
"Gimana kerjaan lo kemarin?"
Tanya Davian keesokan paginya,saat keduanya tengah sarapan. Sebenarnya ia ingin menanyakan hal ini dari kemarin setelah Zee pulang kerja. Tapi kemarin sepulang bekerja Zee tidak berada di apartemen. Katanya ia langsung diajak Arkhan jalan-jalan dan pulangnya Zee langsung tidur. Jadi pagi inilah Arkhan sempat menanyainya.
"Gak gimana-gimana. Hari ini gue masuk kuliah pagi,setelah itu gue ke tempat proyek mall yang lo bangun."
"Mall yang di jalan xx itu?"
"Hm."
"Bukannya udah di urus sama manager pembangunan? Kemarin katanya udah mau rampung. Dia kasih laporan langsung ke gue,ada kok di email gue."
"Ya apa salahnya kalau gue mau turun langsung. Sekalian reviewkan? Bukannya bagus kalau atasan turun langsung ke sana,kerjaan mereka pasti lebih efisien."
"Terserah elo ajalah."
"Hm."
"Tingg..." Di tengah obrolan keduanya, bell apartemen mereka berbunyi. Membuat keduanya sama-sama menghentikan aktivitas masing-masing.
"Gue gak punya tamu perasaan." Ujar Davian heran. Sementara Zee sudah berjalan ke arah pintu untuk membukanya.
"Ayo masuk dulu,gue sama bang Vian lagi sarapan." Ujar Zee pada tamunya yang tak lain adalah Arkhan. Arkhan menurut dan lantas ikut masuk ke dalam apartemen milik sahabat dan pacarnya itu.
"Ngapain lo ke sini?" Tanya Davian sarkas begitu melihat Arkhan menarik kursi di depannya. Zee hanya bisa menggeleng heran melihat abangnya yang kadang cuek,kadang dingin,kadang baik,kadang kasar. Intinya berubah-rubah tanpa bisa di tebak.
"Gue ke sini mau jemput pacar gue. Bukan mau ribut sama lo!!"
"Cih!! Kemarin aja jemput diam-diam, gue pulang kuliah niatnya mau ngajak Zee makan malam di luar malah keduluan sama lo. Monopoli lo!!"
__ADS_1
"Apaan sih,masa abang cemburu sama calon adek iparnya. Agak sakit ya lo?"
"Siapa? Gue? Gak cemburu,cuma kesel. Kalau tau Zee bakalan dinner sama lo,gue bisa ajak Clara jalan malam tadi. Bukannya nunggu di apartemen kek orang bego,bikin kesel tau!!"
"Siapa suruh lo gak nanya dulu."
"Gue udah selesai sarapan. Ayo berangkat!!" Ujar Zee datar,padahal roti di piringnya belum habis,tapi telinganya sudah terlanjur panas mendengar perdebatan tak berfaedah dari dua pria di depannya ini.
Melihat Zee yang tampaknya sudah merajuk,mau tak mau Davian membiarkan Arkhan membawa Zee ke kampus lebih dulu. Bisa-bisa Zee mendiamkannya jika ia melanjutkan perdebatannya dengan Arkhan.
"Antar adek gue ke kantornya nanti. Awas aja sampai dia lecet!!"
Teriak Davian dari ruang makan sebelum Zee dan Arkhan keluar apartemen. Tidak ada jawaban dari keduanya,entah mereka tidak mendengar atau memang malas menjawab,Davian tidak mempermasalahkan itu yang penting ia sudah berpesan.
♡♡♡
"Hati-hati,nanti sore aku jemput kamu di lokasi proyeknya ya." Ujar Arkhan selepas mengantar Zee ke kantor Davian. Zee sendiri memang sengaja minta di antar ke kantor usai kuliah tadi pagi. Alasannya karna mobilnya di sana,kemarinkan ia pulang di jemput Arkhan.
Namun langkahnya mendadak berhenti begitu netranya menangkap sebuah mobil yang tak asing yang berada di parkiran tersebut. Di antara kendaraan para karyawan kantor,mobil itulah yang paling menojol karena terlihat paling mewah dari mobil lainnya.
Zee kenal mobil itu,mobil keluaran terbaru,yang pastinya tak semua orang punya dan mampu membelinya,jika mereka bukan golongan konglomerat.
"Kayak mobil tante lampir,ngapain tu orang ke sini?" Gumam Zee heran. Dengan langkah pelan ia beranjak masuk ke lobi kantor,kebetulan jam istirahat makan siang jadi lobi kantor cukup ramai. Hampir setiap karyawan yang lewat membukuk hormat pada Zee,atau sekedar menyapa yang hanya di jawab anggukan oleh Zee.
Jika kemarin kebanyakan orang menatap Zee aneh karna penampilan santainya. Sepertinya hari ini mereka sudah bisa beradaptasi dengan penampilan bos sementara mereka itu.
