Story Of Azellea

Story Of Azellea
Sebenarnya Untuk yang Kesekian Kalinya


__ADS_3

"Ekhmm!! Begini pak,tujuan saya ke sini sebenarnya bukan hanya untuk melihat cara kerja kalian. Tapi saya merasa ada sedikit masalah yang janggal dengan proyek mall ini. Kalau menurut info yang saya dapat,proyek ini harusnya sudah berjalan dari dua bulan lalu. Tapi melihat kondisi banguna saat ini, entah kenapa saya merasa jika proyeknya justru terbangkalai. Gak masuk akal aja pak,kalau proyeknya udah dikerjakan dua bulan tapi gak ada perubahan dan hasil itu mustahil pak. Jadi tujuan saya mau menanyakan apa bapak tau kenapa ini bisa terjadi atau saya yang keliru info?" Tanya Zee panjang lebar dan to the point.


♡♡♡


Pria tersebut tampak menggaruk-garuk kepalanya seperti sedang gugup dan bingung. Namun Zee membiarkan saja sampai pria tersebut mau buka suara,setelah menunggu beberapa saat akhirnya pria tersebut mulai memindah posisi duduknya dari yang tadi menyamping berpindah berhadapan dengan Zee. Ia juga mulai berani mendongakkan kepalanya untuk menatap Zee sebelum berbicara.


"Jadi begini nona muda,sebenarnya saya sendiri juga merasa ada yang aneh dengan sikap manajer divisi pembangunan. Beliau jarang sekali datang ke sini untuk meninjau proyek kami,padahal pak Davian sudah menyerahkan kepercayaan sepenuhnya pada beliau. Lalu masalah dana,sejujurnya kami para pekerja mau protes karna pak Benu selaku manajer seperti sengaja membuat proses pembangunan berjalan lama."


" Kami di paksa berangkat kerja setiap hari tapi bahan material tidak lengkap,lalu kami mau mengerjakan apa. Kemarin beliau datang ke sini marah-marah dan bilang kami tidak serius bekerja padahal bukan salah kami. Ditambah lagi gaji kami kadang dibayar telah,kami juga bingung."


Pernah satu kali ada yang protes soal gaji pada pak Benu,tapi besoknya orang itu di pecat,bahkan pak Benu juga datangangin nyonya besar. Anehnya lagi nyonya besar kasih ancaman kalau masih ada yang protes soal gaji mereka,orang itu tidak hanya di pecat tapi keluarganya juga akan kena imbas. Itu juga bukan ancaman,soalnya beberapa hari setelah itu kami dengar kabar rumah pekerja itu habis dibakar. Jadi sejak saat itu kami cuma bisa diam,kerja gak jelas gini,mau keluar salah. Mau ke pak Davian juga kami gak berani ditambah beliau susah susah ditemui."


"Mungkin itu sebagian info yang saya tau,maaf nona muda kalau saya lancang membicarakan nyonya besar. Tapi asal nona tau,perusaan ini lebih seperti dibawah kendali nyonya besar dibandingkan tuan Davian. Saya hanya menyampaikan apa yang saya rasakan,kalau nona muda tersinggung nona boleh pecat saya. Saya memang mau keluar dari perusahaan ini. Saya kerja di sini untuk biaya hidup,tapi kalau gaji saya nyangkut-nyangkut saya makan apa nona. Tolong mengerti,saya masih punya anak dan istri di rumah,mohon nona tidak mempersulit saya."


Zee terenyuh saar mendengar curahan hati pria paruh di depannya ini. Kemana saja abangnya selama ini,apa saja yang sudah ia lewatkam sampai baru tau kalau Melissa sudah bertindak melampaui batas,bukan hal wajar lagi. Semuanya sudah berimbas kemana-mana dan Zee terlalu lama terpuruk dalam masalahnya dengan papanya,sampai-sampai ia sudah tertinggal ratusan langkah dari Melissa. Ibaratkan ia baru mulai di garis start,Melissa sudah hampir sampai di garis finis. Sungguh Zee kecolongan banyak hal,ia kalah licik,kalah strategi,kalah cepat,kalah tindakan jika dibandingkan Melissa.


Selama ini otaknya hanya di isi bagaimana cara agar ia bisa mengambil papa dan abangnya dari pengaruh Melissa,ia hanya memikirkan bagaimana cara mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari abang dan papanya. Tapi ia tidak berpikir jika Melissa tidak peduli tentang itu,jikapun nanti suatu saat William dan Davian sayang padanya,tapi tidak berguna yang Melissa dan Sassya inginkan bukanlah tentang ia yang dijauhi.


Tapi tentang harta mereka,kalau semuanya sudah hilang imbasnya bukan hanya tentang kepedulian papanya dan abangnya tapi keluarga yang mati-mati Zee bela juga akan menanggung malu. Kemungkinan besar papanya bangkrut terlilit banyak hutang,dan masih banyak kemungkinan lainnya yang baru saja terpikir di otak Zee.

