
Di sinilah Davian sekarang,dengan wajah datarnya namun berbeda dengan hatinya yang sedang gusar setengah mati.
Ia kini tengah berdiri di depan toko pakaian dala wanita,guna membelikan Zee bra dan dalaman. Rasanya ia ingin membunuh orang saat ini,terutama Arkhan. Pria itu bahkan seperti hilang ditelan bumi.
"Shitt!! Kok gak kepikiran dari tadi sih!!" Umpat Davian geram. Ia baru ingat jika ia punya pacar,kenapa dari tadi ia tidak meminta bantuan Clara saja.
Dengan segera ia merogoh saku jaketnya dan mengambil handphonenya. Kemudian menghubungi Clara.
"Kenapa kak?" Tanya sang pacar di sebelah sana. Clara memang masih memanggi Davian kakak begitupun dengan Davian yang memanggilnya Clara,kadang saja ia memanggil sayang.
"Kamu dimana? Kenapa bisik-bisik gitu?"
"Di kelas!! Lagi ada dosen!! Udah dulu ya kak!!"
"Tut..tut..tut..."
Telepon dimatikan begitu saja oleh Clara membuat Davian mengumpat kesal."Sialan nih cewek!! Untung pacar gua!!" Gerutu Davian geram.
Akhirnya dengan langkah gontai ia masuk kedalam toko pakaian tadi.
"Mbak saya mau nyari bra buat adek saya,bisa tolong antarkan?" Tanya Davian gugup. Pelayan toko tadi menatap Davian dari atas sampai ke bawah sambil tersenyum kecil membuat Davian gedek sendiri.
"Ada gak?" Tanya Davian ketus.
"Oh,eh...ada kok Mas. Mari ikut saya,emm itu mas ukuran bra adiknya berapa ya mas?"
"Ukuran?"
"Iya,mas ukuran. Biar saya bisa cari yang pas. Takutnya nanti malah kekecilan atau kegedean."
Davian mengerjab beberapa kali. Sesulit itu ternyata mencari bra untuk cewek. Ia jadi geram sendiri,mau menelpon Zee tapi ia sedang ngambek dengan adik lucknatnya itu.
Akhirnya setelah di pikir-pikir,timbul juga ide di benaknya."Mbak bisa liat di foto ini gak? Ini foto adik saya, kira-kira ukurannya berapa. Mbak kira-kira aja deh." Ujar Davian sambil menyerahkan ponselnya pada pelayan toko.
Beruntung pelayan toko itu paham, jadi Davian sedikit terbantu dan tidak perlu repot-repot menghubungi Zee.
"Makasih ya mbak!!" Ujar Davian sebelum keluar toko.
Pelayan tersebut mengangguk sopan.
"Iya mas,lain kali kalau mau beli bra lagi jangan lupa tanya ukurannya sama adeknya!!" Ujar pegawai toko tadi setenga berteriak. Davian langsung misuh-misuh karna suara pegawai toko tadi memancing orang-orang melihat ke arahnya.
"Gue sumpahin masuk neraka jalur VIP lo dek!!" Umpat Davian saat sudah sampai dalam mobil.
♡♡♡
"Noh!! Pakai sekarang,habis ini kita ke rumah papa." Suruh Davian begitu sampai di ruangan sang adik.
__ADS_1
Zee yang sedang rebahan di sofa,mendongak kaget saat sebuah paper bag mendarat di atas dadanya.
Mata Zee melotot kaget setelah membuka paper bag dan mengeluarkan isinya."Beneran lo beli bang?" Tanya Zee tak percaya.
"Bukannya makasih,malah melotot gitu. Adek lucknat lu!!"
"Hehe,maaflah. Lagian siapa suruh mata-mata lo pada natap gue mesum kayak tadi? Lagian kan salahnya si Sassya juga. Dikira badan gue bakso pake disiram saos segala." Zee kembali emosi mengingat betapa tidak berdayanya ia ketika di siram saos tadi.
"Kita kerumah papa sekarang." Ujar Davian dingin sambil menarik tangan Zee. Ia kembali emosi begitu mendengar Zee menyebut nama adik tiri kebanggaannya dulu.
"Tunggu dulu ceunah!! Gue belum pake bra!!" Ujar Zee greget,Davian salah tingkah sendiri dibuatnya.
"Buruan!! Gua tunggu lo di mobil." Ujar Davian yang langsung keluar dari ruangannya menuju parkiran.
♡♡♡
Sekitar jam 4 sore keduanya sampai di mansion keluarga William. Sebelum turun Zee menoleh sebentar pada Davian."Bang,papa di rumah emangnya?"
