
Sebelum lanjut author mau minta maaf ya,otor kemarin gak up beberapa hari karna kita di sini lagi ada musibah banjir,terus ada pemadaman listrik dan jaringan 5 hari kemarin jadi baru bisa on sekarang. Gitu doang sih skipp ke ceritalah wkwk😁
♥♥♥
"Bro kaki sama siku lo yakin gak kenapa-napa? Kalau gak diobatin bisa infeksi ntar?" Ujar Satria khawatir.
"Santailah luka kecil doang ini." Jawab Farrel sambil tersenyum kecil. Ia mengingat reaksi lucu Zee saat menabraknya tadi.
"Sat,gue butuh bantuan lo kali ini. Lo mau kan?" Pertanyaan Farrel yang diiringin senyuman membuat Satria mengernyit,jarang sekali orang itu bersikap hangat seperti sekarang.
"Lo kesambet? Dari tadi muka lo cerah banget?"
"Gue mau lo cari tahu identitas cewek yang tadi nabrak gue. Kalau gue gak salah dengar salah abang-abangnya dia tadi manggil dia Zee,gue mau info tentang dia secepatnya. Lo bisa kan?" Tanya Farrel dengan sedikit memaksa.
"Lo aneh deh,lo mau minta dia tanggung jawab. Bukannya tadi dia udah mau tanggung jawab tapi lo gak mau,gimana sih lo?" Satria tidak habis pikir dengan pemikiran sahabatnya ini.
"Udah deh,bantuin aja kenapa? Lo gak senang liat gue senang?" Kesal Farrel.
"Ya udahlah,lo tunggu sampe ntar malam. Gue usahain infonya udah dapat nanti malam." Jawab Satria yakin.
"Akhirnya semenjak 2 tahun kepergian nyokap lo dan papa lo nikah lagi. Gue bisa liat lo senyum lagi Rel. Kalau emang penyebabnya cewek tadi. Gue bakalan dukung dan bantu lo buat dapetin dia. Sebagai sahabat gue pasti bakal senang kalau lo bahagia." ~batin Satria sambil menatap Farrel yang masih setia memasang wajah hangatnya.
Sedikit info tambahan guys:
Namanya Farrel Wijaya,usianya sembilan belas tahun. Dulu saat ia berusia 17 tahun lebih tepatnya ketika ia kelas 3 SMA ia dan mamanya kecelakaan dan itu penyebab mamanya meninggal. Sejak saat itu sikap Farrel jadi dingin sampai ia bertemu Zee hari ini.
"Kuylah balik Sat,gue mau nyiapin berkas-berkas dari kampus. Kita pindah kampus besok." Ujar Farrel semangat membuat Satria melongo heran.
"Kerasukan setan mana lagi sih ni bule satu."~ geram Satria dalam hati. Andaikan Farrel bukan sahabatnya dari kecil. Sudah ia tenggelamkan ke segitiga bermuda.
__ADS_1
"Seriusan lo? Pindah kampus ke Jakarta? Emang lo yakin kalau dia kuliah? Badan dia kecil gitu,kayak masih anak SMA umur 16 tahu." Ujar Satria ragu.
"Gue gak pedulilah mau di SMA kek SMP kek,yang penting gue satu wilayah sama dia. Sama-sama di Jakarta,jadikan gampang kalau mau nyari tahu tentang dia." Jawab Farrel santai.
"Lagian kalau ternyata dia nanti kuliah gimana,bukannya lebih bagus kan?" Ucap Farrel lagi,dengan nada lebih antusias. Satria hanya bisa mengangguk pasrah. Toh pun dia di sini tidak tinggal dengan orangtuanya, orangtuanya di luar negeri jadi Satria di sini bebas mau melakukan apapun tanpa pengawasan mereka. Begitupun dengan Farrel,orangtuanya di luar negeri ia di sini sendiri mengurus cafe milikknya beserta tempat latihan skateboard tadi juga miliknya. Nantinya paling akan ia titipkan pada manajernya.
"Ya udahlah gue juga balik ke rumah dulu deh. Ntar malam gue ke rumah lo sekalian ngasih info tentang cewek tadi." Jawab Satria akhirnya.
***
Sementara lain tempat,Zee,Davian,dan Arkhan saat ini pun sudah berada dalam perjalanan ke Jakarta. Ke tiganya berjalan berurutan dengan kendaraan masing-masing karna kemarin mereka berangkat ke sini dalam keaadan terpisah.
Posisi mobil Zee yang di tengah membuat Zee greget. Karna Davian di depannya membawa mobil dengan kecepatan rata-rata. Ingin rasanya Zee menyalip kendaraan abangnya tapi apa daya nyalinya ciut jika nanti abangnya itu malah mengomelinya. Di tambah lagi ada Arkhan yang mengawasinya dari belakang. Membuat Zee merasa seperti buronan.
