Story Of Azellea

Story Of Azellea
Menjadi CEO


__ADS_3

Seminggu berlalu setelah tragedi kecelakaan kecil yang membuat Zee tidak masuk kuliah dua hari dan dua hari selanjutnya ia gunakan untuk menemani Agatha dan Delice seharian penuh sesuai hukuman yang mereka berikan karna dirinya sempat mengerjai mereka di markas Dark Night kala itu.


Sedangkan dua harinya lagi adalah untuk Sandra dan Clara. Sehingga bisa di bilang seminggu belakangan ini,hidup Zee sudah sangat mengenaskan. Dimulai dari mengerjai orang berujung apes,berniat menghentikan aksi Sassya dan Melissa juga berujung apes,dan hari ini ia pun kembali apes karna harus kembali menjalani hukuman dari Davian atas kekalahannya dalam ajang panjat pohon mangga seminggu yang lalu.


Dan di sinilah Zee berdiri sekarang,di depan sebuah gedung perusahaan yang menjulang tinggi di hadapannya. Sudah berkali-kali ia menghela napas mengusir kegugupannya saat melihat orang-orang dengan pakaian rapi berlalu lalang di sekitar kantor.


Jam memang masih menunjukkan pukul tujuh kurang beberapa menit dan Zee sudah berada di depan kantor karna tadi Davian memintanya untuk berangkat lebih awal supaya tidak terjebak macet dan berujung terlambat ke kantor.


Sebagai gantinya ia kembali tidak masuk kuliah lagi,bukan tidak masuk sepenuhnya sih. Tapi lebih tepatnya semua materi kuliah nantinya akan di kirim langsung pada Zee dan akan ia kerjakan di rumah. Untuk urusan pengumpulan, dirinya bisa langsung mengantar ke kampus kapan ia punya waktu luang atau dikumpulkan melalui email. Cukup mudahlah mengingat itu juga kampus papanya.


Dan setelah meyakinkan dirinya untuk masuk ke dalam gedung kantor sang abang,Zee pun menanggalkan safebelt yang melingkar di dadanya seraya beranjak keluar dari mobil.


Dengan langkah tegas seperti biasanya Zee berjalan melewati saptam yang berjaga di depan pintu dan berjalan menuju meja resepsionis. Zee sempat terdiam sebentar,bingung mau menyapa bagaimana,seumur-umur dirinya jadi pimpinan,paling cuma ketua kelompok dulu pas masih sekolah,selain itu di cafe dan bengkel tapi kan tidak seruwet kantor. Kalau jadi pimpinan tawuran mungkin ia bisa,tapi sekarang ia jadi pimpinan perusahaan yang notabene asing baginya.


"Dek ada yang bisa saya bantu?" Tanya resepsionis di depannya dengan nada bingung karna sedari tadi Zee berada di depannya namun hanya berdiri diam tidak mengatakan apa-apa.


Zee mengerjab pelan dari balik kacamatanya. "Lo manggil gue dek?" Tanya Zee sinis,tidak terimalah ia di panggil dek. Usianya sudah mau duapuluh tahun tapi berasa seperti anak kecil di depan orang ini.


"Maaf mbak,kalau gitu saya panggil mbak aja gak papa?" Tanya resepsionis itu masih dengan nada ramah.

__ADS_1


Zee mengangkat bahu acuh,"Gue mau ke ruangan bang Vian,ruangannya dimana?"


Pertanyaan Zee membuat resepsionis di depannya menatap bingung. "Setahu saya di kantor ini gak ada yang namanya bang Vian mbak. Mungkin mbak salah alamat atau mungkin salah orang."


Zee merutuki kebodohannya,"Kok bang Vian sih,ya mana mungkin kenal. Ya kali mereka manggi dia abang di kantor,dikira jual siomay kali ah." Rutuk Zee dalam hati.


"Emm,maksud saya ruangan pimpinan kalian. Saya ada urusan di sana hari ini." Ujar Zee yang kini merubah bahasanya jadi lebih formal,menyadari orang di hadannya bukannlah temannya yang bisa ajak bicara 'gue lo'.


"Oh pak Davian,tapi maaf mbak. Beliau sedang tidak ke kantor hari ini,katanya dia izin beberapa hari ke depan. Dan selama beberapa hari ke depan, adik beliaulah yang akan menggantikan pekerjaannya. Tapi sepertinya adik pak Davian belum datang,yang sudah datang hanya pak Alfarrel asistennya pak Davian. Tapi mbak harus buat janji temu dulu jika mau bertemu dengan beliau,karna peraturannya seperti itu.


