
"Azellea jawab papa apa maksud kamu??" Tanya William serius.
Zee menggeleng."Bukan apa-apa...."
"Bukan apa-apa pa. Cuma ada orang yang lagi main rahasia-rahasian di kampus kita." Ujar Davian santai namun berhasil membuat Zee melotot.
"Sebenarnya ada apa ini??" Tanya William makin tak paham.
"Biar Vian jelasin. Asal papa tau.."
"Bang!!" Bentak Zee.
"Apa dek? Gue bicara fakta!! Fakta kalau selama ini lo buang nama tengah lo dan gak mengakui William sebagai marga keluarga lo. Oh,jangan pikir gue gak tau kalau lo selalu kenalin diri lo sebagai Azellea Michelle iya kan? Kemarin di kampus lo juga gunain parkiran biasa,belum lagi perihal omongan dosen. Katanya di hari pertama lo masuk aja lo gak ngenalin diri lo sebagi Azellea William Michelle. Gue bener kan?"
"Lo ngintai gue??"
"Info datang dengan sendirinya."
"Lo ngehindarin gue dan Sassya kan di kampus? Kenapa segitunya? Lo malu jadi bagian keluarga William?"
"Cukup!!" Bentak William geram mendengar perdebatan kedua anaknya ini.
"Vian duduk. Biar papa yang ngomong." Ujar William.
Davian sedikit kaget,pasalnya ia tak sadar kapan ia berdiri.
"Azellea,benar apa yang di katakan abang kamu??"
"Memangnya kenapa pa? Zee cuma melindungi diri Zee. Akan banyak masalah datang kalau orang-orang tau siapa Zee."
William menatap Zee bingung." Masalah yang mana maksud kamu? Bukannya lebih aman kalau orang-orang tau siapa kamu?"
"Aman darimananya? Papa gak tau di luar sana ada berapa banyak saingan bisnis papa dan saat mereka tau posisi Zee sebagai pewaris otomatis akan banyak bahaya yang datang ke kehidupan Zee."
"Mereka gak bakalan tau,selama ini Davian lah yang menutupi status kamu Zee. Papa kecewa saat tau kamu tidak mengakui nama keluarga kita." Ujar William sendu.
Zee menatap papanya dengan sedikit iba. "Bu..bukan itu maksud Zee pa. Zee hanya..."
"Udahlah dek,cuma sekampus doang kok yang tau bukan satu dunia. Gak usah lebay deh. Gue gak mau tau lo datang atau gue gusur beneran restoran sama cafe lo.."
"Jangan!! Lo mau nutup rejeki teman-teman gue? Lo gak punya hati ya? Selama ini mereka bergantung sama gaji di cafe gue,lo gak bisa seenaknya."
"Bisa aja,gue cuma perlu ganti restoran kecil lo itu jadi hotel trus gue rekrut deh mereka jadi karyawan gue. Gampangkan?"
"Eh kampret sama aja lo bongkar identitas gue itu namanya."
"Lo gak punya pilihan Azellea WILLIAM Michelle." Ujar Davian dengan senyum smirk nya.
"Tapi ada dua pilihan untuk acara aniversarry nanti. Lo berangkat sendiri dan jadi tamu VIP. Atau lo berangkat bareng gue dan jadi tamu VIP."
__ADS_1
"Lo gak ngasih gue pilihan apapun Davian Ardana William."
"Terserah lo aja,gue cuma.."
"Gue berangkat sendiri karena gue punya mobil. Puas??"
"Sangat!!"
"Cih..." Zee berdecak sinis dan langsung pergi meninggalkan ruang kerja papanya dengan raut wajah masam.
Namun tak sampai dua menit Zee masuk kembali ke dalam ruangan papanya dan langsung berjalan ke arah Sassya.
"Lo gak ada niat nolongin gue?" Tanya Zee serius.
Sassya menatap Zee dengan raut bingung.
"Maksud kakak?"
"Gak usah panggil gue kak. Jijik tau!!"
"Ya udah apa?"
"Ganti kartu undangan gue pake warna silver bisa gak? Gue gak mau jadi tamu VIP."
"Gak bisa kak,kartu undangannya udah di pesan sebulan yang lalu dan kalau harus pesan lagi pasti bakalan lama prosesnya."
"Kan uang lo banyak. Lo bisa ganti-ganti mobil,beli barang branded masa ganti satu kartu undangan aja gak bisa."
