
Seperti biasa,sebelum membaca otor mo ingatin buat Like dan Vote. Untuk komen,ntr ajalah klau udh baca bab ini biar tau alurnya wkwk😉
Happy reading guys😁😁😁😁😘
♥♥♥♥
Pukul setengah 5 sore Davian sampai di kantor William papanya. Dengan langkah tegas dan wajah dingin ia masuk ke dalam kantor dan langsung menuju meja resepsionis.
"Mbak tuti papa saya masih di kantor??" Tanya Davian to the point pada resepsionis kantor papanya itu.
"Ada Mas,langsung ke atas aja. Kebetulan Pak William belum pulang."
Davian mengangguk,dan langsung melesat ke dala lift khusus petinggi kantor. Ia sudah hapal seluk beluk kantor papanya,karna memang ia sering membantu papanya dulu sebelum ia punya perusahaan sendiri.
Begitu sampai di depan ruangan papanya sekretaris papanya memberi hormat dan menyapa melihat kedatangan Davian. Namun Davian mengabaikannya ,ia tidak mau berlama-lama di situ. Karna itu tanpa basi-basi Davian langsung masuk saja ke dalam ruangan papanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Julia,harusnya kamu....!!" Ucap William tegas namun terhenti,kala menyadari bukan Julia sekretaris itu yang menyerobot masuk. Tapi justru putra sulungnya yang datang.
"Ngapai kamu ke sini?? Bukannya kamu sudah senang mengikuti tingkah adikmu di luar sana?? Atau kamu kehabisan uang jajan sehingga harus kembali pada saya??" Sindiran pedas terlontar dari mulut William melihat kedatangan anaknya.
"Kalau bukan karna Zee,Vian juga gak bakalan repot-repot nemuin papa ke sini. Vian ke sini karna Vian butuh bantuan papa." Ujar Davian to the point.
"Bantuan papa?? Masih ingat juga kalau kalian punya papa?? Saya kira setelah keluar dari rumah kalian berdua akan menjadi orang hebat yang tidak butub bantuan saya. Jadi sebutkan berapa banyak uang yang kamu dan adik kamu perlukan?"
Davian menggeleng tak percaya mendengar ucapan kasar papanya barusan."Stop!! Pa,Vian ke sini bukan mau nyari ribut sama papa. Vian juga gak butuh uang dari papa,Vian masih bisa hidupin diri Vian dan Zee sendirian. Vian dan Zee masih bisa, papa gak perlu mikir ke situ. Vian ke sini karna Vian butuh papa buat donorin darah ke Zee!!"
__ADS_1
William sempat tertegun mendengar omongan Davian barusan. Pikirannya sedikit terusik mendengar putri bungsu sekaligus anak kandungnya yang selama ini tidak ia pedulikan kehadirannya.
"Memangnya Zee kenapa??" Entah sadar atau tidak William sedikit mengkhawatirkan Zee.
"Zee tadi gak sengaja berantem sama orang,semua salah Vian juga. Vian yang minta dia buat ikut campur masalah tadi,tapi Vian gak tahu kalau ujung-ujungnya malah kayak gini."
"Berantem?? Anak itu masih buat masalah,dan sekarang dia kena batunya. Lalu kamu temui saya untuk meminta bantuan?? Yang benar sajalah Davian Ardana William!! Kamu lupa kalau kamu dan Zee sudah memutuskan untuk keluar dari rumah. Kamu taukan apa artinya itu??"
"Tapi Zee masih anak papa,hubungan fisik boleh putus. Tapi papa gak bisa pungkiri ada hubungan darah antara papa dan Zee yang gak bisa papa putusin gitu aja!!"
"Saya yang memutuskan?? Heh!! Kamu lupa kalau Zee sendiri yang mau keluar,lantas kenapa sekarang saya harus peduli?? Dia sedari dulu tidak pernah menganggap kita bagian keluarga,sadar Vian!! Bukan saya yang tidak mau tapi Zee sendiri yang menolak."
"Zee gak pernah nolak kita,papa gak sadar kita yang ngasingin Zee selama ini. Lagian kalau memang papa gak mau donorin darah buat Zee,Vian gak maksa. Vian juga udah buat pengumuman di kampus,dan semoga aja mereka lebih punya hati dibandingkan papa."
"Vian pamit,maaf udah ganggu waktu papa!! Harusnya dari awal Vian tau kalau datang ke sini itu percuma. Papa bukan papa yang dulu,bukan papa yang sayang keluarga lagi. Vian prihatin dengernya. Makasih buat waktu papa."
Setelah berkata seperti itu Davian membalikkan badannya meninggalkan ruangan papanya. Namun saat tangannya sudah memegang knop pintu dan siap keluar. Ucapan papanya menghentikan langkah Davian.
"Tunggu!! Papa ikut!!"
Davian menolehkan kepalanya memastikan bahwa ia tidak salah dengar."Anda bercanda??" Tanya Davian tak percaya.
"Zee anak saya,anak saya dengan Diana wanita yang masih saya cintai sampai saat ini. Saya tidak tahu bagaimana marahnya Diana jika dia masih ada ,apalagi jika dia melihat saya mengabaikan kalian berdua." Tegas William lugas.
Davian hanya menatap papanya datar,sebelum akhirnya mengangguk.
__ADS_1
"Makasih pa." Lirih Davian datar, hatinya masih sedikit dongkol dengan ulah papanya tadi.
William beranjak dari kursi kebesarannya dan langsung mengikuti langkah Davian keluar ruangannya. Keduanya berjalan beriringan sampai ke luar kantor.
"Papa,kak Vian!! Kalian mau kemana??" Suara yang tidak asing di telinga Davian membuat Davian lagi-lagi harus menghentikan langkahnya.
"Sassya lo di sini??" Tanya Davian pada adik tirinya itu.
"Iya kak,niatnya tadi mau mampir ke sini sekalian ngajak papa makan malam diluar. Sama mama juga,tapi karna ada kak Vian jadi sekalian aja ikut gimana??"
"Sorry Sya,gue sama papa gak bisa!! Ada urusan yang lebih penting dari itu. Zee kecelakaan dan masuk rumah sakit. Sekarang dia butuh papa buat donorin darah ke dia malam ini juga. Jadi kapan-kapan ya." Ujar Davian menolak.
"Kak Zee masuk rumah sakit?? Terus keadaannya gimana?? Atau aku ikut kalian kerumah sakit boleh gak??"
Davian dan William saling pandang sejenak. Kemudian William memberi kode agar Davian saja yang menjawab. Membuat Davian mengangguk.
"Untuk saat ini gue saranin gak usah ya Sya. Lagian gak ada gunanya juga lo di sana,gua juga gak mau lo ribut sama teman-teman Zee. Lagian saat ini Zee belum bisa di jenguk,lo kesana juga percuma. Gak ngapa-ngapain juga kan?"
"Owhh,ya udah deh. Maaf ya kak kalau Sassya ganggu."
Davian hanya berdehem kemudian melanjutkan langkahnya menuju mobil. William pun menyusul mengeluarkan mobilnya dari parkiran dan melesat ke jalan raya,keduanya beriringan ke rumah sakit.
♥♥♥♥
Tolong bagi readers dimanapun berada di larang untuk mengumpati pak William saat komen nntinya. Kasian udah tua jangan di julid~tin. Kualat ntr wkwkwk. Tapi jangan julid~tin otor juga ya,nnti otornya nangis loh wkwkw😁😜😜🙂☺.
__ADS_1
Komen yg bnyk ya guys,biar aq tau seberapa bnyk penyemangatku😁