
Sekitar jam 8 malam Davian datang ke kamar Zee,untuk mengajak gadis itu makan malam. Sebenarnya Zee malas sekali harus makan malam dengan kehadiran William di apartemen mereka. Karena hal itu justru mengingatkan Zee pada masa lalu,dimana dulu meja makan adalah tempat dimana ia dan papanya sering ribut,dan berakhir dengan tamparan di wajahnya.
Hal itu sering terjadi,bahkan ketika Zee sedang tidak ingin ribut dengan papanya. Pasti ada saja yang membuat ia dan papanya harus bertengkar saat mereka makan bersama,mengingat hal itu membuat Zee semakin malas beranjak dari kamarnya.
Namun karena saat ini dirinya juga sudah lapar tak urung Zee akhirnya memaksakan diri untuk mengikuti Davian keluar untuk makan malam. Apalagi saat ini situasinya sudah berbeda,papanya yang datang ke situ untuk mengunjungi mereka,bahkan malam ini papanya sendiri yang memasak makan malam untuk mereka. Bukan koki seperti biasa saat ia berada di rumah. Tidak ada Sassya ataupun Melissa yang bisa menjadi pemicu pertengkaran mereka.
Mengingat hal itu,sedikit membuat Zee senang. Apalagi beberapa bulan terakhir semenjak pertengkaran hebat ia dan papanya,hingga dirinya masuk rumah sakit,sikap papanya sudah mulai berubah. William sudah mulai kembali menjadi papa yang hangat,tidak hanya pada Sassya dan Davian,tapi juga pada dirinya.
...****************...
"Nah.....ini nih,yang ditunggu-tunggu dari tadi. Coba kamu lihat,papa masak apa malam ini? Kamu suka ini kan? Dulu papa sering dengar kamu suruh bik Ijah masakin kamu sotong kan?"
"Dan sekarang,papa sendiri yang masakin buat kamu. Ada sotong saus tiram,ada sotong bakar,sama tumis sotong pedes. Lalu buat Davian papa,karena dia suka udang,papa masakin dia udang goreng tepung,sama sambal udang saus tiram."
Jelas William panjang lebar,sambil menata satu persatu makanan ke atas meja. Kemudian melepaskan apron dan kembali beranjak mengambil piring untuk ketiganya. Sedangkan Zee hanya melongo melihat ada hidangan yang sudah memenuhi hampir separuh meja makan mereka.
Sebenarnya jika hanya hidangan untuk ia dan Davian tidak sebanyak itu,tapi ternyata ada beberapa makanan lagi yang papanya siapkan di situ,bahkan ada tumis kangkung ,tempe goreng,sambal tomat,dan nasi goreng,beberapa makanan sederhana,yang seingat Zee dulu bik Ijak pernah memberi tahunya jika itu adalah makanan kesukaan mendiang ibunya.
Belum selesai sampai di situ,papanya kembali mengeluarkan puding dan brownis coklat yang sepertinya akan jadi makanan penutup bagi mereka nantinya.
__ADS_1
"Lo gak kepikiran buat habisin semuanya kan dek?" Goda Davian pada Zee yang tampak melongo dengan mulut sedikit terbuka saat melihat semua makanan yang sudah tertata di hadapannya. Bahkan ia sampai lupa duduk,padahal abang dan papanya sudah bersiap dengan piring masing-masing."
"Gua gak serakus itu,Davian!!" Tekan Zee di akhir kalimatnya.
"Masa? Bukannya waktu itu ada yang makan pakai porsi jumbo di restoran? Gua bahkan cuma minum soda,sedangkan lo menghabiskan hampir sebaki makanan? Jadi...."
"Tapi itu bukan nasi,itu burger,dan gua gak habisin semuanya. Lo pikir gua sapi." Tuding Zee geram.
"Lo gak habisin semuanya,karena waktu itu gua ngajak lo pulang dan buktinya lo ngomel karena masih lapar. Gua jadi paham kenapa lo bukan sapi,tapi lo lebih rakus dari itu,lo ce...le..."