"Ah,udahlah. Ngomong sama lo dalam mode banci gini bikin darah gue naik. Serah deh serah kalian!!
Zee sudah sangat frustasi. Dengan langkah kasar Zee keluar dari ruangan papanya di ikuti bantingan pintu yang cukup keras membuat William mengusap dadanya. Kaget.
Namun beberapa detik setelahnya William,Davian dan Sassya saling berpandangan dan mereka langsung bertos ria satu sama lain.
"Rencana kita berhasil."
♡♡♡
Dalam perjalanan ke kamar,Zee tak sengaja berpapasan dengan Melissa. Wanita itu langsung menghentikan langkah Zee dengan ucapannya.
"Mau kemana kamu?" Tanyanya.
Zee menoleh sejenak."Kepo!!" Jawab Zee setelahnya.
Gadis itu langsung berjalan melewati Melissa dengan sedikit menyenggol bahunya membuat Melissa hampir terjatuh.
"Sialan,anak itu makin berani. Aku memang harus membuatnya bernasib sama dengan ibu dan neneknya." Guman Melissa lirih.
Diam-diam Zee tersenyum saat miring. Ia mendengar ucapan Melissa barusan.
__ADS_1
"Sandra Amelia Guanna? Akan gue pertimbangkan permintaan lo dengan balasan yang setimpal." Batin Zee.
Zee melanjutkan langkahnya menuju lantai atas. Namun kali ini Zee tidak naik menggunakan lift tapi menggunakan tangga penghubung yang ada di ruang dapur,ada sedikit hal yang ia ingat dan ia memastikan.
Zee terus berjalan naik,hingga akhirnya ia sudah tiba di lantai dua. Mata Zee meneliti seluruh tempat tersebut,ada sebuah nakas yang di atasnya terdapat gucci kecil,di sebelahnya ada pintu kayu jati yang Zee tau itu adalah kamar mendiang neneknya dulu.
Zee mencoba mengingat kejadian apa yang pernah terjadi di kamar ini. Samar-samar,Zee merasakan sedikit ingatan tentang seorang gadis kecil yang tampak menangis tersedu-sedu di depan pintu coklat ini.
"Shhstt." Ringis Zee saat merasakan kepalanya berdenyut.
"Sakit banget." Gumam Zee lirih.
"Mama!!" Tiba-tiba kata itu berdengung di kepala Zee.
"M..m.mmama" Zee berguman lirih.
Sekelebat ingatan kembali muncul. Zee seperti merasakan tubuhnya pernah di lemparkan dengan kuat oleh seseorang.
"Argghhh." Teriak Zee. Ia terduduk saat merasakan kepalanya berdenyut hebat. Setetes air mata jatuh di pelupuk matanya.
"G..gue gak ingat apapun." Lirihnya.
Setelah itu semuanya berubah jadi gelap. Zee pingsan di tempatnya.
♡♡♡
"Shhht..." Zee meraba-raba kepalanya yang masih terasa berdenyut. Perlahan matanya terbuka.
Keningnya berkerut saat merasakan jika dirinya sudah berada di kamar. Seingat Zee ia tadi ada di lantai dua. Lalu siapa yang membawanya ke sini?
Zee menoleh ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang membawanya masuk ke kamar. Namun nihil ia tak menemukan siapapun kecuali sebuah kursi roda yang entah sejak kapan ada di kamarnya. Setahu Zee itu kursi roda itu adalah kursi roda miliknya dulu.
Tapi kursi roda itu sudah lama tidak di pakai dan selama ini di simpan di ruang gym. Lalu siapa yang membawanya ke sini? Apa orang itu juga yang membawa Zee masuk?
Zee menggeleng membuang pikiran kotornya. Tidak mungkin kan hantu yang membawanya masuk?
"Hii..." Zee bergidik dan memilih turun dari kasurnya. Namun saat kaki Zee terletak ke lantai Zee tak sengaja menginjak sebuah kertas.
Zee meraih kertas itu dan membacanya.
"Jangan lupa makan." Begitulah tulisan yang ada di kertas tersebut.
Mata Zee menajam,"siapa yang nulis ini?" Batin Zee.
Ia menoleh ke nakas dan mendapati semangkuk sereal terdapat di atas sana. Zee sedikit menarik sudut bibirnya.
"Siapa juga yang makan sereal di tengah malam begini." Batin Zee.
♡♡♡
__ADS_1
Like vote komen guys....
Catatan: Revisi