Story Of Azellea

Story Of Azellea
Merasakan Diomeli Mama


__ADS_3

Setelah tragedi cakar-cakaran tadi siang. Zee,Agatha,Clara,Delice,Arkhan, Davian,Nathan,dan Kaivan sedang dalam perjalanan pulang ke rumah keluarga Ivander. Bukan tanpa alasan mereka ke sana melainkan karna kemauan Zergan.


Cowok itu tadi datang sambil mengomeli adik bungsunya yang sudah awut-awutan seperti gembel. Ia bahkan sampai meninggalkan Nadya pacarnya di kelas sendirian membuat cewek itu geram dan mereka bertengkar,namun Zergan tak peduli itu. Ia justru lebih peduli dengan adeknya yang mendadak jadi brandal saat ini.


"Bang!! Lo beneran mau bawa gue pulang dengan kondisi awut-awutan gini?" Tanya Delice ketar ketir.


"Kalau gue diomelin ayah sama bunda gimana?"


"Tenang aja,ada Arkhan yang bakal nemenin lo." Jawab Zergan datar.


Arkhan yang mendengar namanya ikut di sebut kembarannya itu mendadak bingung." Kok gue bang? Emang gue ngapain?"


"Elo harusnya jagain Elis biar gak berantem. Tapi apa? Liat kondisi Elis sekarang,udah kayak pasien rumah sakit jiwa tau gak!!"


"Tapi kan bukan salah Ar,coba lo bayangin kalau lo di posisi Elis. Tu ulat kekek cari masalah sama dia, wajarlah dia balas. Sebagai kakak gue sangat mendukung walau kondisi Elis bonyok."


"Lo sekalian ngeledikin gue?" Tanya Delice sinis,Arkhan hanya menyengir.


"Harusnya tadi lo sama Zee dan yang lainnya itu pergi. Gak usah ladenin mereka,gak akan habisnya dek!!" Omel Zergan lagi.


"Kok lo jadi bawel kayak bunda sih!!"


Geram Arkhan dan Delice kompak.


"Lo lupa gue anaknya?" Tanya Zergan datar. Membuat Delice dan Arkhan memutar bola mata malas. Zergan itu posesif,jadi berdebat dengannya di saat seperti ini tidak akan ada gunanya.


♡♡♡


"Udah sampai nih,kalian berdua mau turun sendiri atau gua seret?" Tanya Zergan saat sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah keluarga Ivander.


Delice dan Arkhan mengerjab pelan. Kemudian melihat keluar jendela tampak mobil teman-temannya juga sudah terparkir rapi,dan pemiliknya pun sudah turun. Tinggal mereka bertiga yang belum keluar.


"Ceklek.." Pintu rumah terbuka bersamaan dengan Marsha bunda Delice yang keluar dengan senyum ramahnya.


Arkhan dan Delice merasakan aura negatif saat keduanya membuka pintu mobil. Keduanya bahkan meneguk ludah susah payah takut nanti sang bunda mengeluarkan sapu ijuk andalannya.


"Keluar cepetan!! Masa tamu duluan yang masuk ke dalam rumah. Tuan rumahnya malah nyangkut di mobil." Suruh Zergan sambil melongokan kepalanya ke kursi penumpang. Dengan mempersiapkan nyawa cadangan keduanya keluar menghampiri Marsha yang masih berdiri di depan pintu menyapa Kaivan. Karna memang Kaivan dikenal baik oleh keluarga Ivander,makhlum dia sahabat Arkhan.

__ADS_1


"Loh,kalian ini baris-baris kayak gini ngapain? Kayak ngantri sembako gitu." Canda Marsha pada teman-teman anaknya yang tampak berbaris rapi di hadapannya.


"Bunda..." Sapa Delice dengan setengah berlari sambil menarik tangan bundanya untuk di salami kemudian dengan langkah seribu ia berlari ke belakang Zee,sebelum bundanya menyadari penampilannya.


"Kalian kenapa sih?" Tanya Marsha heran,"Agatha? Clara? Penampilan kalian kenapa?"


