Story Of Azellea

Story Of Azellea
Ungkapan Isi Hati


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 20.00, ketika dokter yang menangani operasi Zee keluar dari ruangannya.


Semua di situ berdiri termasuk William yang tadinya mendonorkan darahnya untuk Zee.


"Bagaimana keadaan putri saya??" Tanya William to the point mendahului semua yang ada di situ.


Dokter tadi menatap segan pria paruh baya di depannya ini. Awalnya ia sempat kaget tadi saat pertama kali tahu jika pasien yang di rawatnya ternyata putri pengusaha terkenal di kotanya.


Dokter tersebut menghela napas pelan sambil menatap  semua yang ada di situ. Kemudian senyum kecil terbit di bibirnya.


"Pak William,operasi putri anda berjalan dengan lancar. Beruntungnya juga pasien ternyata tidak membutuhkan donor darah tambahan seperti perkiraan saya tadi. Ternyata darah dari tuan William tadi sudah cukup untuk operasi Azellea."


Semua yang ada di situ bernapas lega. Setidaknya  keadaan Zee tidak mengkhawatirkan lagi seperti tadi siang.


"Dok, kalau begitu apa adik saya sudah bisa di jenguk sekarang??" Tanya Davian tak sabaran.


Dokter bernametag Hasan tersebut mengangguk."Saat ini pasien sudah di pindahkan ke UGD,tapi saya sarankan jika ingin menjenguk satu persatu saja karna keadaan pasien belum sepenuhnya stabil. Di tambah lagi pasien belum sadarkan diri,mungkin 1 atau 2 jam lagi karna pengaruh obat bius tadi." Jelas dokter tersebut,seraya berlalu.


Semua di situ saling tatap seolah bertanya siapa yang mau menjenguk Zee terlebih dahulu. Sampai akhirnya Davian angkat suara.


"Papa gak mau liat kondisi Zee duluan?? Atau papa mau langsung pulang setelah ini??" Tanya Davian datar.


"Papa gak pulang malam ini. Papa tidur di sini,kalau kamu sama teman-teman kamu mau pulanh silahkan,lagian besok kalian harus kuliahkan??"


Davian tertegun mendengar ucapan papanya barusan. Ia hampir tidak percaya jika papanya yang terkenal tegas bisa berbicara seramah itu. Apa papanya sedang akting. Otak Davian mulai berpiran aneh.


"Papa serius??" Tanya Davian lagi.

__ADS_1


"Saya mau menunggu sampai Zee sadar. Jadi kamu dan teman-teman kamu pulang saja dulu,besok kalian juga harus kuliah. Sekalian juga besok kamu bawakan pakaian ganti untuk papa dan Zee." Ujar William.


Davian tampak terdiam sejenak,jauh di dalam hatinya ia tidak mau meninggalkan Zee di sini. Namun ada papanya,Davian juga tidak mau egois, lagian kesempatan langka bagi Zee dan papanya untuk punya waktu berdua saja seperti sekarang.


Akhirnya setelah berjuta pertimbangan, Davian dan teman-teman Zee yang lain kembali ke rumah masing, kecuali Davian yang memang memilih kembali ke apartemen yang kini menjadi rumahnya dan Zee.


♥♥♥


William masuk ke dalam kamar tempat Zee di rawat. Tampak Zee masih belum ssdar dengan selang infus terpasang di tangannya.


Perlahan William mendekat ke brankar tempat Zee berbaring,seraya duduk di kursi yang ada di sampingnya. Tangannya terulur mengusap pipi putri bungsunya yang sudah tiga belas tahun ini ia abaikan.


"Hei!! Gadis nakal,mau sampai kapan kamu tidur seperti ini. Kamu gak kasihan sama teman-teman kamu? Mereka khawatir sama kamu, termasuk saya."


William terkekeh kecil sambil menatap lekat wajah Zee. Air matanya tiba-tiba jatuh saat menyadari betapa miripnya wajah Zee dengan mendiang istri pertamanya dulu.


"Kamu tahu,papa gak bisa benci sama kamu kayak yang papa bilang. Asal kamu tahu,papa selalu menangis kalau sudah memarahi kamu. Kamu begitu mirip dengan mama mu,bagaimana mungkin papa bisa benci sama kamu,sedangkan papa mencintai mama kalian dan juga kalian berdua Davian. Kalian itu anugrah bagi kami."


William berbicara sendiri kemudia menggeleng pelan."Papa tahu kamu pasti gak mau maafin papa, buktinya kamu pergi ninggalin papa di rumah sendirian bersama bayang-bayang masa kecil kamu dan Davian saat mama kalian masih hidup. Kamu jahat Zee kamu menyiksa papa dengan bayangan wajah mamamu. Dan sekarang kamu dan Davian malah ninggalin papa, papa bukan papa yang baik ya? Papa sadar kok hehe." Ujar William dengan air mata berlinang namun bibirnya tersenyum.


"Hei!! Kamu gak mau bangun?? Gak mau buat onar lagi?? Kamu gak mau buat berulah lagi?? Ayo bangun dan buat ulah,bukannya dulu waktu SMP kamu pernah bilang kamu senang buat ulah biar papa sama Davian peduli??  Ya udah ayo bangun dan buat ulah sekarang,mumpung ada papa. Nanti papa bakalan jadi orang yang paling peduli buat kamu,kamu tahu papa bahkan sudah menyuruh anak buah papa untuk mengusir si Rio itu dari kota ini. Kamu senang gak??"


William terus saja berbicara seolah Zee bisa mendengar dan meresponnya. Namun tetap saja,Zee hanya diam tidak memberikan reaksi apapun. Sampai akhirnya William lelah sendiri kemudian tertidur dengan posisi kepala terlungkup di tepi brankat Zee,kedua tangannya ia jadikan sebagai alas untuk menyangga kepalanya.


