
"Papa boleh Sassya masuk?" Tanya Sassya hati-hati dari depan pintu ruang kerja William.
"Kemasi barang-barang kamu!! Dan pergi dari rumah Sassya!!"
♡♡♡
Bagai di sambar petir di siang bolong,Sassya berdiri membeku di depan pintu kamarnya dengan wajah melongo tak percaya.
"P..papa..ng..ngomong apa?"
"Kamu tahu Sassya tidak suka mengulang apa yang sudah saya ucapkan. Jadi saya rasa telinga dan otak kamu masih berfungsi untuk mengerti apa yang barusan saya ucapkan."
"Tapi pa,Sassya bisa jelasin semuanya!! Papa dengerin Sassya dulu!!"
"Gak ada yang harus lo jelasin!! Lo udah buat Zee sakit,lo bikin malu papa,lo tukang bully,lo pembunuh,gak pantes lo jadi bagian keluarga William!! Ngerti lo!!" Bentak Davian tajam.
"Lo denger sendirikan? Papa sama abang gue udah gak peduli sama lo. Harusnya lo sadar Sya dari dulu malah. Mending pergi dari keluarga William atau lo dan mama lo bakalan berakhir di penjara!!" Ancam Zee.
Tak beberapa lama di luar ruangan kerja William terdengar suara Melissa berteriak panik."Sassya!! Papa!! Tolong di depan ada polisi!! Mama gak mau di tangkap mama gak salah apa-apa!!" Raung Melissa kuat.
Sontak semua yang ada di ruangan William terkejut dan berhambur ke luar untuk melihat situasi yang terjadi. Tampak beberapa orang anggota polisi berusaha membawa Melissa keluar dari rumah dan Melissa meronta-ronta melepaska dirinya.
"Saya bukan pembunuh!! Jangan bawa saya!! Papa tolong!! Sassya!! Mereka mau bawa mama,mama gak salah apa-apa!!"
"Pak jangan bawa mama saya,mama saya gak salah!! Yang pembunuh itu kaka saya!! Dia!! Dia yang udah bunuh nenek sama istri pertama papa saya!! Mama saya gak jahat pak!!" Sassya berlari ke arah polisi dan berusaha melepaskan Melissa dari mereka.
Hingga seorang yang tidak asing wajahnya di depan mereka muncul membuat Sassya membeku.
"Mereka bohong pak!! Mereka itu pembunuh mereka juga pembully,saya adalah salah satu korban dari pembullyan Sassya!!"
"S..Sa..lma? Lo..lo masih hidup? Bu..bukannya lo udah?...." Sassya tidak bisa melanjutkan kalimatnya lagi saat melihat sosok mirip Sandra tersenyum penuh kemenangan ke arahnya.
"E..ENGGAK!! ENGGAKK!! GAK MUNGKIN!! DIA UDAH MATI!! GUE PASTI SALAH LIAT!! ENGG...."
"Sassya!! Hei!! Hei!! Bangun!! Bodoh mau sampai kapan kamu tidur gini hah!! Mama capek bangunin kamu tiap hari!!"
"HAH!!" Teriak Sassya kaget,ia mengusap wajahnya kasar,pelipisnya basah karna keringat.
Matanya mengintari area tempatnya berada sekarang."Kamar? Mama?"
__ADS_1
"Kamu kenapa sih Sya?"
"Mama Sassya cuma mimpi? Kita gak di usir dari rumah? Mama gak jadi di tangkap polisi? Kita gak jadi miskin ma?"
"Ngomong apa sih kamu Sya? Kamu ngigo? Gila?"
"Mama tadi Sassya mimpi semua rencana kita terbongkar. Mama di tangkap polisi,Sassya ngeliat Salma hidup lagi. Semuan kacau ma, Sassya kira sekarang kita udah di bui. Ternyata masih aman." Sassya tersenyum lega saat tau semuanya hanya mimpi. Tapi kenapa terasa begitu nyata.
"Sttt..Jangan ngomong keras!! Nanti ada yang denger gimana? Kamu beneran mau kita di usir dari rumah!!"
"Maaf ma" cicit Sassya lirih.
"Tapi ma!! Tadi di kampus Sassya berantem sama Zee,dan bang Vian tau. Bang Vian marah sama Sassya karna dia liat Sassy dan teman-tema lain ngeroyok Zee. Sassya haru..."
"APA!! Sassya kamu bodoh banget sih!! Kamu tau gak karna perbuatan kamu rencana kita bisa aja gagal!! Kamu tau sekarang Zee sama Davian ada di sini. Mereka datang beberapa saat yang lalu. Mama rasa ini ada hubungannya dengan masalah kamu!! Kalau sampai ada apa-apa mama gak mau tau!! Kamh harus tanggung jawab."