Agatha yang berada di depan Clara kicep saat harus menjawab pertanyaan Marsha."A..anu..tante..i..itu,k..kita tadi..ee itu,eh apa..."


"Mereka abis berantem bun,bunda liat aja kondisi adik bungsu kesayangan Arkhan itu." Tunjuk Zergan pada Delice yang makin menyembunyikan tubuh munggilnya di balik tubuh Zee. Namun tetap saja keliatan karna badannya dan Zee hampir sama. Sama-sama munggil.


Marsha mengerjab pelan mendengar ucapan putra sulungnya itu. "Apa kamu bilang,Elis berantem?" Tanyanya lagi. Zergan mengangguk sok polos.


"Delice Aurora Ivander!! Sini kamu!! Bunda mau lihat wajah hebat kamu yang udah berani buat onar di kampus." Teriak bunda Delice membuat Kaivan yang berada di barisan paling depan memundurkan tubuhnya ke belakang hingga berada di samping Zee kemudian menggenggam tangan gadis itu erat. Arkhan yang melihat itu melotot tak terima. Dengan segera ia berjalan menghampiri mereka bertiga. Namun langkah tertahan saat bundanya sudah berada di belakangnya sambil menarik telinganya dengan kuat.


"Mau kabur kamu? Kamu juga gak becus jagaian adek kamu!! Gimana bisa kamu biarin dia berantem!!" Bentak Marsha geram pada putra tengahnya itu.


"Bunda sakit tau!! Lagian bukan cuma Ar kok yang terlibat. Kita semua terlibat,bang Zer juga udah tau kita lagi berantem dia malah jalan sama pacarnya. Jadi dia salah juga." Alibi Arkhan sambil berusaha melepaskan telinganya yang terasa kebas.


"Apa kamu bilang? Kalian semua berantem? Memang siapa lawan berantemnya?"


"Sassya tante!! Gara-gara dia kita kayak gini." Ujar Agatha menyela. Namun bukannya mereda amarah Marsha menjadi-jadi.


"E..enggak gitu maksudnya bunda, dia sama anak gengnya. Delice sama teman-temannya. Kita cuma supporter kok!!"Arkhan mencoba mencairkan suasana.


"Supporter lo bilang? Enak aja lo jadiin kita kambing hitamnya. Lo juga terlibat tau!! Lo lupa lo hampir ngelempar kursi ke Sassya tadi?" Seru Delice keras.


Mata Marsha tambah melotot mendengar ucapan anak bungsunya.


"Kalian semua main kasar? Kalian mau jadi apa hah? Gimana kalau tadi ada anak orang yang meninggal. Kalian mau masuk penjara?"


Delice langsung membungkam mulutnya sendiri. Bola matanya bergerak kesana kemari menghindari kontak mata dengan bundanya yang sudah menjadi raksasa OCD.


"Mama tau kalian gak mungkin beranten,kalau mereka gak mulai duluan. Tapi main kasar bukan solusi yang baik. Kalian itu masih remaja, tindakan kalian bisa saja jadi tindakan bullying jika mereka sampai melaporkan ke pihak berwajib."


"Untuk kalian bertiga,bunda ada hadiah,nanti malam. Tapi buat sekarang bunda ada hukuman buat kalian semuanya,jangan berpikir kalau bunda bakalan ngelepasin kalian. Bunda mau...."


"Nyah!!" Teriak seorang wanita paruh sambil berlari-lari keluar menghampiri Marsha yang tengah menjadi hakim di situ.

__ADS_1


"Kenapa bi?"


"Itu nyah,di dalam tuan telepon. Nanyain nyonya mau dibawain hadiah apa dari Malaysia."


"Ayah yang telepon?"


"Iya nyah,teleponnya belum bibi matiin. Tuan masih nunggu di dalam,soalnya tadi nelpon ke nomor nyonya gak diangkat."


Dengan mata berbinar-binar Marsha beranjak masuk ke dalam. Namun kembali keluar lagi saat teringat sesuatu,"Kalian tunggu di sini!! Bunda angkat telepon dulu,awas berani kabur."


