
Keesokan harinya Zee berangkat ke kampus lebih awal dari hari-hari sebelumnya. Hari ini ada hal yang harus Zee perbaiki dan Zee luruskan pada seseorang. Hampir limabelas menit lamanya Zee menunggu di dalam kelas. Akhirnya sesosok manusia yang sedari ia tunggu datang juga.
"Delice tunggu!" Zee mencekal pergelangan Delice saat gadis itu hendak duduk du kursinya.
"Kenapa Zee?" Tanya Delice dengan nada heran.
Zee mengernyitkan kedua alisnya dengan raut bingung sekaligus lega. Ia kira setelah kejadian semalam Delice akan marah-marah atau malah menganggapnya musuh. Tapi ternyata sikap gadis itu masih normal seperti biasanya. Syukurlan,Zee jadi lega.
"Zee? Kenapa diam?"
Zee menggeleng pelan."Gue kira lo marah." Ujar Zee to the poin.
Kini giliran kening Sassya yang berkerut."Marah kenapa? Emang lo buat salah?"
"Maybe? Kai kecengan lo kan?"
"Oh tentang ini rupanya." Batin Delice.
"Darimana lo tau?"
"Sassya."
"Ohhh,tapi lo tenang aja gue gak marah sama sekali kok. Semalam memang gue sempet nangis,tapi bukan karena gue marah sama kalian gue cuma kesal karena gue gak seberuntung lo yang bisa berada dalam pelukan Kai." Ucap Delice lirih perlahan bulir bening mengalir lagi dari kedua bola matanya.
"Eh kenapa lo nangis?" Kaget Zee.
Di belakang Zee ada Clara dan Agatha yang baru saja datang. Mereka ikut heran saat melihat Delice menangis.
"Zee,lo apain sahabat kita." Bentak Agatha dari belakang membuat Zee kaget.
"Gue gak ngapai-ngapain." Jujur Zee.
__ADS_1
"Terus kenapa dia nangis?" Tanya Clara ikutan heran.
Delice segera menghapus air matanya dan menatap kedua sahabatnya sambil menyengir.
"Gue bukan nangis karena Zee gue cuma nangisin Kai kok. Beberapa hari yang lalu brownies buatan gue di tolak lagi sama dia lengkap dengan perasaan gue. Ditambah lagi sama kejadian semalam,gue sedikit sakit hati." Ujar Delice dengan sangat amat jujur.
Agatha dan Clara langsung menghela napas berat. Bagi mereka cerita Delice ini sudah sangat amat familiar untuk di dengar. Sedangkan Zee,gadis itu kini tengah melongo mendengar ucapan Delice.
"Lo udah pernah nembak Kai?" Tanya Zee memastikan.
Delice mengangguk namun sedetik kemudian kedua tangannya menangkup di depan Zee dengan kepala tertunduk seperti orang sedang yang memohon.
"Maafin gue ya Zee. Gue gak tau kalau Kai itu pacar lo,Kai gak pernah bilang kalau dia punya pacar Kai cuma nolak gue selama ini dan gue juga gak tau kalau lo ternyata pacarnya Kai. Gue gak berniat ngerusak hubungan kalian kok. Dan kedua gue juga tulus kok mau temenan sama lo bahkan setelah gue tau lo pacarnya Kai gue tetap mau temenan sama lo. Tapi izinan gue buat tetap mencintai Kai. Ya Zee ya,please!!"
Delice kini berubah menatap Zee dengan puppy eyes miliknya. Zee dibuat semakin melongo melihat tingkah Delice.
"Kayaknya lo perlu di bawa ke rumah sakit deh Liz,serius gue anter." Ujar Agatha frustasi melihat kelakuan sahabatnya yang sangat amat memalukan.
"Tadi lo bilang lo ngejar Kai selama ini. Emang lo udah di tolak berapa kali sama Kai?" Tanya Zee memastikan.
"Berapa kali ya?" Gumam Delice sambil mengusap dagunya seolah tengah berpikir.