"Bang Vian bisa lebih cepat gak sih?" Tanya Zee melalui earphone yang terhubung ke HP Davian.
"Lo gak liat jalanan depan rame banget. Gue gak mau mati muda ya Zee!!" Jawab Davian kesal.
Arkhan yang ikut mendengar perdebatan adik kakak itu melalui sambungan earphone milikknya hanya bisa menghela napas.
"Lagian lo ngebut-ngebut buat apa sih Zee? Ngejar akhirat? Yang beneran ajalah. Gue belum ngumpulin duit buat ngelamar lo,gak usah nyari mati duluan deh . Gue gak ngizinin." Ujar Arkhan ikut menimbrung membuat Zee tersedak udara,sedangkan Davian terdengar mendehem.
"Balikin Salma gue dulu,baru lo bisa halalin adek gue. Lagian lo harus dapet restu dari gue dan bokap buat bisa dapetin Zee." Kini giliran Davian yang menyahut.
"Gimana sih lo berdua kok malah bahas nikah-nikahan. Kuliah aja gue baru semester tiga udah mau di ajak married,gimana masa depan gue ntar." Sahut Zee merajuk.
"Dih ternyata beneran mau di lamar lo? Tenang ajalah kalau gitu,gue ngelamar lo tunggu lo udah selesai kuliah. Setelah itu gue janji deh baws bonyok beserta saudara-saudara gue ke rumah lo." Ujar Arkhan serius.
"Ngapai lo bawa semua anggota keluarga lo kerumah gue?"~Davian.
__ADS_1
"Nagih utang Vian,ya NGELAMAR ZEE Lah bego. Emang dari tadi ngebahas apa sih?!!" Kesal Arkhan karna Davian malah mengajak bercanda di saat dirinya mode serius.
"Ingat ya,gue calon abang ipar lo. Lo ngomong kasar ke gue,udah gue catat di daftar hitam calon adik ipar. Bisa di diskualifikasi lo ntar." Gurau Davian.
"Terserah lo berdua deh ya. Urusin tuh urusan lamaran,gue cuma pengen cepat nyampe rumah. Gerah gue lama-lama di mobil." Ujar Zee sambil memacu kendaraannya lebih laju. Karna jalanan yang mereka lewati cukup sepi. Maklum sudah memasuki kawasan perumahan warga.
"Kita ke rumah gue dulu oiiii!! Gue mau nemuin lo sama Delice,gue udah janji tadi. Agatha sama Clara juga udah nunggu di sana." Ujar Arkhan namun tidak terdengar sahutan dari Zee ataupun Davian. Keduanya sudah mematikan telpon membuat Arkhan geram.
Alhasil ia memilih berbelok ke arah rumahnya saja. Lagian besok mereka bakalan ketemu di kampus,jadi tidak masalahkan jika Arkhan tidak membawa Zee sekarang. Begitu pikirnya.
~♥♥♥~
"Semuanya.....Arkhan pulang!!!" Teriak Arkhan sambil masuk ke dalam rumah.
"Bang Arkhan....gimana Zee?? Udah ketemukan?? Lo bawa ke sinikan??" tanya Delice beruntun sambil menuruni tangga lantai dua.
"Udah dek,tapi orangnya gak mau di bawa ke sini. Lagian besokkan lo sama dia ketemu di kampus,atau gak lo WA ajalah. Tapi jangan sekarang deh ,kasian dia capek belum lagi dia pindah ke apartemen Davian malam ini jadi sibuk kayaknya." Jawab Arkhan sambil berlalu ke kamarnya. Jujur saja badannya pun butuh istirahat saat ini.
"Ohh,ya udah deh." Jawab Delice lemas sambil berbalik ke kamarnya.
~♥♥♥~
Sedangkan di dalam kamar,Clara dan Agatha sudah menunggu info dari Delice. Langsung menyerbu saat melihat Delice kembali dengan wajah lesu.
"Zee belum ketemu ya Lis?" Tebak Clara dengan nada kecewa.
"Abang lo gak berhasil nemuin keberadaan Zee. Atau Zee emang gak mau balik ke sini??" Tanya Agatha ikut menebak.
Delice menarik napas pelan sebelum menjawab pertanyaan kedua sahabatnya itu."Zee udah ketemu kok guys. Tapi malam ini dia sama bang Vian mutusin buat keluar dari rumah dan tinggal di apartemen bang Vian. Jadi kemungkinan bakalan sibuk juga. Tadi bang Arkhan juga nyaranin buat nemuin Zee besok aja sekalian di kampus." Jelas Delice membuat kedua sahabatnya menghela napas lega. Setidaknya Zee saat ini sudah kembali ke Jakarta dan ada bersama Davian abangnya sendiri.
__ADS_1
♥♥♥