Ancam Marsha sebelum masuk,ia bahkan menggerakkan dua jarinya layaknya anak orang yang mau mencolok mata sebagai tanda mengancam.


"Fyuhh,lega..." Lirih Delice saat Melihat bundanya sudah masuk ke dalam. Untuk saja Ayahnya menelpon tadi,Delice bahkan baru ingat jika Ayahnyanya masih di Malaysia dari dua hari lalu untuk urusan bisnis. Jadi Ayahnya bisa jadi penyelamatnya. Apalagi mamanya paling rempong jika soal oleh-oleh.


"Kita nungguin di sini nih?" Tanya Arkhan tiba-tiba,membuat semuanya menoleh ke arahnya.


"Kenapa emangnya,bukannya bunda lo nyuruh nunggu disini?" Tanya Davian polos. Seumur-umur ia hidup baru kali ini ia merasakan menjadi anak normal yang punya ibu untuk mengomeli mereka,jadi ia malah penasaran ingin tau apa yang nanti dilakukan nonya Ivander itu pada Mereka. Jangan lupakan jika ia dan Zee kehilangan mamanya saat masih kecil. Jadi wajar jika ada beberapa hal yang tidak mereka rasakan layaknya anak-anak dari keluarga normal pada umumnya.


"Gila aja kita nunggu di sini, bisa di ngab kita sama bunda gue. Atau lebih parahnya bunda bakalan nyuruh kita berbuat konyol dengan sapu ijuk andalannya. Kapok gue di suruh nyapu taman padahal gak ada daun yang jatuh. Masa bunda bilang kita harus nyapu sampai tamannya gak berdebu. Kan aneh!!" Gerutu Arkhan mengingat hukuman konyol yang pernah bundanya beri.


"Ya udah tunggu apalagi,kita kaburlah sekarang. Mumpung ada waktu,gue rasa gak lama lagi tante Marsha pasti keluar." Ujar Agatha harap-harap cemas.


Semua saling bertatapan was-was satu sama lain. Hanya Zee dan Davian yang tampak santai,seolah ancaman Marsha tadi hanya gurauan bagi mereka berdua. Jadilah karna geram Arkhan langsung membopong tubuh munggil Zee seperti karung beras dan memasukkannya ke dalam mobil, kemudian dirinya juga masuk ke dalam dan langsung menyalakan mesin mobil bersiap pergi.


Begitupun dengan Clara yang langsung menarik Davian dan memasukkan secara paksa kedalam mobil Davian sendiri,membuat Davian melongo.


"Kenapa aku jadi kayak anak kecil gini?" Tanya Davian pada Clara dengan raut wajah protes.


"Diam!! Mau aku lakban mulut kamu?" Ancam Clara garang, membuat Davian mengangkat kedua tangannya ke udara dengan cepat sambil menggeleng-geleng.


"Ya udah diam,biar aku yang bawa mobil!!" Ujar Clara lagi kali ini nada bicaranya lebih tegas.


Akhirnya kesepuluh calon anak durhaka itupun pergi meninggalkan rumah keluarga Ivander,bersamaan dengan Marsha yang baru keluar dengan sepuluh sapu ijuk di tangannya.


Terlihat Marsha melambai-lambai meminta mereka kembali,namun tidak ada satupun yang menggubris.


Zee yang melihat Marsha berteriak-teriak di depan pintu, langsung menatap Arkhan dengan tatapan sinis. Lalu berkata dengan nada datar.

__ADS_1


"Lo barusan ngajarin gue cara jadi menantu durhaka!!" Ucap Zee sambil memalingkan wajahnya ke luar jendela,mata Arkhan awalnya melotot kaget,namun sedetik kemudian ia tersenyum senang.


"Ciye....yang sekarang udah jadi pacar gue!!" Ledeknya membuat pipi Zee memerah. Ucapannya Zee barusan memang secara tidak langsung sudah menjawab ungkapan perasaan Arkhan yang selalu meminta Zee menjadi pacarnya. Artinya juga secara tidak langsung Zee menyetujui dirinya sendiri untuk berpacaran dengan Arkhan lewat ucapannya tadi.


__ADS_2