"Gua siram saos tiram ke muka lo!!" Geram Zee sambil mengangkat semangkok sotong saus tiram yang baru saja mau ia masukkan ke piringnya.
"Sudah-sudah,kenapa kalian malah ribut sih. Biarin aja kalau Zee mau makan banyak. Sekali-sekali makan banyak itu gak masalah. Asal diimbangi. dengan olahraga teratur." Tegur William sekaligus menasehati.
"Apa liat-liat!!" Sentak Zee garang,membuat William langsung menoleh ke arah Davian yang menjadi tersangka kemarahan Zee. Sedangkan Davian yang di tatap malah pura-pura tersedak dan langsung meneguk minuman di sampingnya. Namun naasnya,itu malah minuman milik Zee.
"Bang lo mau gua lempar dari balkon?" Geram Zee saat melihat air minumnya hampir habis diminum Davian.
"Gak sengaja dek,namanya juga keselek. Nih air minum gua masih,baru,baru sekali teguk maksudnya." Ujar Davian dengan tak berdosanya menyerahkan minumannya pada Zee. Karena malas menanggapi Davian yang tampaknya makin menggila menjahilinya. Dengan berat hati Zee mengambil minuman milik Davian dan meneguknya dengan kasar. Untung itu abangnya,jika orang lain sudah Zee tusuk dengan pisau dapur mungkin.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Makan malam sudah selesai,baik Davian,Zee dan William sama-sama membereskan piring-piring kotor dan Zee bertugas untuk mencucinya,ya walaupun masih dibantu Davian sebagai tukang bilas yang lebih banyak merecokinya daripada membantu.
Setelah selesai membereskan meja makan,ketiganya duduk di ruang tamu sembari mengobrol ringan. Lebih tepatnya untuk Davian dan William karena Zee hanya menyimak dan hanya merespon pendek sesekali. Jika memang pertanyaan itu tertuju untuknya. Sampai akhirnya William mengalihkan obrolan mereka pada perusahaan milik Davian yang juga cukup berkembang saat ini.
"Jadi gimana? Papa dengar kamu bangun mall di jalan X. Kapan peresmiannya,siapa tau nanti setelah mall nya jadi ,papa bisa tertarik untuk investasi ke situ." Goda William pada putra sulungnya itu.
"Papa lupa,sekarang CEO baru di perusahaan Vian itu Zee. Papa tanya aja sama dia,dia yang sekarang ngawasin projeknya." Jawab Davian,sengaja agar Zee mau berbicara dengan papanya.
Zee yang sebenarnya sadar maksud Davian ingin mendekatkan ia dan William ,mau tak mau ikut mengobrol juga. Sambil menghela napas pendek Zee menjawab jika proyek yang dibangun hampir rampung. Walau ada sedikit kendala yang sengaja tidak Zee sebutkan walau awalnya Davian mendesaknya untuk memberitahu. Namun dengan yakin Zee mengakatakan jika semuanya sudah ia bereskan.
Karena memang begitu adanya,Zee menguras banyak uang tabungannya untuk menutupi kerugian Davian. Bukan karena tidak mau meminta bantuan Davian atau memberitahu Davian jika selama ini Melissa turut campur dalam penggelapan dana perusahaan Davian dengan bantuan manajer keuangan di perusahaan Davian. Namun karena Zee juga belum punya bukti lengkap saat ini.
Hanya saja Zee yakin,dengan rencananya mengirim seseorang untuk menguntit kegiatan Melissa di singapura,semuanya akan selesai. Begitu nanti Melissa kembali,Zee pasti sudah memegang bukti lengkap yang siap ia pertontonkan sebagai tanda "Game Over"
"Sedikit lagi..." Batin Zee sambil tersenyum kecil. Sebelum akhirnya memilih pamit ke kamar dengan alasan belajar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sedikit lagi guys,jangan lupa like,vote,komen.
4 atau 5 efisode lagi SOA bakalan tamat. Terimakasih masih setia membaca dengan kondisi aku yang upnya timbul tenggelam😇