"Di rumah kok,gue udah kabarin dia kalau kita mau ke sini."
Zee membulatkan matanya kaget.
"Lo udah kasih tau gue berantem sama Sassya?"
"Gak!!"
"Ckk,makin ke sini kok lo makin bawel ya!! Turun aja dulu,tenang aja gue yang bakal ngomong sama papa."
"Hm"
Davian menoleh sinis sambil membuka safebelt. Baru di omelin dikit langsung keluar sifat dingin Zee.
Davian dan Zee masuk ke dalam mansion dengan langkah tegas. Aura dingin langsung muncul di wajah dua kakak beradik itu.
"Loh Vian? Zee? Kalian pulang?" Sapa Marissa yang tengah berada di ruang tamu dengan wajah heran.
"Papa mana ma?" Tanya Davian dingin tanpa menjawab pertanyaan Marissa.
"Di ruang kerjanya,mau mama panggilin?"
"Gak usah!! Vian sama Zee kesana sendiri!! Mama panggilin Sassya,suruh susul kita kesana. Dia udah pulangkan?"
"Oh..eh..iya udah tadi. Penampilannya berantakannya banget. Mama tanya kenapa gaj di jawab sama dia."
"Suruh dia ke ruangan papa sekarang." Lagi-lagi Davian mengacuhkan Marissa,bahkan ia dan Zee meninggalkan Marissa yang belum selesai berbicara dengan acuhnya.
"Bocah aneh!!" Geram Marissa tertahan.
__ADS_1
♡♡♡
"Sassya buka pintunya!!" Teriak Marissa di depan kamar sang anak.
"Ceklek!!" Pintu di buka menampakkan Sassya yang keluar dengan wajah malasnya.
"Ngapain sih ma? Sassya capek mau tidur ini."
"Tidur terus kerja kamu!! Kamu tau gak mama barusan ketemu siapa?"
"Gak taulah,orang aku dari tadi di kamar. Mama pikun ya?"
"Bodoh!! Mama ketemu Zee sama Davian!!"
"Ya terus?"
"Sassya anak mama,kamu itu kenapa bisa sesantai ini sih? Kamu tau gak gimana sikap Davian ke mama tadi hah? Dia ngacuhin mama,mana pernah dia gitu sebelumnya!! Kamu buat masalah sama dia hah? Atau sama Zee? Kamu bertindak tanpa mama?"
Mata Sassya membulat kaget,rasa kantuk di pelupuk matanya mendadak hilang."Mama tadi aku berantem sama Zee di kampus. Aku lukain Zee dan Davian tahu. Bahkan seluruh anak kampus! Gimana ini ma??" Ujar Sassya panik.
"Pletak!!" Marissa menyentil jidat anak semata wayangnya itu."Kalau bodoh bisa dikurangin dikit gak!! Kenapa sih kamu seceroboh itu Sassya. Kamu bisa rusak rencana mama bodoh!! Kenapa kamu gak sabaran banget sih!! Kamu pikir kita mau lari kemana nanti kalau sampai rencana kita terbongkar semua? Kamu mau hidup miskin?"
"Gak ma,maaf aku salah!! Aku harus gimana dong?"
"Bodoh kamu Sya!! Kalau aja terkadang kamu gak berguna udah mama buang kamu dari kecil. Sekarang liat karna perbuatan kamu, kamu ditungguin sama papa,Davian dan Zee di ruang kerja papa kamu. Mau jelasin apa kamu nanti? Bisa kamu jamin kita gak di usir dari rumah?"
"Mah!! Bantuin Sassya."
"Ckk..ngerepotin aja!! Pokoknya kamu kesana dulu!! Biar mama pikiran cara gimana supaya keluarga bodoh itu gak ngusir kita dari rumah."
Dengan langkah seribu Sassya berlari ke ruang kerja sang papa. Ia gugup setengah mati membayangkan apa yang akan di lakukan mereka atas kecerohannya tadi.
♡♡♡
"Papa boleh Sassya masuk?" Tanya Sassya hati-hati dari depan pintu ruang kerja William.
"Kemasi barang-barang kamu!! Dan pergi dari rumah Sassya!!"
♡♡♡♡
Lanjut gak? enggak? yaudah wkwkw
Becanda gue,becanda!!
Btw like vote komennya dong.
Aku kangen nih kalian spam like kayak beberapa hari yang lalu. Jadi kasih like ya jangan pelit-pelit sama pacar keduanya babang Vian wkwkwk😂😂
__ADS_1