"Nah gue ingat sekarang. Kalau di hitung dari zaman SMA,kayaknya Kai udah nolak gue sebanyak empat ribu sembilan ratus sembilan puluh satu kali Zee. Gimana? Banyak banget kan? Wajar sih,orang pacar dia aja secantik elo. Makanya sekarang gue harus berjuang jadi lo biar Kai tertarik."
Delice mengatakan hal itu tanpa malu sedikitpun dan lagi-lagi hal itu mampu membuat Zee melongo."4991 kali? Dan lo masih tetap mau perjuangin Kai?" Tanya Zee takjub.
Delice mengangguk antusias."Lo izinin kan Zee? Lo gak bakalan ngelarang gue buat perjuangin cinta gue kan?"
Zee menggeleng."Perjuangin aja kalau lo masih sanggup." Ujar Zee lemah.
Ia sudah hampir hilang akal akibat cara berpikir Delice yang anti main stream otaknya jadi ragu untuk memakai gelang pemberian mereka tempo hari. Zee sebenarnya sudah berniat menerima pertemanan dengan mereka,namun setelah kejadian pagi ini Zee jadi takut ketularan gila jika berteman dengan mereka.
__ADS_1
Di sisi lain Clara menatap kedua orang di depannya dengan iba."Cepat waras ya Liz. Lo juga Zee,cepat sadar. Zaman sekarang cuma cewek kurang waras yang ngizinin pacarnya di sukain sama cewek lain. Salut buat lo berdua,gue anterin ke RSJ mau?" Tanya Clara miris.
Zee yang di katai gila langsung berdecak sinis.
"Gue gak gila ya. Kai hanya sahabat gue dari gue kelas dua SMP. Karena itu gue gak ngelarang Delice buat perjuangin dia,gue..."
"Lo sama Kai hanya sahabat? Seriously?" Tanya Delice memotong ucapan Zee dengan raut antusias seolah ia sudah memenangkan lotre.
Zee mengangguk.
"Ya ampun Zee!! Kenapa gak ngomong dari tadi sih. Tau gitu kan gue gak perlu sampai akting nangis biar lo iba. Ih kalau gini sih gue makin semangat buat perjuangin Kai. Satu lagi,gue bakalan kasih tau abang gue kalau lo ternyata masih jomblo. Abang gue pasti semang banget."
Zee menaikkan kedua alisnya."Abang lo? Apa hubungannya?" Tanya Zee.
"Abang gue tuh suka sama lo,katanya sih udah pernah ketemu lo dua kali. Kalian ketemu di loby kampus tapi katanya lo selalu marah-marah setiap kalian ketemu." Jelas Delice.
Otak cerdas Zee langsung mencerna ucapan Delice dengan cepat."Abang lo yang aneh itu? Yang punya kepribadian ganda?" Tanya Zee memastikan.
Kini giliran Delice bingung." Kepribadian ganda apa maksud lo? Abang gue dua-duanya normal kok." Ujar Delice sungguh-sungguh.
"Dua?" Bingung Zee,"abang lo dua?"
"Iya kembar,yang tua namanya Zergan Ivander sikapnya lumayan dingin dan susah ketebak yang kedua namanya Arkhan Ivander mereka itu kembar." Jelas Delice panjang lebar.
"Ohh." Zee hanya bisa menjawab singkat. Ia paham sekarang,jadi dua pria berwajah mirip yang ia temui beberapa waktu lalu ternyata dua orang yang berbeda. Ia baru ngeh sekarang,pantas aroma parfum dan tatapn mereka berbeda. Jika yang Zergan tampak datar saat kejadian di perpus maka lain halnya dengan Arkhan yang tampak menyebalkan.
"Jadi maksud lo yang suka sama Zee siapa?" Tanya Agatha penasaran.
"Bang Ar lah. Siapa lagi,emang lo pernah liat bang Zergan tertarik sama cewek? Gue malah curiga dia agak homo. Jangan-jangan dia suka sama bang Nathan atau bang Vian kali. Hiiii." Delice bergidik ngeri dengan pikiran konyolnya.
Clara langsung menoyor kepala Delice.
__ADS_1
"Abang gue dan abangnya Zee masih waras ya!" Geram Clara.
Delice menyengir kuda."Ya maaf."