen liat ruangan sama fasilitasnya." Geram Agatha .


"Kalian tadi tidur."


"Kan bisa dibangunin." Kali ini Clara ikut protes juga.


"Lain kali kalian nginep lagi disini, gampangkan?" Ujar Zee santai.


"Hedeh!! Terserah lo lah,intinya kapanpun lo ajak gue nginep di sini. Gue mau-mau aja." Jawab Delice riang yang diangguki Clara dan Agatha.


"Kalian semua udah mandi kan? Mau ikut gue ke bawah?" Tanya Zee lagi.


"Ngapain? Ini baru jam enam juga,lo bilang sarapan jam tujuh." Tanya Delice heran.


"Siapa yang mau sarapan? Gue mau manjat pohon mangga,tapi kalau kalian mau sarapan duluan ya silahkan. Gue kasih tau bibi,gimana?"


"Oh,tantangan bang Vian semalam. Ayolah,gue lagi pengen liat siluman monyet secara live." Ceplos Delice lagi membuat Zee menyentil jidatnya.


"Sakit bego!!"


"Makanya mulut jaga." Ujar Agatha ikut geram.

__ADS_1


__ADS_2