Zee melongo mendengar penjelasan panjang kali lebar di depannya ini. Bahkan ia sampai melepaskan kacamata hitam yang sedari tadi bertengger di hidung mancungnya.


Ucapan Zee sontak membuat resepsionis tersebut menelisik penampilan Zee dari atas ke bawah. Jaket denim warna hitam di padukan dengan kaos putih polos yang dimasukkan ke dalam, celana jeans sobek-sobek warna hitam dan sepatu sneakers putih. Penampilan tersebut mau digunakan ke kantor? Menggantikan Davian? Lalu bagaimana jika ada rapat mendadak? Resepsionis tersebut sampai geleng-geleng kepala,ia mendadak ragu jika orang di hadapannya adalah adik bosnya. Bisa jadikan ngaku-ngaku,makhlum zaman sekarang,orang tajir banyak fansnya. Apalagi Davian pintar,mapan,tampan lagi.


"Maaf ya mbak,saya tetap tidak berani menyuruh orang yang tidak di kenal masuk ke ruang presdir. Itu sudah peraturan mbak,jadi kalau memang ada keperluan mbak harus buat janji temu dulu. Lagian penampilan mbak ga meyakinkan,bisa aja mbak fansnya pak Davian yang ngaku-ngaku adiknya."


"What!! Fans?" Pekik Zee dalam hati,hampir saja Zee menampol kepala orang di hadapannya. Akhirnya dengan kesal ia merogoh HPnya untuk menghubungi Davian secara langsung. Namun sialnya tidak diangkat,Zee mencoba berkali-kali namun tetap tidak diangkat ingin sekali ia menerobos masuk tapi tidak mungkin juga. Bisa-bisa ia di seret satpam keluar lagi.


"Nona muda anda di sini?" Suara bariton yang keluar bersamaan dengan dentingan pintu lift membuat Zee dan resepsionis tadi menoleh berbarengan.

__ADS_1


Resepsionis tersebut menoleh ke sana kemari mencari orang yang di panggil oleh Alfarrel yang tak lain adalah asisten pribadi bosnya. Namun tidak ada orang di situ selain Zee.


"Kemana aja sih? Gue gak di bolehin masuk dari tadi!!" Lapor Zee geram,kakinya sudah hampir kesemutan berdiri di situ.


"Kenapa tidak langsung masuk menggunakan lift khusus. Tadi tuan muda menanyakan apakah anda sudah datang atau belum,jadi saya cek ke bawah ternyata anda di sini."


Lelaki berwajah dingin tersebut beralih pada resepsionis yang tampak salah tingkah sendiri. "Kenapa tidak menyuruh nona muda masuk ke ruangan presdir?" Tanya Alfarrel tegas.


Resepsionis tersebut lansung kalang kabut dan meminta maaf berkali-kali. Bahkan resepsionis cantik tersebut langsung keluar dari balik meja dan meminta membungkukkan badannya berkali-kali berharap Zee tidak akan marah.


"Sekali lagi saya minta maaf mbak,saya cuma jalanin tugas sesuai peraturan. Maaf ya mbak." Pinta perempuan itu sekali lagi.


"Gak papa,lo gak tau juga. Salah gue juga sih, berangkat ke kantor pakai pakaian kayak gini." Ujar Zee datar.


Dan resepsionis tersebut langsung bernapas lega, sedangkan Alfarrel hanya bisa menatap nona mudanya dengan aneh. Apalagi saat melihat penampilan nona mudanya yang kelewat santai.


"Dia ini mau bekerja atau mau pergi jalan-jalan." Rutuk Alfarrel dalam hati.


♡♡♡

__ADS_1


Guys sebenarnya ini ada lanjutannya,tpi aku gantung dulu sampe sini,soalnya kek ada yg ganjal gtu tdi. Terus aq ngetik jg gk fokus nih krna ngetiknya di kelas bkn di rumah. Dan temen2 berisik bet,jdi maaf ya ceritanya rada absurd dari bab sebelumnya jg absurd karna udh 2 hari ini aku ngetik di kelas mulu. Soalnya udh masuk sekolah,jd aq curi2 wakty bwt ngetik karna klau di rumah aq jarang smpt,capek jg kalau udh plng sekolah harus ngetik lg. Gitu lah pokoknya😁


__ADS_2