Baru selangkah kaki Zee menaiki tangga darurat menuju ruangannya, niatnya tadi ia mau sekalian olahraga dengan menaikinya tangga darurat di menuju ruagannya,namun pemandagan di sudut ruangan sana terlihat lebih menarik untuk di kepo-in.
Dengan melangkah setengah tahan napas,Zee mengendap-endap di balik lekukan tangga guna mengintip kelakuan ibu tirinya yang tengah berbincang dengan seseorang. Posisi kedua orang yang tengah membelakanginya itu membuat Zee leluasa mengintip,dengan kamera HP dan perekam yang sudah siap untuk merekam kelakuan ibu tirinya itu.
__ADS_1
"Saya gak mau tau,besok uang dua ratus juta harus sudah masuk ke rekening saya. Saya harus ke Singapura besok!! Uang empat ratus juta kemarin bakal segera saya transfer gantiannya langsung ke rekening perusahaan sebagai ganti,kamu cuma perlu tutup mulut semuanya pasti baik-baik aja. Ingat saya bisa lakuin apa aja sama kamu termasuk keluarga kamu,kalau kamu berani ngomong macam-macam tentang saya."
"Kamu juga harus ingat,saya bisa hancurin anak dan istri kamu sekaligus kalau kamu melanggar ucapan saya. Untuk urusan tutup mulut,tenang aja,saya tau anak kamu lagi sakit saat ini. Biaya pengobatan lumayan mahalkan,saya bisa transferkan kamu uang lima puluh juta setiap bulannya asal kamu bantu saya. Gimana? Masih mau bekerja sama?"
"M..mau nyonya,saya bisa tutup mulut. Lagian akhir-akhir ini bos sibuk dan jarang ke kantor,biasanya saya kirimkan langsung laporan ke email bos jadi kemungkinan besar dia gak tau. Di tambah lagi tuan Alfarrel juga sama sibuknya,beliau sebulan terakhir ini menghandle semua jadwal rapat bos Davian,jadi masih bisa saya atasi."
"Baguslah,kamu memang bisa saya andalkan. Nanti saya transferkan DP awal,saya masih ada urusan setelah ini. Kamu lakukan saja yang saya suruhkan tadi."
Ujar rubah tua tersebut sambil membalikkan badannya menuju ke luar kantor. Dengan segera Zee naik ke atas dengan sedikit berlari. Rekaman vidio pun sudah ia kirimkan pada Sandra untuk di rangkai sebagai bahan pertunjukkan di ulang tahun pernikahan papanya nanti.
"Aman!! gak jadi lewat sini deh gue,capek ternyata." Ujar Zee sedikit ngos-ngosan karna gugup dan sedikit berlari tadi.
Setelah memastikan pria yang berbicara dengan Melissa tadi pergi,Zee langsung berjalan cepat menuju lift yang tak jauh dari tangga darurat tersebut.
"Tingg.."
"Anak anjing!!" Kaget Zee begitu tangannya mau memencet tombol lift,pintu lift malah terbuka dan Zee langsung menabrak seseorang yang baru mau keluar dari litf.
"Nona muda jaga bicara anda!!" Ujar Alfarrel tegas.
Zee mendongak kesal,sambil mendorong tubub Alfarrel yang kini tengah menahan tubuhnya agar tidak nyungsep. Namun bukan cuma Alfarrel yang terdorong masuk hingga membentur dinding lift,Zee juga ikut maju hingga jidatnya membentu dada Alfarrel karna ternyata pria itu menahan lengannya agar ia tak jatuh.
"Modus lo ya?!!"
"Anda baik-baik saja?" Alfarrel tidak menggubris pertanyaan Zee,justru pria itu bertanya balik sambil menyentuh jidat Zee yang tampak memerah karna terbentur cukup keras,ia juga merasa dadanya sedikit sakit tadi. Jadi wajar saja jika jidat Zee sampai memerah.
"Gue baik,pala gue tahan banting." Ketus Zee sambil menjauhkan dirinya dari tubub Alfarrel dan berdiri di sudut lift. Bahkan ia lupa jika ia harus memencet angka menuju lantai tempat ruangannya berada.
Berujunglah Alfarrel yang memencet tombolnya,sembari menggeleng melihat Zee yang kini berdiri dengan posisi membelakanginya yang artinya menghadap dinding lift. Niat Zee ingin menghindari kontak mata dengan Alfarrel tapi ia justru tambah kesal karna dinding lift malah memantulkan wajah Alfarrel yang kini tampak menahan senyum menyebalkannya.
__ADS_1
Beruntung akhirnya lift yang dinaiki keduanya sampai juga di lantai ruangan Zee,jadi Zee bisa cepat-cepat keluar dari situ walau dengan wajah yang masih di tekuk.