Story Of Azellea

Story Of Azellea
Licik Dibalas Licik


__ADS_3

"Nah datang juga,gue kira lo lari." Ujar Davian saat melihat Zee datang diikuti ketiga temannya di belakang.


"Gue bukan pengecut." Sahut Zee dingin."


"Yakin mau manjat? Kamu cewek loh." William yang ternyata berada di situ juga,sedikit khawatir dengan kegiatan konyol kedua anaknya ini. Sebenarnya pohon mangganya tidak terlalu tinggi,dahannya ada yang masih bisa dijangkau tangan.


"Jangan remehin cewek pa." Ujar Zee datar. Membuat Davian makin bersemangat untuk mengalahkan sang adik.


"Gila pak William ganteng banget." Ceplos Agatha tiba-tiba. Ternyata gadis itu sedari tadi asik menganggumi ayah sahabatnya sendiri. William memang masih mengenakan pakaian saat ia nge-gym tadi. Tentu saja pakaian itu mengekspos otot-ototnya.


Semua langsung melongo saat mendengar ucapan gadis itu. Bisa-bisanya Agatha membuat suasana keluar jalur.


"Udah gak waras nih anak." Geram Delice lirih.


"Papa masuk deh!! Ganti baju sana,ngerusak pemandangan aja." Geram Davian karna papanya seolah tebar pesona di situ.


"Iya masuk sana,nanti mama tiri marah." Kini Zee ikut mengusir  William juga.


William sampai heran sendiri, perasaan bukan ia yang salah. Ia kan hanya berdiri diam,tapi kenapa kedua anaknya malah seakan ingin mengulitinya hidup-hidup.


Akhirnya dengan langkah pasrah ia masuk ke dalam rumah dengan di dorong paksa oleh Zee dan Davian.


"Awas lo naksir bokap gue,andaikan bokap gue udah cerai sama mama tiri gue. Gue juga gak ikhlas punya mama baru kayak lo." Geram Zee tiba-tiba. Agatha langsung kicep.


"Becanda Zee aelah.. Gue masih suka Nathan kali,gak usah baperanlah." Ujar Agatha sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Lagian gue juga gak minta punya mertua kayak lo." Ujar Clara yang ikut kesal.


"Sama gue juga gak ikhlas abang gue punya mertua kayak dia." Kali ini Delice pun ikut mencibir.


"Skipp ah,baperan lo pada. Gak seru!!"


♡♡♡

__ADS_1


Acara debat selesai,kini teman-teman Zee sudah duduk di kursi kayu yang berada tak jauh dari pohon mangga yang sedang di panjat Zee dan Davian.


Keduanya adik kakak itu tampak lincah memanjat pohon,bahkan keduanya sama-sama sudah berada di dahan teratas.


"Ckk...sejak kapan mereka berdua belajar jadi monyet? Anak sultan kadang rada aneh ya." Agatha berdecak heran melihat kelakuan kakak beradik itu.


"Gimana bang? Udah siap kalah belum? Kalau gue menang beliin gue singa ya." Teriak Zee dari pohon satunya. Keduanya memang memanjat pohon yang berbeda.


"Gue beliin sama kebun binatangnya juga boleh kalau lo mampu ngalahin gue." Songong Davian.


Zee mencebik sambil beranjak ke dahan di sebelahnya,baru saja ia mau mengambil beberapa mangga yang tampak bergelantung lebat di hadapannya. Tatapan mata Zee tiba-tiba tertuju ke lorong mansion,lebih tepatnya lorong yang menghubungkan pintu belakang dan halaman gudang belakang.


Ada pemandangan menarik di sana, tampak Sassya dan Melissa yang datang mengendap-endap di lorong,keduanya tampak saling berbisik-bisik di balik pilar besar,di samping pintu masuk. Tampaknya mereka membicarkan hal serius,terlihat dari raut wajah Melissa yang seperti sedang mengawasi sesuatu.


Tanpa pikir panjang Zee langsung beranjak turun dari pohon tanpa memikirkan konsekuensi yang akan ia dapat nantinya.


"Dek mau kemana lo? Heh,turunnya hati-hati." Davian greget sendiri melihat Zee yang tampak ceroboh saat menuruni pohon.


"Gue kebelet buang air kecil." Teriak Zee saat sudah sampai di bawah.


"Gak dilanjutin,anggap aja lo menang."


Davian menghela napas kesal,sudah mati-matian manjat. Eh malah selesai gitu aja,kayak gak ada persaingan sedikitpun. Ia jadi merasa tidak puas dengan kemenangannya,tapi ya sudahlah mau bagaimana lagi.


