
Guys,ini masih lanjutan part sebelumnya. Maksud aku mereka satu bab ,sengaja aku pisahan karena kepanjangan. Jelek aja gitu menurut aku kalau dalam satu bab lebih dari 2 ribu kata. Kurang srekk aku liatnya. Jasi aku pisah aja.......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Udah siap? Ayo kita berangkat!!" Ujar William begitu muncul diruang tamu membuat Zee yang tengah sibuk bermain handphone sedikit terkejut.
"Berangkat sekarang?" Ulang William karena Zee tak menjawab ucapan pertamanya.
"I...iya...!! Eeem...Papa gak ke kantor kah?" Tanya Zee setelah meneliti penampilan papanya yang semi formal. Hanya menenteng kunci mobil dengan dompet yang baru saja ia masukkan ke saku. Tidak ada jas ataupun tas yang ia bawa layaknya orang yang mau ke kantor.
"Papa hari ini meliburkan diri di apartemen kalian. Nanti asisten pribadi papa yang antar berkas ke sini. Hari ini papa mau habiskan waktu bareng kamu. Anter kamu kuliah,jemput kamu,sepulang kuliah nanti,lalu jalan-jalan. Kata Davian hari ini kamu kuliah sampai pukul dua sore. Jadi papa punya waktu beberapa jam untuk ajak kamu jalan-jalan. Jangan lupa ini akhir pekan,jadi kita akan refreshing." Jelas William panjang lebar.
Zee melongo mendengarnya,bagaimana bisa papa nya membuat rencana dadakan di saat ia memiliki agenda yang sangat penting hari ini. Sepertinya nanti Zee harus memutar otak untuk membatalkan rencana papanya atau menyelasaikannya dengan mengorbankan salah satu agendanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kelas kamu dimana? Papa anter kamu sampai ke kelas." Ujar William begitu keduanya sampai di depan kampus Zee,lebih tepatnya di depan fakultas manajemen bisnis.
Zee hanya pasrah saja membiarkan papanya keluar bersamanya. Menolak pun percuma,jangan lupakan jika William tidak akan mudah menerima penolakan.
Jadi beginilah keadaannya,begitu Zee keluar dari parkiran diikuti William yang menyusul di sampingnya membuat Zee langsung menjadi pusat perhatian seperti hari pertamanya di kampus ini.
Sebenarnya yang jadi pusat perhatian bukan Zee tapi papanya. Si pemilik kampus yang mendadak jadi supir pribadinya hari ini. Apalagi William datang dengan pakaian semi formal tanpa embel-embel bodyguard di kanan kirinya,mungkin sangat jauh berbeda dari William yang selama ini sering mereka lihat di televisi atau acara bergengsi lainya atau mungkin media apapun yang biasanya menampilkan wajah tegas William sebagai seorang terpandang di luar sana.
Sedangkan William yang jadi pusat perhatian tampak santai-santai,sambil sesekali tersenyum dan menanggukan kepalanya pada beberapa mahasiswa yang kebetulan berani menyapanya.
__ADS_1
"Kamu gak masuk kelas internasional?" Tanya William saat melihat Zee berjalan ke arah kelas manajemen,Zee hanya mengangguk singkat.
"Papa yang daftarin Zee di sini." Jawab Zee lagi.
William pun akhirnya mengangguk membenarkan,memang ia yang mendaftarkan Zee di sana. Tapi ia kira Zee mengambil jurusan internasional,mengingat di kampus lamanya Zee berada di kelas internasional.
Ia selama ini memang mengawasi Zee sesekali,tapi tidak pernah mencari tau secara detail karena tidak terlalu peduli. Tapi sepertinya hari ini ia sadar sudah banyak yang ia lewati dan tidak salah hari ini ia memutuskan untuk menghabiskan sedikit waktu bersama Zee,hitung-hitung sebagai bentuk pengenalan ulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keduanya terus berjalan di iringi omongan ringan yang lebih di dominasi oleh William namun beruntunglah karena kali ini Zee sudah lebih banyak menanggapi,jadi hubungan keduanya tidak akan terlihat seperti orang asing.
Di tengah obrolan keduanya,mata Zee tak sengaja menangkap sosok seseorang yang sepertinya mengawasinya seja tadi. Benar saja begitu Zee dan William mendekat,sosok yang menjadi musuh bebuyutan Zee itu langsung menghampiri keduanya dengan gaya cacing kepanasannya.
"Loh papa di sini?" Tanya seorang gadis yang tak lain adalah Sassya sambil menyalami tangan William. Zee heran kenapa juga gadis itu ada di sini. Bukannya ia ke Singapura kemarin? Lalu apa nenek lampir itu sudah kembali,tapi kenapa ia tidak tau. Otak Zee terus bertanya namun raut wajahnya datar saja.