"Mama serius? Zee sama Davian di sini? Ngapain?"
"Mana mama tau!! Tadi mereka suruh mama panggil kamu. Makanya mama ke sini bangunin kamu. Kamu tau gak kalau Davian acuh sama mama sekarang!! Mama yakin pasti itu pengaruh Zee."
"Terus Sassya harus gimana ma!! Kenapa seolah-olah mimpi Sassya bakalan kenyataan ma!! Di mimpi tadi Sassya juga ngalamin ini."
Melissa langsung Mengacak-acak rambut Sassya membuat penampilannya seberantakan mungkin. Ia juga mengambil liptin milik Sassya dan mengoleskan ke sekita mulut dan pipi Sassya serta eyeshadow di pelipisnya agar tampak seperti memar.
"Ayo mama temenin kamu ke ruangan William sekarang. Buat akting senatural mungkin seakan-akan kamu gak sengaja melakukan semua itu. Minta maaf di depan William supaya dia iba sama kamu!! Ngerti?"
"Iya,ma Iya!!"
Kedua manusia ular itupun beranjak keluar kamar menuju ruang kerja William,untuk memulai aksi liciknya.
♡♡♡
Sementara di ruang kerja William,Zee dan Davian beberapa kali mengehela napas bosan. Hampir setengah jam sudah mereka berada di ruang kerja William namun pria paruh baya itu belum juga memberi waktu untuk mereka berbicara.
William masih sibuk dengan laptop di depannya. Mengerjakan beberapa pekerjaan kantor yang tadi sengaja ia bawa pulang karna Davian memintanya pulang lebih awal untuk bertemu.
"Papa,masih lama ga sih?"
Tanya Davian jengah,namun William hanya mendelik sebentar kemudian kembali fokus pada laptopnya.
__ADS_1
"Santai nak,sedikit lagi. Kamu lupa papa mengerjakan pekerjaan papa di rumah karna siapa? Karna kamu!! Coba kalau tadi kamu tidak menyuruh papa pulang awal mungkin sekarang pekerjaan papa udah beres."
Davian mendelik gusar,papanya ini mandiri sekali. Dia yang bertanya dia yang menjawab pertanyaannya. Sekarang malah menyalahkan dirinya lagi memang dasar!! Ingin Davian mengumpat jika itu bukan papanya.
"Tapi kita mau ngomong pa!!" Jengah Davian.
"Sebentar lagi!! Santai saja,lagian ini rumah kalian juga. Kenapa harus buru-buru sih?"
"Karna ada masalah yang harus papa tahu."
"Masalah? Zee buat masalah lagi? Atau kamu yang buat masalah?"
William mulai mengalihkan sedikit perhatiannya pada kedua anaknya itu. Terlihat Zee masih memasang wajah datarnya saat William menoleh.
"Bisa gak pa,sekali aja gak berprasangka buruk sama Zee. Bukan papa sendiri yang bilang mau perbaiki hubungan papa sama Zee. Kenapa papa gak berubah? Papa masih benci Zee?"
William membeku mendengar pertanyaan menohok dari Davian."Zee papa..."
"Gak usah minta maaf,saya bosen dengernya."
Ujar Zee datar memotong perkataan William.
Davian menghela napas frustasi,bukan ini yang ia mau. " Papa bisa gak singkirin dulu laptop papa? Kita mau ngomong bentar aja!!"
"Hmm." William menurut dan akhirnya menutup laptop miliknya.
"Jadi apa yang mau di bicarakan? Ngomong sekarang!!"
"Jadi gini....."
Pintu ruang kerja William dibuka pelan,membuat Davian menghentikan ucapannya. Tampak Sassya dengan penampilan berantakan dan air mata mengalir di kedua pipi mulusnya. Dengan Melissa yang mencengkram erat lengannya.
"Sana minta maaf sama Zee!! Kamu pikir mama senang liat kamu bikin masalah sama kakak kamu sendir!! Sana minta maaf!!" Melissa mendorong kasar tubuh Sassya agar maju mendekati Zee,Davian ,dan William sementara ia berjalan pelan di belakang Sassya. Tidak lama kemudian Melissa dan Sassya berlutut minta maaf di hadapan Zee dan Davian membuat William heran.
"Apa-apaan ini?"
♡♡♡
Yeayy up,gimana ceunah semua? Kenal prank ya😂😂😂😂 Udah ngarep semua pasti si Sassya biar cepaf dapet karma. Eh malah cuma mimpi😂😂😂
__ADS_1
Sabar ya,belum saatnya Sassya sama Melissa kena karma. Like,vote,coment guys biar otor up lagi