Sementara Zee sudah berlari ke arah lorong mansion. Saat sudah berada di jarak beberapa meter dari tempat Sassya dan Melissa,barulah Zee memelankan langkahnya sembari mengendap-endap di antar pilar-pilar besar yang berjejer di sepanjang lorong.


Kini posisi Zee sudah berada tepat di belakang pilar  yang menghadap ke arah Melissa dan Sassya yang sedang berbincang serius.


"Gimana kamu udah masukin obat diare kadarwarsa yang mama kasih tadi ke minuman Zee?"


"Gampang ma,Sassya juga masukin sedikit ke minuman teman-temannya itu. Tapi di gelas Zee yang paling banyak,Sassya harap sih dia gak cuma sakit,tapi langsung meninggal kalau perlu.


"Baguslah,kamu suruh siapa buat antar minumannya?"

__ADS_1


"Bi Ana,tapi mama tenang aja, bi Ana gak tau kalau Sassya udah masukin sesuatu ke situ. Lagian nanti kalau mereka kenapa-napa yang di salahkan pasti bi Ana. Cctv di dapur kan udah gak berfungsi semuanya,kebetulan tadi juga pelayan masih pada di paviliun.


"Baguslah,mama gak sabar liat anak itu terkapar di rumah sakit."


Dua manusia licik itu tampak saling melempar senyum puas saat merasa berhasil melancarkan aksi. Sedangkan Zee sedang merutuki kebodohannya yang bisa-bisanya tidak membawa HP untuk merekam aksi mereka.


Namun Zee tak putus asa,ia masih berharap ada sesuatu di situ yang bisa ia jadikan bahan bukti jika di perlukan. Matanya memindai sekeliling lorong sampai ke atas, tatapannya tertuju pada lampu gantung yang berada tepat di atas mereka. Matanya memicing saat melihat ada kamera pengintai yang mirip buatan dark night di situ.


Ia jadi teringat ucapan Kaivan yang mengatakan sudah menghandle situasi rumahnya selama di rumah sakit. Ia yakin pasti Kaivan memasang kamera itu atas bantuan bi Surti. Zee tersenyum puas,kini ia hanya perlu mengambil rekaman cctv tersembunyi di dapur. Semua bukti itu akan ia pajang di hari yang tepat nantinya.


Di tengah menyusun rencana jahat di otaknya,Zee dikejutkan dengan Melissa dan Sassya yang mendadak berbalik hendak masuk ke dalam mansion. Refleks gadis itu beranjak ke pilar satunya lagi,untung gerakannya cepat.


Bersamaan dengan masuknya dua wanita licik itu ke dalam,bi Ana pun muncul dengan membawa nampan berisi lima gelas jus. Tanpa pikir panjang Zee berlari mendahului bi Ana dari belakang pilar,dan begitu bi Ana mendekat Zee langsung keluar dari persembunyian dan berlari kencang.


"Bruk...Prangg....."


"Auh..."


"NON!!!" Teriak bi Ana kencang, badannya gemetar saat melihat kedua kaki Zee yang mengenakan celana pendek mengeluatkan darah, begitupun dengan pelipisnya yang sempat tertimpa gelas karna Zee jatuh terduduk.


♡♡♡


"Bunyi apaan tuh di lorong?" Tanya Delice kaget.


"Iya kayak ada benda jatuh." Jawab Clara.


"Bukannya ada yang teriak barusan? Tadi gue denger ada yang manggil 'non' gitu." Jawab Agatha lagi.


Davian yang sedari tadi diam,mulai merasakan perasaan tidak enak. Ia melihat jam di tangannya menunjukkan pukul 7 pagi,dan Zee belum kembali. Tidak mungkinkan gadis itu sudah sarapan duluan,dan tidak mungkin juga papanya tidak memanggil mereka untuk sarapan bersama.


"Atau jangan-jangan",pikiran Davian sudah di penuhi prasangka negatif. Dengan langkah kencang Davian berlari ke arah lorong,membuat ketiga gadis yang berada di sebelahnya kaget dan refleks ikut berlari juga.


Sampai di depan lorong mata Davian membelalak saat melihat Zee terduduk di lantai sembari memejamkan mataya,raut wajahnya masih datar tapi Davian tahu adikknya sedang menahan sakit terlihat dari kerutan yang kadang muncul di sudut matanya. Di tambah lagi jidatnya berdarah.

__ADS_1


"APA-APAAN INI?"


__ADS_2