"Sassya gak ikut ke sana pa!! Sassya nginap di rumah teman. Gak papa kan pa? Oh ya,Sassya sekalian minta maaf ya atas sikap mama. Sassya janji kok bakal bujuk mama,papa tenang aja. Besok Sassya jamin mama udah gak marah lagi." Ujar gadis itu dengan tampang sok polos membuat Zee jijik. Sedangkan William masih tampak tersenyum dan sedikit mengangguk.
"Papa ke sini nganterin kak Zee?" Tanya Sassya lagi, karena menyadari jika William datang bersama Zee.
"Nganterin mbok Ijah!! Dia jadi dosen di sini!!" Geram Zee yang berujung mengambing hitamkan pembantu di rumahnya. Ia sudah terlanjur geram melihat Sassya yang caper kebangetan di depan papanya. Andai ini tidak di kampus dan tidak ramai orang,mungkin Zee sudah memutilasi gadis centil satu itu.
"Udahlah,mau ke kelas gua!! Keburu masuk dosennya!!" Setelah mengatakan itu tanpa basa-basi Zee berjalan meninggalkan William bersama dengan Sassya yang tampaknya sibuk mencari perhatian William sedari tadi.
Melihat Zee yang sudah lebih dulu berjalan di depannya,langsung saja mengalihkan perhatian William dari Sassya. Pria paruh baya itu bergegas meninggalkan Sassya untuk mengejar langkah Zee yang tampak semakin menjauh.
__ADS_1
Hingga akhirnya Zee tiba di depan kelasnya yang sudah tertutup. Sepertinya ia salah membuat keputusan untuk menunda keberangkatannya dengan lebih banyak mengobrol tadi. Karena terbukti sekarang ia terlambat,bahkan sudah sepuluh menit berlalu. Tentu saja saja Zee was-was ingin masuk.
Mata kuliah pertamanya adalah Ekonomi Makro,dan dosennya adalah dosen senior yang cukup galak dan tidak pandang bulu. Sekalipun Zee anak pemilik kampus,tidak akan ada toleransi jika ia salah,apalagi Zee memang bukan orang yang menghindari konsekuensi.
"Pluk!!" Di tengan keresahannya,pundak Zee di tepuk pelan oleh seseorang membuat Zee sontak menoleh. Ternyata pelakunya adalah papanya sendiri.
"kenapa gak masuk?" Tanya William heran,karena Zee malah mengendap-endap seperti maling.
"Zee udah telat." Jawab Zee jujur.
William yang mendengar ucapan sang putri pun menangguk paham. Ia kemudian menarik Zee agar berdiri di belakangnya. Dengan perlahan William mengetuk pintu dan membukanya sedikit.
"Permisi!!" Ucap pria itu tegas,tak lama tampak dosen laki-laki yang jauh lebih tua dari papanya itu berjalan ke arah pintu seraya membukanya lebih lebar. Pria itu langsung mengangguk sopan begitu melihat wajah wajah tegas dan datar khas William & Family (termasuk Zee&Davian😂).
"Maaf menganggu waktunya pak,saya mengantar anak saya ke sini. Tadi ada sedikit masalah dengan mobil anak saya membuat dia harus saya antar. Sekarang Zee terlambat,sebagai konsekuensinya bapak bisa memberi dia hukuman sebagai bentuk sanksi dan tanggung jawabnya."
Zee hanya melengos di dalam hati,sepertinya ia salah duga mengira papanya akan membela anaknya layaknya di sinetron-sinetro yang tidak sengaja ia liat bersama mbok Siti dan mbok Ijah dulu.
"Tapi..." Zee kembali menoleh saat mendengar ucapan William yang ternyata berlanjut.
"Izinkan dia masuk dulu,saya hanya tidak suka jika anak saya meneriman hukuman tidak bermanfaat. Apalagi dikeluarkan dari kelas karena terlambat. Jadi bapak bisa pikirkan apa hukuman yang lebih layak untuk dia."
"Saya permisi dulu."
"Baik pak!!" Dosen tadi kembali mengangguk sopan saat melihat William hendak beranjak pergi. Sepertinya ia juga tidak mau membuang waktu William dengan protes,siapa yang tidak tau jika William orang yang sangat sibuk jadi mungkin saja dosen tersebut sungkan untuk menyangkal,apalagi kampus ini miliknya dan mereka bekerja untuknya.
__ADS_1
"Azellea,silahkan kamu duduk di tempat dudukmu. Simak materi yang saya jelaskan,dan sebagai hukuman atas keterlambatan kamu,saya akan berikan kamu tugas tambahan."
"Terimakasih pak!!" Jawab Zee singkat,seraya berjalan menuju tempat duduknya. Namun sebelum benar-benar duduk Zee masih sempat menoleh ke arah Clara,Agatha dan Delice yang tampak mengancungkan jempol ke arahnya,dan dibalas kedipan mata oleh Zee.