__ADS_1


Jikapun seandainya Zee bersatu dengan William dan Davian,tapi jika semua milik mereka sudah dikuasai oleh Melissa dan Sassya tetap saja sia-sia perjuangan Zee. Memang nanti William dan Davian mampu menanggung dampak dari perusahaan mereka yang sudah tersebar dimana-mana,belum lagi ribuan karyawan yang menggantungkan nasib mereka pada William.company,entah bagaimana nanti papanya akan bertanggung jawab,tentu saja tidak mudah bahkan mustahil.


Sadar dampaknya sebesar itu,Zee jadi merutuki kebodohannya yang baru bisa menghubungkan semua rencana licik Melissa. Jadi selama ini ia hanya terjebak misi balas dendam atas kematian mama dan neneknya sampai tidak sadar jika ada trik lain dari permainan lawannya."


"Nona muda anda baik-baik saja?"


"Nona muda!!"


"Eh? A..apa?" Tanya Zee sedikit kaget,ia terlalu termenung barusan.


"Anda baik-baik saja? Maaf kalau ada kata-kata saya yang menyinggung nona muda barusan." Ujar pria tersebut merasa tak enak. Apalagi melihat Zee yang langsung melamun setelah mendengar ceritanya tadi.


Namun Zee buru-buru menggeleng,justru ia yang tak enak hati sudah membuat oranglain merasa bersalah karna tingkahnya,jadi Zee juga ikut minta maaf. Entahlah,tidak tahu kenapa makin ke sini,hati Zee seperti makin sensitif,paling tidak bisa melihat orang lain memohon,tidak bisa melihat orang lain susah, mudah sekali dibujuk dengan kata-kata manis terutama jika teman-teman dan abangnya yang menyuruhnya ia pasti langsung luluh. Pribadi cuek yang dulu ia junjung setinggi-tingginya perlahan menguap saat ia membuka diri pada dunia luar.


♡♡♡


"Zee!! Kamu mau bagi-bagi bansos?" Tanya Arkhan begitu sampai ke tempat Zee yang tengah duduk di atas kursi plastik di bawah pohon akasia yang berada di sisi bangunan.


Zee hanya tertawa kecil melihat Arkhan yang tampak kesusahan membawa kantong tadi. Tak lama Zee menyuruh salah satu pekerja memanggil pekerja lainnya,kemudian terjawablah pertanyaan Arkhan tadi. Karna selanjutnya Zee langsung membagi-bagikan semua makanan yang tadi ada di dalam kantong tersebut pada semua pekerja.

__ADS_1


Tak hanya itu Zee juga memberi uang untuk ongkos pulang pada masing pekerja sejumlah dua ratus ribu. Tidak terlalu besar memang nominalnya,karna hanya itu yang Zee pegang. Ia jarang membawa uang case,itu saja uangnya masih kurang,dan berujung Arkhan lah sasaran untuk memberi dana tambahan pada CEO kere yang notabene pacarnya itu.


♡♡♡


"Kayaknya nanti aku harus minta ganti rugi deh sama abang kamu. Masa karyawan dia,aku yang ikut bayar, dia enak-enakan tuh jalan sana sini sama Clara. Kamu juga satu mau aja di suruh dia gantiin dia megang perusahaan. Ngerjain kamu deh dia kayaknya." Omel Arkhan saat keduanya sudah berada di dalam perjalanan pulang.


"Lo gak ikhlas gitu? Tapi kan gue bilang mau ganti,lagian masalah gantiin bang Vian itu memang maunya gue. Jadi gak usah salahin bang Vian."


"Aku kamu Zee!! Kita itu pacaran,bukan temenen." Ralat Arkhan tak suka dengan gaya bicara Zee.


"Kita pacaran,belum nikah. Gue lo lebih baik dari aku kamu."


Arkhan hanya mendengus kasar dengan sikap keras kepala Zee. Jika urusan membantah ucapan dia memang jagonya.


"Terserah deh!! Tapi aku bakalan ngomong aku kamu,biar gak kasar kesannya. Satu lagi,besok hari terakhir kamu kerja kan?"


"Iya,kenapa?"


"Gak papa,cuma seneng aja akhirnya bisa bebas ketemu kamu di kampus tanpa kehalang waktu karna kamu sibuk kerja."

__ADS_1


"Tapi besok cuma batas waktu dari bang Vian,bukan dari gue. Kalau dari gue maunya di perpanjang. Jadi mungkin besok bukan hari terakhir,gue lagi betah kerja." Jawab Zee santai namun berhasil membuat Arkhan ngerem mendadak.


"Ngomong apa barusan?"


__ADS_2