Mata Zee perlahan terbuka setelah memastikan William benar-benar tidur. Ia bukan tak mendengar apa yang William katakan tadi, ia mendengar semuanya. Ia hanya pura-pura tidur tadi,ia ingin melihat apa yang di lakukan William padanya. Ia kira mungkin papanya akan membunuhnya di kondisi lemahnya ini,tapi ia membuang pikiran kotornya saat sadar jika William lah yang mendonorkan darah untuknya, dan lebih mengejutkan lagi William menyesal dan meminta maaf padanya  bagai mendapat oase di padang gurun perasaan kecewa Zee pada papanya malah menguap begitu saja faktanya rasa sayang dan rindu pada papanya mengalahkan ego dalam dirinya.


Zee menoleh ke arah nakas di sampingnya. Tenggorokannya terasa kering saat ini ,ia butuh minum. Tangannya berusaha  mengambil minuman di sebelah dengan susah payah karna leher dan bahunya serta kepalanya masih terasa nyeri.

__ADS_1


Kegiatan Zee barusan tentu saja mengusik  tidur papanya. William mendongakkan kepalanya saat menyadari pergerakan Zee.


"Kamu sudah sadar?? Mau minum??"


Zee hanya mengangguk pelan masih canggung untuk menatap wajah papanya. Bagaimana tidak sejak umur 5 tahun ia sudah dijauhi papanya wajar saja jika sekarang Zee canggung dengan papanya.


William mendekatkan gelas ke bibir Zee . "Kamu lapar?? Mau makan buah?? " Tanya William lagi setelah memberi minum pada Zee.


"Anda tidak pulang??" Tanya Zee enggan memanggil papa. Iya masih ingat ucapan papanya beberapa hari yang lalu,ketika William mengatakan jika dia bukan bagian keluarga mereka lagi.


William sempat tertegun sebentar.


"Gak,kalau papa pulang siapa yang jagain kamu malam ini??"


"Saya bisa sendiri,terimakasih atas bantuannya. Bapak bisa sebutkan berapa nominal yang bapak mau, saya langsung transfer sekarang." Ucap Zee dingin. Faktanya hatinya masih takut untuk memaafkan William,ia takut nantinya William kembali seperti dulu. Jadi ia mau menguji William terlebih dahulu sama seperti Davian saat itu.


"Zee!!" Mata William tampak berkaca-kaca lagi. " Sebenci itu kamu sama papa?? Apa gak ada sedikitpun ruang maaf buat papa,sedikit aja Zee. Papa janji papa akan berubah,papa akan adil kayak dulu lagi. Papa minta maaf,selama ini sifat papa jahat sama kamu. Papa harus gimana biar bisa dapat maaf dari kamu?? Apa perlu papa ulang kembali ke masa lalu buat menuhin impian kamu??"


"Kalau seandainya bisa,Zee mungkin mau. Tapi Anda harusnya sadar, sekarang sudah terlambat. Apa yang mau anda tebus?? Anda mau mulai dari mana lagi?? Mau menemani saya bermain?? Saya udah gede,udah gak butuh main lagi. Anda mau mengantarkan saya ke sekolah?? Mau ambil rapot semester saya?? Mau nemenin saya liburan?? Sayangnya saya juga udah gak butuh,13 tahun sudah saya menjalani semuanya sendiri. Lalu sekarang anda kembali mau menebus semuanya,mau memperbaiki semuanya?? Bagian mana lagi yang anda mau perbaiki?? Semuanya sudah rusak,ibaratkan pecahan kaca andaikan masih bisa anda rekatkan tetap saja bentuknya sudah tidak lagi sama dan jika tersentuh goresan lagi sedikit saja maka rekatan itu akan kembali hancur dan semuanya sia-sia."


"Zee...." Ujar William lemah.


Zee hanya memberikan tatapan dinginnya."Apa anda pikir dengan darah yang ada beri saat ini sudah cukup untuk mengganti perlakuan buruk yang saya dapat selama ini?? Anda tidak tahu bagaimana irinya saya saat anda bermain dengan anak-anak anda namun tidak ada saya di situ. Saya hanya menonton dari balik tembok,mau menghampiri pun saya tidak mampu. Saya tinggal dekat dengan anda,tapi saya tidak bisa menyentuh anda. Kehidupan kita dulu memang sudah seperti pecahan kaca yang di simpan di wadah yang sama. Mereka memang bersama tapi tidak bersatu. Anda mau menyatukannya pun percuma karna pecahan itu bisa saja melukai anda."


"Tapi masih ada waktu Zee,kamu bisa pulang ke rumah sama Davian. Kita mulai lembaran baru bersama mama kamu dan Sassya. Kita pasti akan jadi keluarga bahagia ,kamu juga belajar menerima Melissa dan Sassya seperti keluarga kamu sendiri. Kalian memang tidak terikat darah,tapi mereka juga sudah menjadi bagian keluarga kita. Bukannya kamu pengen punya mama?? Kamu kangen mama kan??"


Zee menggeleng,papanya masih belum sepenuhnya berubah." Zee udah gak butuh mama,lagian kalian sendiri yang bilang Zee pembunuh. Ngapain dekat-dekat?? Kalian gak takut Zee bunuh juga,Zee kan pembawa sial!!"

__ADS_1


"Besok Zee saranin papa balik aja,kalau mau bikin Zee tambah benci sama papa. Sekarang Zee capek,Zee mau istirahat. Terimakasih untuk waktu dan darah papa,maaf merepotkan." Ucap Zee tegas,kemudian membalikkan badannya membelakangi William.


William masih termanggu di tempatnya namun sedikit senang karna Zee kembali memanggilnya papa.


__ADS_2